Showing posts with label novel. Show all posts
Showing posts with label novel. Show all posts

Monday, 21 October 2013

Lima

Rizal membasuh mukanya dan mengeringkannya dengan sepotong handuk kecil. Dengan cepat Ia mengenakan setelan baju basket biru muda. Jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan angka 6 kurang seperempat. Padahal Rizal janjian ama Sofi bakal ke Mugas jam 6, bisa pecah perang dunia ke-3 nih kalo sampe Rizal telat. Dengan kecepetan penuh Rizal mengendarai Mio merah yang dipinjem secara paksa dari kakaknya. Mana pake jambak-jambakan dulu lagi, demi mencari jati diri…why not?
Udara pagi Semarang yang dingin menerpa badan kurus Rizal. Rizal mempercepat laju motor jetmatic kakaknya hingga kecepatan 80 Km/jam. Kurang dari 15 menit Rizal sampai di depan rumah Sofi yang dicat pink. Saat itu siSofi tengah duduk bersandar di kursi teras dengan mata setengah tertutup. TIN..TIN.. Rizal membunyikan klakson motornya untuk menyadarkan Sofi. Dengan tanggap Sofi meraih vas bunga di sampingnya dan langsung berteriak kencang, “Maling..maling..ada maling..”. Kontan Rizal tertawa terbahak-bahak melihat ulah sobatnya yang ajaib itu.
“Eh kunyuk, Lo kok bisa telat sih?” Tanya Sofi yang duduk di belakang Rizal. “Ya…abis semalem Gue sulit tidur sih! Jadinya kesiangan deh! Motor ini aja Gue pinjem paksa dari kakak Gue.” Jelas Rizal sambil terus memacu Mio merahnya. “Makanya Lo jangan kebanyakan mikirin Gue. Gue nyadar kok kalo Gue itu wanita idaman pria, tapi nggak usah segitunya kali…!” Kali ini Rizal memilih diam dan membiarkan Sofi nyerocos sesuka hati. “Fi…Lo tahu nggak Mugas itu dimana? Sebelah mananya bandara?” Potong Rizal dengan wajah cupu ples nggak bersalah. Sofi menelan air liurnya sebanyak mungkin biar nggak shock ngedenger pertanyaan Rizal yang begitu ekstrem. “RIZAAALL…MUGAS ITU JAAAUUH DARI BANDARA DONG-DONG!” Teriakan sopran Sofi menarik perhatian pengendara lain, sampe-sampe mereka geleng-geleng ngeliat tingkah 2 remaja ini.
Mugas adalah sebuah gelanggang olahraga yang sebenernya sih nggak jauh-jauh amat dari sekolah Rizal. Sesampainya di Mugas Rizal langsung melakukan beberapa gerakan pemanasan. Yah biar keliatan kayak atlet profesional aja. Sofi menghampiri Rizal yang asyik mengangkat kaki kanan nya ke atas. “Pertama Lo muter lapangan ini dua kali. Abis itu Lo gabung sama mas-mas ganteng yang disana buat main basket. Oke?” ujar Sofi sambil mengacungkan sebatang dahan pohon ke arah lapangan basket.
“Gue? nah Lo apa kabar?” Rizal sedikit heran mendengar perintah janggal itu. “Gue yang udah semlohai ini cukup olahraga ringan aja, karena gue parno kehilangan satu kilogram berat badan gue.” Setengah merinding mendengar alasan Sofi, Rizal memutuskan untuk memulai lari paginya. Biarlah sampe tiga atau empat kali putaran sekaligus. Itu lebih bagus daripada harus mendengar ocehan narsis teman sebangkunya itu.
Rizal menyelesaikan putaran keduanya dengan sedikit menggerutu. Bagaimana tidak, Sofi bukannya ikut berlari malah asyik menjajal segala macam jajanan di pinggir lapangan. Yah walau sesekali dia tersenyum manis pada mas-mas tampan yang lewat juga. Tapi menurut Rizal itu annoying banget. “Sof, minum dong.” Pinta Rizal ketus ketika ia sampai di depan Sofi. “Galak bener kayak tukang parkir nggak dibayar aja, nih.” Sofi menyodorkan sebotol air mineral ke hidung Rizal. Kemudian ia kembali melahap sebungkus cireng ditangannya.
“Next Lo latian basket gih sama mas-mas disana.” Sofi menyamber botol minuman yang masih dinikmati Rizal. ‘Glek’ ‘Glek’ Rizal hanya bisa pasrah melihat Sofi menghabiskan sisa air dibotol itu. “Malah ngelamun. Ayo!” Desak Sofi sembari mengacungkan dahan pohon di tangannya. “Tapi Sof Gue kan nggak kenal.” Jawab Rizal mengambil ancang-ancang untuk berdiri.
