Monday, 29 July 2013

Satu


          L
agu “pejantan tangguh” berdendang keras dikamar Rizal. Lagu pop nge-beat yang dinyanyikan oleh group band sheila on 7 ini hampir setiap hari terdengar. Emang sih,lagu ini lagi inn alias populer. Terang aja kalo siRizal dengan PDnya ngemuter lagu ini sebulan nonstop tanpa ada celaan dari sang kakak.
“Rizal…cepetan! Papa sudah nunggu tuh dari tadi.” Teriakan nyaring dari mama ini juga setiap hari terdengar, sainganlah sama sheila on 7. Mama Rizal adalah orang yang paling sayang sama Rizal. Maklumlah, Rizalkan anak cowok satu-satunya. Jadi sang Mama over protectif banget ama Rizal, dan ini ngebuat Rizal kurang nyaman. “Iya neh,dasar lamban! Ngaca aja dibelain…buat orang susah aja.” Gerutuan kakak Rizal inipun terdengar sepanjang waktu, selain bikin kuping gatel ocehan ini juga berkhasiat membuat Rizal sengaja memperlambat geraknya, biar sang kakak tambah geram. Rizal mengenakan sepatu hitamnya dengan terburu-buru. Kemudian ia menuju meja makan dan memasukkan kotak kecil berwarna biru kedalam tasnya. Setelah mencium tangan sang Mama tercinta, ia menyambar sepotong roti isi dan langsung nyelonong ke garasi.
“Eh…monyet emang kamu kuat, sarapan cuma makan roti satu doang? Tuh Ma suruh dia makan yang banyak biar nggak kurus kayak sapu lidi gitu!” Lagi-lagi kakak Rizal mencela adiknya yang tak tahu apa-apa itu. Dengan senyum tak tentu Rizal memandang kakaknya dan menunjuk-nunjuk tas ransel birunya.”Hih…udah kelas 1 SMA masih bawa bekal. Cape deh!” bisik sang kakak rada sewot.


Rizal bersekolah disalah satu SMA favorit diSemarang. Memang sih, remaja berbadan kutilang dara (kurus,tinggi,langsing,dada rata) ini baru kelas 1 SMA. Jadi masih culun, katro, and nggak tau apa-apa. Disamping itu ia juga mempunyai 3 sahabat karib yang bisa dibanggain. Setidak-tidaknya nggak malu-maluin kayak siRizal.
Setibanya Rizal dikelasnya tercinta, ia langsung disambut hangat oleh teman-temannya. “Eh Zal, Lo udah ngerjain PR biologi?” Tanya Sofi yang waktu itu menjabat sebagai teman sebangku Rizal. “Jangan sallah…neh gue pinjemin dengan lapang dada.” Rizalpun membuka tasnya dan mencari-cari keberadaan buku tugas biologinya.
“Lama bener Zal? udah mau masuk neh..!” Suara Sofi semakin membuat Rizal panik. Tangan kurus Rizal semakin cepat menggeledah isi dari tas birunya. Namun,,,keberuntungan tidak berpihak kepada Rizal. Dengan mata nanar ia memandang Sofi, Sofi yang berasa anehpun mulai mendramatisir keadaan. “Zal, apa gerangan yang terjadi? Mengapa matamu nanar begitu?”
“Sof,buku tugasku ketinggalan…padahal 5 menit lagi masuk. Mana ini untuk pelajaran pertama lagi!” Rizalpun terduduk lemas dikursinya. Sedangkan Sofi ikut-ikutan panik dan mencari contekan lain dengan segera.
Bel sekolah berbunyi, dengan ketukan 4/4 dan intonasi nada yang tepat bel sekolah ini mirip banget sama sirine mobil polisi atau tepatnya kamtib. Gengsi juga kalo sekolah lain sampe tahu alunan bel aneh ini, dikirain sekolah Rizal sarang PSK lagi. Kini Rizal terduduk pasrah dikursinya. Ia memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Sedangkan ke-3 sobat kentelnya yang semuanya duduk dideretan paling depan sudah siap dengan tugasnya. Maklumlah, mereka adalah anak-anak pinter yang rajinnya minta ampyun.
Sang guru yang ditunggu-tunggu datang juga. Guru wanita berbadan langsing ini mengenakan setelan batik ungu. Katanya seh band kesayangannya ‘Band Ungu’ jadi semua barang-barangnya berwarna ungu, penting gak seh. Guru killer yang suka ngiler ini emang sih belon tua-tua amat. Rambutnya keriting dan bentuk kacamatanya sedikit aneh. Bentuknya kayak bulan sabit. Sepanjang catatan sejarah, baru Rizal dan ke-3 sahabat karibnyalah yang pernah dapet nilai A dari guru ini. Tapi kali ini Rizal sanksi kalo dia bakal diampuni.
Selesai berdoa sang guru langsung buka jurnal pribadinya, karena dari situ ia tahu sampai mana ia mengajar. Perasaan siRizal semakin nggak karuan aja ketika penyihir biologi ini menutup buku jurnalnya dan membuka buku biologi hijaunya. 1 menit…2 menit…4 menit…8 menit…akhirnya sekarang siRizal bisa bernafas lega. Pasalnya siguru pelupa ini malah nerangin tentang protozoa…alhamdulillah. Tiba-tiba dari bangku depan si Yanuar mengancungkan jari telunjuknya. Si Rizal jadi berperasaan buruk karena Yanuar adalah salah satu sahabatnya. Rizal khawatir kalo………”Bu,kita punya tugas tentang insecta minggu lalu.” siRizalpun langsung pucat. Sofi yang mengetahui hal itu langsung menepuk-nepuk bahu Rizal dengan penuh rasa iba. “Sudahlah Rizal, ini semua sudah suratan takdir. Sebaiknya kau mengambil hikmah dari semua ini.” Tutur Sofi menenangkan. Nasi sudah menjadi bubur, sang guru killerpun menutup buku hijaunya dan menyuruh semua siswa untuk mengeluarkan tugasnya. “Dan bagi yang belum mengerjakan silahkan ke-BK sekarang!” Si Rizal tahu, nggak ada gunanya kalo dia bilang bukunya ketinggalan. Akhirnya. dengan segala kerendahan hati siRizal langsung ngloyor keluar kelas tanpa bilang apa-apa. Semua siswa dikelas itupun kaget setengah mati, siRizal gitu loh. Salah satu siswa menonjol yang dibanggain sama guru bahasa indonesia, inggris, jepang, jawa dan tata boga. Alhasil,suasana kelas langsung hening dan seakan berubah menjadi kolam buaya. Gimana nggak, semua siswa sibuk nganga menyaksikan kejadian luar biasa ini.
Dengan langkah diperlambat siRizal berjalan melalui lorong sekolah. Disepanjang lorong, remaja kutu buku ini sibuk nutupin mukanya. Memang sih dia bukannya lagi dishooting wartawan berita. Tapi, gengsi juga kalo sampe orang-orang yang kenal dia tau kalo dia nggak ikut pelajaran gara-gara dikeluarin dari kelas. Akhirnya dia mempercepat langkahnya sampe kayak maling yang dikejar-kejar hansip. Sampai didepan UKS Rizal berhenti sejenak untuk mengatur nafas. Sekarang ia tinggal menaiki tangga agar bisa sampai kekantor BK. Rizal pernah mendengar pengalaman siDila, cewek tomboy temen sekelasnya yang pernah kabur dari hukuman BK. Tapi Rizal agak takut kalo masalahnya jadi tambah ruwet sama Ibu biologi itu.
Sesampainya didepan ruang BK, siRizal langsung keheranan. Puluhan siswa ada disana, pake baris lagi kayak antri tiket aja. Emang sih Rizal yang dikenal sebagai siswa teladan nggak pernah berurusan sama BK apalagi kena hukumannya.
Agak kebawa suasana, siRizal jadi ikut-ikutan ngantri. Tak jarang dia ketemu kenalannya dan ngobrol-ngobrol sebentar. Alhasil, ruang BK ini persis kayak stasiun kereta waktu mudik. Untung aja siJoko sang siswa terulet satu SMA nggak dagangan hari ini. Soalnya diwaktu senggangnya  siJoko suka jualan gitu, dari berlagak kayak salesman sampai dagang asongan pernah ia lakukan semua, yang penting barang-barangnya bisa laku.
Tiba giliran Rizal sampai didepan hidung Bu Dewi, guru BK yang kata anak-anak galaknya kayak tukang jagal. Rizal ngambil secarik kertas yang diletakkan diatas meja kerja Bu Dewi. Dengan tangan gemetar Rizal mengisi kertas itu. Coretan demi coretan hingga tulisan Rizal bisa dibaca, yaaa walaupun nggak karuan. “Setelah itu minta tanda tangan kepala sekolah ya!” Ujar Bu Dewi dengan suara lantang. Jemari Rizal semakin kaku, untung aja dia udah selesai nulis. “Hah…emang harus ya Bu?” Bibir Rizal agak gemetar saat mengucapkan kalimat pendek ini. “ Iya, soalnya ini perintah dari guru biologimu itu sendiri, Bu Mur.” kata-kata Bu Dewi inipun mambuat lidah Rizal menjadi kaku. Untung aja jantungnya Rizal nggak ikut-ikutan kaku, kalo sampe kejadian berabe deh.