“Sport itu bisa menyatukan segalanya. Tenang aja...” Timpal Sofi yang berbinar melihat jejeran cowok-cowok tampan di lapangan basket. Rizal pun menyerah, demi tekadnya yang bulat ia akan melakukan segala cara. Termasuk mengikuti saran Sofi demi memuaskan nafsu pribadi kawannya itu.
Rizal masuk ke dalam arena lapangan basket yang berjarak 10 meteran dari tempatnya beristirahat tadi. Dengan sopan ia menyapa semua pemain dan mengobrol dengan salah seorang pria berbadan tinggi besar. Yah kurang lebih 20 cm lebih tinggi daripada Rizal. Sofi mengamati pemain-pemain lain yang sedang melakukan pemanasan di tengah lapangan. Tanpa Sofi sadari si Rizal udah main nyelonong aja ketengah lapangan dan berbaur dengan mereka. Sofi yang merasa bangga dengan kesupelan Rizal yang fantastis itu pun memberikan yel-yel semangat pada kawan nya itu. Dengan bermodalkan rambut yang panjang, ia memutar-mutar kepalanya sambil menyanyikan lagu kucing garong. Nggak cukup itu saja, Sofi yang berkali-kali ditolak jadi cheerleader di sekolah nya ini juga nekat kayang di depan lapangan. Alhasil, atraksi ini lebih mirip trio macan lagi manggung ketimbang cheerleader profesional.
Satu jam telah berlalu dan Sofi terduduk lemas dengan sampah-sampah plastik bertebar di sekitarnya. Dalam rangka mensupport sahabatnya itu ia telah menelan lebih dari 20 pentol bakso, 5 roti bakar, 4 bungkus es teh, dan berbagai makanan lain yang tabu untuk disebutkan satu persatu. Di dalam lapangan basket permainan baru saja berakhir dan Rizal tampak sedang asyik mengobrol dengan kapten tim nya tadi. “Kamu masih sekolah?” Tanya sang kapten sambil membersihkan keringat di lehernya.
“Iya mas, aku kelas X di SMA sebelah.” Jawab Rizal sembari bersalaman dengan pemain yang lain. “Oh ya, permainan mu bagus kok. Nggak tertarik ikut tim bola basket sekolah?” Tanya sang kapten lagi. “Belum mas. Dari dulu cuma hobi aja sih sebenernya. Nggak ada pikiran buat ikut tim bola basket.” Sesekali Rizal melirik ke arah Sofi yang terus melahap cireng ke sekian juta sambil menatap pemain-pemain lain dari atas ke bawah. Satu persatu. Bener-bener maniak ni anak.
“Gini aja, kebetulan aku nglatih tim basket sekolah mu. Besok kamu dateng jam 3 buat latihan. Kebetulan kita lagi menjaring anak-anak baru buat kompetisi basket semester depan.” Ujar kapten tim itu mengalihkan perhatian Rizal. “Apa? Beneran mas? Boleh?” Rizal terbelalak kaget. Sang kapten yang ternyata juga seorang pelatih itu pun mengangguk optimis. “Dan satu lagi. Aku titip salam buat temen mu yang diluar itu. Aku terkesan akan kekuatannya untuk melahap semua jajanan-jajanan itu.hahaha” Pria berkulit cokelat itu pun tertawa dan meninggalkan Rizal yang sedikit malu akan kelakuan temannya itu.
“Udah selese latihannya?” tanya Sofi dengan mulut penuh cilok. “Udah selese makannya? Ayo kita pulang. Capek nih.” Rizal menggeret kuciran rambut Sofi yang lebih mirip rambut jagung. “Oh iya, Lo dapet salam dari pelatih tim bola basket tadi.” Sofi yang awalnya ogah-ogahan meninggalkan tempat pewe nya langsung beranjak dan menyamai langkah Rizal. “Waaa...masak? Dia bilang apa?” Tanya Sofi cengar-cengir. “Dia terkesima sama kemampuan Lo makan semua jajanan tadi.” Jawab Rizal datar. Bagai jatuh dari langit ketujuh langsung ke neraka si Sofi cemberut secemberut mungkin. Sampai-sampai nggak bisa dibedain mana bibir Sofi mana pantat ayam.