Helaan nafas panjang terdengar disepanjang jalan. Rizal tidak bisa berbuat apa-apa, ini memang hari sial baginya. Dengan bibir agak manyun, si Rizal melewati taman sekolah menuju ruang kepala sekolah yang lumayan jauh. Sesekali ia berhenti dan mengamati kertas buram yang ada ditangan kanannya. Baru kali ini ia mendapat hukuman, nggak ngira-ngira lagi. Masa sampai ketingkat kepala sekolah, memang suka berlebihan deh. Rizal masih nggak rela kalo buku pelanggarannya yang selama ini bersih tanpa noda harus tercemar gara-gara kelalaiannya. Bisa hilang citra Rizal dimata dunia.
Setelah ia sampai didepan ruang kepsek, ia langsung mengetuk pintu ruangan itu 3 kali. Setidaknya itulah yang diajarkan mamanya. Suara serak siKepsek yang kedengeran tua mempersilahkannya masuk. Walaupun agak tegang Rizal nekat aja masuk kedalam ruangan ber-AC itu.
Didalam ruangan itu sang kepsek yang udah tua ini menyuruh Rizal untuk duduk. Si Rizalpun mengambil posisi dikursi merah yang terletak tepat didepan meja Pak kepsek. Sesaat Rizal menunggu dengan perasaan campur aduk. Setelah Pak kepsek selesai dengan berkas-berkasnya, Iapun mengalihkan perhatian pada siswa dihadapannya. ”Ada apa nak?” tanya sang kepsek sambil menebarkan senyumnya. Rizalpun bungkam sesaat. Kertas buram yang sedari tadi ada ditangannyapun diserahkan pada orang tua itu. “Apa ini?” tangan keriput sang kepsek langsung menyambar kertas point yang disodorkan kepadanya. “Heah…aku sudah malas berurusan dengan guru biologimu itu.” Gerutu siKepsek bikin Rizal kaget. “Memang aku tidak punya pekerjaan lain apa, selain mengurusi murid malas sepertimu.” Oceh Bapak tua ini tiada henti. ”Pak..saya ini tidak semalas seperti yang Bapak kira. Buku tugas saya ketinggalan, itu saja. Lagian kalo bukan karena disuruh BK saya nggak bakalan datang kesini.” mendengar dirinya dihina siRizal nggak mau tinggal diam.
Ketika ujung pena siKepsek udah siap nandatanganin tuh kertas, tiba-tiba sang wakasek (wakil kepala sekolah) bagian kesiswaan masuk tanpa permisi. Bapak yang saingan tua sama siKepsek itu berbadan pendek dan botak, mirip banget sama almarhum Ateng. Tak lama setelah Bapak wakasek ini masuk, seorang anak muda seumuran Rizal juga ikut-ikutan masuk. Dengan tanggap Rizal pindah duduk ke kursi tamu yang lebih empuk. Selagi pejabat-pejabat sekolah itu asyik ngobrol, sianak muda tadi ikut-ikutan duduk dikursi tamu. Rizal sempat memandang cowok putih itu, dia yakin anak ini pasti anak pindahan. Ngerasa dirinya diperhatikan, cowok itu langsung membalas tatapan Rizal dengan dingin. Rizalpun langsung kebingungan mengalihkan pandangannya, sampe-sampe dia berlagak ngajak ngomong cicak didinding.
“Rizal Sugiono..kelas XB.” Seru Pak kepsek ngagetin Rizal. “Saya punya tawaran untukmu.” Lanjut sang kepsek bikin Rizal kebingungan. ”Saya bisa manghapuskan hukuman atas kelalaianmu……asalkan kau mau menjaga anak muda disampingmu dari gangguan anak-anak sekolah ini.” Rizal celingukan nggak ngerti. ”Tapi Pak, saya ini bukan anggota tim SWAT. Mana bisa saya ngejagain dia…” Ujar Rizal menolak. ”Jadi kamu lebih memilih kena point daripada menjaga dia. Baiklah-baiklah…” sang kepala sekolahpun mengambil penanya dan…. ”Pak…iya deh saya terima tawaran Bapak. Lagian apa pentingnya sih njagain dia. Emang dia anak presiden?” Rizal memandang sejenak kewajah dingin pemuda disampingnya. ”Kau tak usah banyak bertanya. Tugasmu hanya satu, yaitu menjaganya dengan baik. Kalo sampai ada masalah, buku pelanggaranmu taruhannya.”