Malam hari dirumah Niken suara gaduh terdengar seperti malam-malam lainnya. Tapi kali ini dilebih-lebihkan dengan berita adanya perjodohan antara Niken dan Adam. Sebenarnya hal ini baru sepintas wacana aja, tapi Mama Niken yang terobsesi dengan sinetron kesayangannya terus mendesak Niken untuk mengiyakan ajakan nge date si Adam. “Tapi Ma, Niken itu baru aja putus sama cowok Niken gara-gara si Adam.” Niken terus menolak sodoran gaun yang diberikan Mamanya. “Niken, kamu itu nggak bisa hidup dalam masa lalu terus. Kamu mesti move on dong.” Si Mama yang emang dasar udah keracunan sinetron jadi mulai ketularan lebay. “Niken tau, tapi Ma...”
‘TING TONG’ “Nah itu pasti nak Adam, ayo kamu pake ini aja. Udah cepetan. Apa mau Mama potong lagi uang jajan mu?” Niken pasrah. Ancaman potong uang jajan adalah ancaman terbesar bagi hidup Niken. Potong uang jajan rasanya seperti ngiris-ngiris jari sendiri. Perih. Apaan sih??
Adam duduk menunggu di ruang tamu ditemani Icha kakak Niken yang nggak kalah lebay sama si Mama. Awalnya sih Adam oke-oke aja ngeladenin obrolan si Icha yang ngalor ngidul nggak jelas. Tapi makin lama Icha semakin menjadi dan membuat Adam BT. Pasalnya Icha mulai curhat tentang kehidupan cintanya ke Adam. Yang pernah punya pacar bule angola lah, yang pernah dilamar pilot pesawat televisi lah, pokoknya macem-macem deh.
Yah, Icha emang hobi banget curhat. Hampir semua orang pernah jadi korban curhatannya. Nggak terkecuali persatuan pembantu-pembantu di kompleks Icha yang notabene nya adalah pembantu-pembantu islami yang rata-rata berkerudung. Mereka  merupakan korban terparah curhatan Icha yang bingung mesti curhat ke siapa lagi. Mungkin itulah salah satu penyebab maraknya kasus tentang pembantu-pembantu yang kabur dari rumah majikan nya di kompleks Icha.
Setelah menunggu lumayan lama akhirnya penderitaan Adam berakhir sudah. Niken keluar dari kamarnya di ikuti sang Mama yang senyum-senyum sendiri. Niken mengenakan dress panjang berwarna biru muda lengakap dengan tas tangan berwarna senada. Di sebelahnya sang Mama dandan lebih heboh dengan setelan gamis berwarna merah ngejreng dan gelang emas berjajar di tangannya. “Tante mau ikut nonton juga?” Tanya Adam ragu-ragu. “Oooo..tentu tidak, Tante mau pengajian di rumah sebelah. Tante kan ibu-ibu eksis yang glamour tapi tetap rendah hati dan rajin bersedekah. Kamu hati-hati ya nyetirnya, jangan ngebut-ngebut, di jalanan banyak kendaraan. Kalau pulang jangan malem-malem, kalo bisa malah pagi sekalian aja pulangnya. Biar nggak masuk angin.” Niken melirik Mamanya heran. Buset nih ibu-ibu kesambet setan manalagi coba. Sedangkan Icha sibuk mendiamkan si bungsu Jenny yang menangis histeris, “Huwaaa..mama ku gilaaa...huwaaaa”
Mobil Adam melesat melewati jalan Arteri yang padat. Niken membisu di kursi depan mobil Adam. Tangannya terus meremas-remas tasnya. Bukan meremas-remas yang lain loh. Apaan coba. “Kamu masih marah?” Adam mencoba menghangatkan suasana. “Oh, nggak. Aku Cuma nggak nyangka aja tentang semua kejadian akhir-akhir ini.” Niken terus menatap ke punggung mobil Carry di depannya. “Masalah si brengsek itu lagi?” Adam meninggikan suaranya. “Jangan menyebutnya seperti itu. Setidaknya hormati dia sebagai mantanku.” Niken melirik ke arah Adam dengan tajam. Setajam silet.
“Maaf.” Adam harus menjaga perilakunya di depan Niken. Semua ini dia lakukan untuk menjawab tantangan kawan-kawan barunya di sekolah. Ia harus merebut hati Niken dari Rizal. “Sampai kapan?” Niken kembali bersuara. “Apanya?” Adam menambah kecepatan mobilnya melewati jalan supriyadi yang lengang. “Kamu dan kawan-kawan barumu ngerjain Rizal.”
“Bisa nggak malem ini kita skip obrolan tentang mantan mu tercinta itu. Karena tujuan ku ngajak kamu pergi adalah untuk mengenal kamu lebih jauh. Bisa kan?” Adam menahan nada suaranya senormal mungkin. Niken membisu. Ia tidak bisa memberikan tanggapan apa-apa mengenai pernyataan yang mengejutkan dari Adam.


Sekolah berjalan seperti biasa dan Rizal pun dikerjain seperti biasa. Kali ini giliran celana abu-abu Rizal yang terkena tempelan permen karet. Ditambah juga sama aksi oknum-oknum tertentu yang menyiarkan kabar mengenai Rizal yang disebut gay. Tapi Rizal tetaplah Rizal yang cuek. Ia tetap berangkat ke sekolah walaupun dijauhi teman-teman cowok dikelasnya. Plus di deketin sama kelompok anak-anak gay di sekolahnya.
Bel pulang sekolah berbunyi dan Rizal tengah asyik bercanda dengan Sofi and the gank di depan kelas. Yah urusan dalam negeri mereka sudah beres jadi mereka mulai intensif kumpul bareng lagi kayak dulu. “Zal, kata Sofi Lo kemarin ikutan main basket di Mugas ya.” Puput yang merupakan atlet basket sekolah sedikit heran dengan potensi tersembunyi kawannya ini. “Iya put, demi memenuhi kebutuhan napsu nya si Sofi yang pengen cuci mata. Gue jadi korbannya.” Rizal memicingkan mata bulatnya ke arah Sofi.
Sofi tersenyum centil sambil memainkan rambut kucir kudanya. “Ya udah, Lo sekalian aja ikutan latihan basket ntar sore.” Ajak Puput semangat. “Iya, kemarin kebetulan ketemu sama pelatih tim basket sekolah kita. Dia ngundang Gue latiahan jam 3 ini.” Ujar Rizal yang asyik merhatiin tiga makhluk disampingnya yang lagi pijit-pijitan.
“Mas Tomo?” Tanya Puput kaget. “Iya kali, aku nggak tahu namanya. Kebetulan kemarin kami maen bareng. Dia juga sempet kirim salam malahan ke Sofi.” Rizal memandang wajah Sofi yang memberikan suatu isyarat. Entah dia memberikan isyarat untuk diem atau emang otot-otot muka si Sofi sudah mulai mengendur. Hanya Sofi dan tuhan yang tahu.
Dari kejauhan Adam cs memperhatikan gelagat lima remaja di depan kelas itu. “Kayaknya gosip tentang Rizal gay itu berhasil Add. Tinggal nunggu waktu aja sampai akhirnya dia pindah sekolah.” Komentar Dhika yang sedang asyik memetik senar gitarnya. “Kenapa bisa si tolol itu berkawan baik dengan ke empat cewek itu?” Toro yang dari dulu jatuh hati sama salah satu di antara mereka terheran-heran.
“Masalah kah? Kalo mereka mulai ikut campur kita kerjain aja sekalian. Gimana?” Usul Evan sembari menyandar pada mobil sedan kebanggaannya. “Jangan. Itu bukan ide bagus.” Ujar Dani yang sedaritadi memperhatikan Puput dengan seksama. “As you know guys. Puput is our basketball player, Dhiba is fuckin popular, Retno is the headmaster’s daughter, but Sofi is nothing.”  Ujar Anggara yang lagak-lagaknya kayak bule kesasar. Adam memandang mereka satu persatu. Mungkinkah ini adalah jawaban untuk pertanyaan Niken tadi malam. Cukup sampai disini saja penyiksaan untuk Rizal?


Seminggu telah berlalu dan hari minggu pagi ini si Rizal masih terbaring malas dikamarnya. Teriakan sang Mama yang daritadi membangunkannya tidak dihiraukan. Rizal telah menjalani hari-hari yang melelahkan di sekolah, dengan ulah Adam cs yang nggak bosen-bosennya ngerjain dia sampai aktivitas barunya setiap sore. Latihan basket. Jadi sudah pantas jika Rizal ingin memanjakan diri sejenak di tempat tidur.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan kepala Mama Rizal mencungul masuk kedalam. “Rizal kamu mandi sana. Temeni Mama nyari kado buat nikahan anaknya Bu Gianto.” Ujar Mama sembari membenarkan roll rambut di poninya. “Sama mbak aja kenapa sih, Rizal capek nih.” Rizal menaikkan selimut nya lagi. “Ehh..mbakmu kan lagi magang keluar kota sampe bulan depan. Lupa ya? Ayo ah, ntar mama beli-beli in deh.” Rizal membuka matanya bulat-bulat. Kata ‘beli-beli in’ terdengar cukup menjanjikan untuk tipe ibu super pehitungan seperti mamanya. Rizal pun bangun dan bergegas ke kamar mandi. “Adduhhh Rizal, kamu kok tidur nggak pake celana sihhh, jorok banget....”