Dengan langkah dipertegas Rizal keluar dari ruangan Pak kepala. Wajahnya terlihat sangat masam dan ia sesekali melirik kearah anak baru itu. “Enak ya Lo, anak pejabat sih. Gue deh yang jadi korban.” Keluh Rizal rada sewot. “Ya udah, gue balik aja ke kantor kepsek!” Ujar si anak baru ngancem. “Iya deh gue kalah. Sekarang lo mau gue anter kemana?” Si anak baru malah tersenyum puas dan menyebutkan satu kata. “Kantin.” Rizalpun mengantarkannya menuju kantin dengan sedikit terpaksa.
“Yang itu gedung apa?” Tanya sianak baru tiba-tiba ketika mereka melewati taman sekolah. “Yang sebelah kanan itu gedung kelas XII kalo yang sebelah kiri gedung kelas XI. Kayaknya minggu ini lo jangan main kesono dulu deh, bisa mampus lo dikerjain mereka.” Si anak baru cuma ngangguk tanda mengerti. “Ngomong-ngomong nama lo siapa? Kitakan belon kenalan.” Tanya si Rizal iseng. “Penting??” tungkas si anak baru singkat.
“Ya iya dong, lo mau gue panggil ‘Heh’ ato ‘anak pejabat’. Nggakkan pastinya?”
“Ya udah, cerewet banget sih lo kayak cewek aja.”
“Biar aja gue cerewet, daripada lo kagak pernah ngomong. Ntar dikira bisu lagi.”
“Gue Adam, panggil aja Add……”
“Nggak ah, gue pengen manggil Dam. Ato mungkin Adem…ato…”
“Enak aja lo ganti-ganti nama orang. Bosen hidup lo?”
“Yee..gitu aja ngambek! Guekan cuma becanda. Kita lewat lapangan basket aja ya?”
“Terserah lo deh, yang penting gue bisa sampe ke kantin.”
Sejauh ini percakapan Rizal dan Adam biasa-biasa aja. Adam yang keren dan dingin nggak biasa ngeladenin orang yang cerewetnya kayak Rizal. Rizalpun gitu, biasanya dia becanda-canda ama temen-temennya ampe ngakak-ngakak nggak karuan. Tapi sekarang, mau ngomong gini kek gitu kek, siAdam mana mau ngikut ngebanyol. “Jadi ini kantinnya? Nggak ada istimewanya ya!” Ujar Adam ketika sampai dikantin sekolah yang lumayan besar. “Untung aja kita punya kantin, kalo nggak, bisa mati kelaperan lo!” Adam hanya berdesis kesal dan berjalan menuju warung bakso dipojokan.
“Lo nggak makan sekalian?” Tanya Adam sok nawar-nawarin. “Nggak ah, gue masih kenyang. Lagian di tas gue masih ada sekotak roti noh.” Adam tersentak kaget dan alhasil dia batuk-batuk keselek pentol bakso. “Dam, biasa aja napa? Berlebihan banget! Lagian nggak ada larangan bawa makanan ke sekolahkan?”
“Uhuk…Uhuk…gila lo, hari gini lo masih bawa makanan kesekolah. Bisa ilfeel kalo ada cewek yang sampe tahu hal itu.”
“Emang gue pikirin. Lagian gue nggak ada planing untuk nyari pacar kok. So, gue nggak butuh jaim-jaiman.”
“Untung aja gue nggak mati gara-gara denger masalah bekal lo tadi.”
“Mati? Nggak usah berlebihanlah…tapi lucu juga kalo ada orang mati gara-gara keselek pentolan bakso. Bisa jadi headline disurat kabar tuh.”
“Seneng ya lo kalo sampe gue mampus.”
“Ya iya dong, jadinya gue nggak perlu repot-repot jadi bodyguard lo.”