Di dalam sebuah pusat perbelanjaan di kawasan simpang lima Rizal berjalan mengekor Mamanya. Ia bukannya takut kehilangan Mamanya tapi lebih takut kalo Mamanya sampai menabrak barang-barang dagangan orang karena body nya yang super duper aduhai. “Mama mau nyari kado apa? Kok kita malah muter-muter nggak jelas?” Rizal mulai terganggu dengan ulah Mamanya yang selalu berhenti setiap satu meter sekali itu. Kayak angkutan nyari penumpang aja nih si Mama.
“Muter-muter gimana? Mama itu lagi nyari barang diskon, jadi bisa dapet barang lebih banyak. Tunggu disini sebentar.” Mama Rizal yang emang udah punya karakter perhitungan dari kecil itu langsung bergabung dengan ibu-ibu lain berebut barang diskonan 10 menit di dekat tangga. Rizal hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan mama nya yang maniak diskon itu.
Rizal berdiri bersandar pada pohon plastik besar sembari menunggu Mamanya dari pertempuran sengit dengan wanita-wanita setipe. Yah tipe-tipe perhitungan yang kemana-mana lebih suka bawa kalkulator daripada ponsel. Dilihatnya arah jarum jam di tangannya dengan malas. Jarum pendek dan jarum panjang menunjukkan angka 12. Padahal jam 4 nanti Rizal ada pertandingan basket melawan anak kelas XI untuk ujian masuk tim inti bola basket di sekolahnya.
Ditengah-tengah lamunannya Rizal menemukan dua sosok manusia yang tampak tidak asing baginya. Seorang pria yang dikenalnya sebagai Adam ditemani dengan seorang wanita cantik yang membuatnya terkejut. Niken berjalan menggandeng Adam yang tangannya dipenuhi barang belanjaan.
“Ayo Zal..Mama udah dapet seprei sama gelas-gelasan nih. Kamu mau minta apa?” Cengir Mama Rizal yang bangga telah mendapatkan harga murah untuk barang-barang tersebut. “Pulang aja yuk Ma...Rizal capek.” Rizal kehilangan semangatnya secara tiba-tiba. Ia melupakan kata-kata ‘beli-beliin’ yang sempet diucapkan Mamanya. Ia berjalan ngeloyor begitu saja meninggalkan si Mama yang heran sama ulah anaknya itu. Tapi si Mama cuek aja, kalo gini kan si Mama nggak perlu keluar duit lagi untuk beli-beli in si Rizal.


Rizal memasuki tempat latihan basket dengan lemas. Ia terus terbayang-bayang akan kemesraan yang dipamerkan Adam dan Niken siang tadi. Semudah itukah Niken melupakan Rizal dan berpaling pada Adam. “Woooii..ngelamun aja!” sebuah suara menggelegar dan pukulan keras mengagetkan Rizal. “Eh Puput, resek Lo.” Rizal memberikan senyuman kecilnya. “Kenapa Lo? Kesambet setan dari kamar mandi cewek? Manyun aja kayak suster rumah sakit.” Puput meletakkan tas ranselnya di sebelah Rizal. “Bisa aja Lo, nah tu orang ngapain disono. Pake dada-dada segala lagi ke gue. Dikira kita mau lepas landas.” Rizal memperhatikan Sofi yang duduk di kursi penonton.
“Apalagi modus nya kecuali cuci mata. Tuh anak kan kena penyakit stres menahun.” Puput membalas lambaian tangan si Sofi. “Tadi Gue waktu nganterin nyokap gue belanja ngelihat Adam jalan sama si Niken.” Cerita Rizal tiba-tiba. Puput menghentikan aktivitasnya dan duduk disamping Rizal. “Maaf, gue nggak tahu. Tapi Lo nggak papa kan?” Ujar Puput sembari memberikan tonjokan ringan ke lengan Rizal. “Jangan libatin masalah Lo ke permainan ini ya, inget alasan Lo ikut latihan basket wajib diganti. Lo punya potensi, jangan cuma gara-gara wanita atau image Lo nyia-nyia in potensi Lo.” Puput memberi wejangan singkat sebelum akhirnya ia turun ke lapangan untuk bertanding.
 Pertandingan antar angkatan untuk menjaring generasi penerus tim bola basket sekolah Rizal berlangsung dengan seru. Dan Rizal terpilih sebagai salah satu pemain di tim bola basket sekolahnya. Walau gosip tentang Rizal yang dibilang gay masih berkembang namun hal itu tidak mengucilkan hati Rizal. Lagipula pemain-pemain satu tim nya tidak terlalu peduli akan itu semua. Tapi bukan berarti mereka semua gay loh.