Bel pergantian pelajaran berbunyi. Dengan irama mirip sirine, bel ini bisa dibilang nggak ngebanggain sama sekali. Rizal buru-buru menuju kelasnya dengan Adam dibelakangnya. Sesampainya mereka dikelas XB, teriakan riuh rendah langsung menyambut mereka. “Norak banget sih temen-temen lo!” bisik Adam kurang nyaman. “Gue juga heran, apa mereka baru nyadarin ya kalo sebenarnya gue ini ganteng.”
“Siapa tuh Zal? Kenalin kekita-kita dong.” Seru gerombolan cewek centil sok kePDan. “Tuh, kamu duduk dikursi paling belakang noh ama Puput.” Seru Rizal sembari menunjuk bangku Puput. “Nggak ada bangku lain apa? Masa gue duduk ama cewek!”
“Ya udah ntar bisa diatur, yang penting lo bisa duduk dulu.”

Guru matematika yang berbadan tinggi besar tiba-tiba masuk kedalam ruang kelas itu dan memukul papan tulis keras-keras. “Diam…diam, kok kalian berisik sekali. Ada apa sih?” Tanya sang guru rada membentak. “Ada anak baru pak” “Dia nyelonong aja tuh pak nggak pake kenalan segala.” “Iya nggak sopan deh!” Seru sejumlah anak bersaut-sautan kayak lomba kicau burung. “Baiklah, sekarang semuanya diam!” Sontak semua anak diem seribu bahasa, ada yang reflek mendekap mulut temannya lagi, aneh. “Ya, sekarang silahkan anak baru maju kedepan dan perkenalkan dirimu pada teman-temanmu.” Semua pandangan langsung tertuju pada Adam, alhasil Adam nggak bisa mengelak. Sesaat Adam sempet memandang Rizal seakan minta bantuan, tapi si Rizal malah buang muka dan pura-pura nggak tahu.

No comments:

Post a Comment