Sebagai perayaan akan keberhasilan Rizal, ia mengajak Puput dan Sofi untuk mekan mie ayam di dekat sekolahnya. Yah itung-itung berbagi kebahagiaan dengan kaum dhuafa lah. Tentu sebagai penggemar aneka jajanan Sofi mengiyakan ajakan itu. Ia sudah berencana memesan 3 mangkok mie ayam bakso plus 2 gelas es teh sebelum berangkat. Sofi emang kebiasaan ngemindset dirinya sendiri biar nggak khilaf nantinya. Kalo wanita ini sampe khilaf, udah deh, dia bakal memborong semua persediaan mie ayam sekota Semarang. Kan kasihan para pecinta mie ayam di Semarang. Masak mau makan mie ayam aja harus pergi ke Solo atau Jogja.
Rizal yang sedang asyik berjalan sambil bercanda dengan kedua sohibnya itu dikagetkan dengan hadirnya beberapa orang berpakaian hitam. Mereka adalah para berandalan yang biasa nongkrong di daerah situ. “Eh Lo bocah, gue ada urusan sama Lo.” Hardik salah seorang dari mereka sembari menunjuk Rizal. Rambutnya yang kaku diberdiriin ke atas kayak sapu ijuk dibalik. “Maaf bang, ada urusan apa ya?” Rizal yang merasa nggak pernah punya bisnis sama berandalan-berandalan itu pun kebingungan. “Ih nantangin Lo ya, anak anjing Lo, Lo kagak bisa di omongin baek-baek ya.” Timpal berandalan yang lain sembari mengayun-ayunkan batang kayu besar ditangannya.
“Eh Bang, kalo malakin kira-kira dong. Penampilan kita aja nggak ada yang borju.” Sofi menunjuk-nunjuk wajah berandalan di depannya. “Sof, Lo diem aja deh. Bisa kacau urusan.” Bisik Rizal rada keder juga. “Eh Lo yang cowok sendiri, sini ikut gue!” ujar sang berandalan. Rizal maju selangkah demi selangkah, “Set dah, cepetan dikit napa? Banci Lo!” teriak seorang yang lain. Ketiga berandalan itu bertampang sangar dan mengkhawatirkan. Rizal hanya bisa menuruti perintah mereka.
Sesampainya Rizal di dekat mereka sebatang kayu pun berayun dengan cepat dan hampir mendarat di badan Rizal. Namun Rizal berhasil menangkisnya dengan tangannya. Puput yang dari tadi sudah mengambil ancang-ancang langsung menyerang membabibuta dengan tas ranselnya. Sofi berteriak histeris. Entah ketakutan entah juga jijik melihat berandalan-berandalan dekil yang bau terasi itu.
Sempat menjadi bulan-bulanan, Rizal akhirnya terselamatkan dengan datangnya Mas Tomo dan kapten timnya, Mas Satria. Dengan postur tubuh yang lebih meyakinkan kedua pemuda berbadan gelap ini menghajar ketiga berandalan tersebut hingga dua diantaranya kabur dengan jalur zigzag. Kayak dikejar babi hutan aja nih berandalan. Sedangkan seorang yang tersisa dipiting oleh mas Satria yang keringetnya masih mengucur deras. Bisa dibayangin kan bagaimana naasnya penderitaan berandalan amatir ini. Mas Tomo dengan gagah dan membuat Sofi terpesona mencengkram leher si berandalan. “Ngapain Lo nggebukin anak kecil?” Tanya Mas Tomo dengan wajah garang.
“Ampun mas, saya disuruh.” Rengek berandalan itu meminta ampun sambil menyeka keringet Mas Satria yang netes di mukanya. “Siapa yang nyuruh? Udah bagus Lo di baik-baikin sama anak sekolah sini, masih tega Lo bertingkah?” Tanya Mas Tomo yang juga jebolan dari sekolah Rizal. “Evan mas, saya disuruh sama mas Evan. Katanya jangan sampe ni bocah bisa ikut kompetisi mas.” Sedikit merintih kesakitan Rizal yang tadinya jatuh tersungkur mulai menegakkan badannya. “Kali ini Lo gue lepasin, jangan sampe gue ngeliat batang hidung lo dan temen-temen lo di sekitar sini. Gue bisa aduin lo ke Om Prengki.” Mas Tomo melepaskan cengkramannya dan berandal amatir itu pun lari tunggang langgang meninggalkan tetesan air kencing di jalanan.

“Makasih Mas.” Ujar Rizal tersenyum simpul. “Lain kali ati-ati, apalagi udah jam segini. Ayo ke dalem, luka lo perlu diobatin kayaknya.” Rizal dan Puput mengangguk dan masuk kedalam sekolah di ikuti Sofi yang masih berbinar-binar memandang punggung mas Tomo yang menawan itu.

Sunday, 25 August 2013

Empat



        Hari ini hujan turun perlahan. Hawa dingin terasa menusuk tulang. Rizal mencari-cari jaket abu-abunya yang baru beberapa minggu dibelinya dari distro di dekat sekolahnya. Sekilas Rizal teringat akan janjinya pada Adam untuk menemani Adam berbelanja di distro itu. Tangan kurusnya berhenti menguras isi lemari. Rizal tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, perasaan bersalah akan sesuatu yang tidak diperbuatnya. Dari ruang makan Mama berteriak dengan volume maksimal manggilin Rizal yang keasikan ngelamun. Entah apa yang ngebuat ibu nyentrik satu ini rela ngabisin suaranya hanya untuk manggil anaknya yang nggak kalah nyentrik itu. Soalnya ibu ini biasanya manggil anaknya hanya dengan nendang tanah 3 kali ples manggil nama Rizal 3 kali juga. Alasannya sih biar hemat suara. Benar benar ibu yang aneh.
Hari ini Rizal dipercaya untuk naik mobil sendiri menuju ke sekolahnya yang tercinta. Pasalnya, sang Ayah yang biasanya jadi supir setianya siRizal lagi libur kerja dengan alasan yang aneh. Gimana nggak aneh, libur ini untuk memperingati hari ulang tahun pernikahan bossnya siPapa yang ke-25. penting nggak sih?!
Mobil kijang hitam yang berhiaskan stiker merah jingga dengan motif lidah api merayap dari pinggiran kota Semarang yang ruamene puol. Puluhan motor melesat secepat angin mendahului mobil yang dikendarai Rizal. Tau sendirikan gimana gaya nyetirnya Rizal yang bisa dibilang abstrak, alhasil ratusan klakson bersautan menghardik siRizal yang amatir. Tapi kali ini ada yang aneh, biasanya Rizal yang kocak selalu membalas klakson-klakson tadi dengan serangan klakson yang berlipat ganda. Tapi kali ini Rizal lebih memilih menekuk wajahnya daripada menunjukkan sifat nyentriknya yang aneh. Apa sih yang lagi dipikirin Rizal? Hanya tuhan dan Rizal yang tahu.
Pintu gerbang sekolah terbuka lebar menyambut kedatangan Rizal dan mobil bawaannya. Ratusan mata langsung terarah pada Rizal. Mereka keheranan ngeliat Rizal yang tiba-tiba menghentikan mobilnya di depan gerbang dan turun dari mobil. Ia turun untuk memperkirakan mobilnya bisa masuk apa nggak. Terlebih lagi Rizal dengan PD ngebawa penggaris besi miliknya untuk mengukur lebar pagar dan lebar mobilnya secara detail. Aksi ini spontan muncul secara tak disengaja disaat Rizal lagi kebingungan ngemasukin mobilnya melalui gerbang sekolah. Setelah prosesi pemarkiran itu selesai dikerjakan, Rizal meraih jaket abu-abunya dan turun dari mobil dengan gaya bangsawan. Dagu diangkat, bibir tersenyum kecil, mata memicing, dan hidung kembang kempis. Sesaat para siswa lain yang liat aksi Rizal ini bakal inget sama salah satu iklan populer yang terdapat kata-kata,”Anak anda cacingan? Beri obat nyamuk Mortein segera.” Kaki Rizal dengan PD melangkah melewati beberapa guru yang sedang mengadakan pemeriksaan busana rutin.
Senyum kecil Rizal semakin melebar ketika melihat siDevi lagi asyik main petak umpet sama temen-temen sepermainannya. Kebetulan siDevi yang jadi, dan semua temen Devi langsung berpencar mencari tempat persembunyian sendiri-sendiri. Ada yang lari menuju kursi taman trus sembunyi di belakangnya. Ada yang manjatin pohon mangga yang letaknya nggak jauh dari tempat Devi nutup mata. Ada yang sembunyi di gerobak sampah yang lagi dipake Mang Wito. Dan ada juga yang kena timpuk sepatu gara-gara mencoba sembunyi dibawah rok siswi yang lagi lewat. Ketika Devi telah selesai menghitung Iapun membuka matanya dan mendapati muka Rizal yang ancur tepat di depannya. Senyuman kebahagiaan yang semula ditunjukkan Devi langsung berubah 180 derajat menjadi tekukan yang elastis. “Vi, harusnya Lo kan kaget. Curang ahh! Pokoknya ulangin sekali lagi dan Lo harus kaget sekaget-kagetnya. Setuju!” keluh Rizal sedikit kecewa. “Aduh..ntar Gue ada ulangan! Gue belajar dulu ya!” Devi sesegera mungkin mencari alasan sekenanya. Tanpa menggubris kawan-kawannya yang udah susah-susah ngumpet, Devi ngeloyor aja balik ke kelasnya sambil sesekali menyibakkan rambut panjangnya. Rizal yang makin bingung jadi menekuk bibirnya seelastis mungkin dan pergi menuju kelasnya nan jauh dimato.


Rizal berjalan dengan senyum merekah dibibirnya. Saat ini pikiran Rizal udah plong, dia nggak perlu ngurusin Adam yang nggak penting itu. Rizal udah bebas, sekarang dia bisa berbuat sesuka hati tanpa ada gangguan dari Adam. Tapi hari ini ada yang aneh, entah kenapa semua siswa yang dilewati Rizal memandang tajam ke arahnya. Perlahan Rizal memeriksa resleting celananya, hasilnya sempurna. Nggak ada yang salah sama resleting celananya. Kemudian Rizal mencoba meraba punggungnya, siapa tau ada yang iseng nempelin sesuatu di punggungnya. Namun hasilnyapun nihil, nggak ada kertas atau apapun yang nempel di punggungnya. Rizal jadi ngerasa aneh sendiri dan mempercepat langkahnya melewati deretan kelas yang nggak serame biasanya. Sesampainya Rizal di depan pintu kelasnya, Rizal langsung mengatur nafasnya ala ibu hamil seperti yang dilihatnya di program TV ibu dan anak. Sejenak Rizal celingak-celinguk melihat keadaan sekelilingnya. Sepi, nggak ada satu makhlukpun yang melintas di depan kelasnya. Janggalnya lagi pintu kelas yang biasanya kebuka 24 jam non-stop itu kali ini ketutup rapat tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Sesaat Rizal berpikir, apa hari ini walikelasnya lagi ngerayain ulang tahun pernikahannya juga, sehingga anak-anak diliburin. Atau mungkin wali kelasnya Rizal itu adalah isterinya Bossnya siPapa. Kemudian Rizal mengulum senyum, Ia baru teringat kalo walikelasnya itu cowok..jadi??
Dengan bermodalkan ucapan bismillah, Rizal memutar gagang pintu dan membukanya dengan ketukan 4/4. Pintu yang tampaknya sudah tua itu berdecit perlahan, angin sepoi yang dingin langsung terasa menerpa tubuh kurus Rizal. Aroma kursi dan meja kayu yang lembab langsung tercium. Kalo suasananya kayak gini Rizal jadi teringat akan film horor yang paling serem yang pernah Ia tonton. Film yang dimaksud adalah ‘SpongeBob and Flying Deutchman The Movie’, maklum sepanjang hidupnya Rizal Cuma pernah nonton di bioskop satu kali, itu aja waktu dia berumur 5 tahunan.
Pintu terbuka semakin lebar dan kaki kanan Rizalpun melangkah perlahan. Tepat pada saat Ia menginjakkan kaki kanannya ke tanah, dirinya langsung dikejutkan dengan tumpahan cairan aneh di kepalanya. Ya, sebuah ember hijau berisikan cairan berbau tak sedap jatuh dari atas pintu dan menimpa dirinya. Teriakan kencang penuh kekesalan langsung terdengar di sepanjang lorong sekolah. Teriakan yang persis kayak jeritan malam ini mengundang para siswa untuk berbondong-bondong menghampiri kelas Rizal. Ratusan suara gelak tawa terdengar saat semua siswa melihat keadaan Rizal yang memprihatinkan. Baju seragam Rizal basah, begitu juga tas dan isinya, hanya jaket abu-abunya yang bisa terselamatkan. Dengan wajah merah padam, Rizal memakai jaketnya dan berusaha menutupi baju seragamnya yang berbau tidak enak itu. Pandangan dan gelak tawa siswa semakin menjadi ketika melihat kepanikan Rizal yang dianggap lucu. Dengan perasaan dongkol yang mendarah daging Rizal beranjak dari keramaian itu dan memutuskan untuk pergi ke parkiran sekolah.
Rasa malu yang dirasakan Rizal berlanjut di sepanjang jalan menuju parkiran. Beberapa siswa kelas X yang tak dikenalnya mengikuti langkahnya seperti pengarak pengantin. Alhasil gelak tawa semakin menyebar ke penjuru sekolah, dari siswa kelas XI, XII, sampe Mang Wito yang dikenal jarang ketawa ikut-ikutan ngakak ngeliat kejadian ini. Dari kejauhan Rizal mendapati teman-teman sekelasnya yang biasanya rela membantu dirinya kini hanya berdiri mematung. Mereka berdiri bergerombol dan memasang wajah iba. Di samping kanan dan kiri mereka berdiri cowok-cowok gaul SMA Rizal + cowok-cowok most wanted yang tersenyum sinis pada Rizal. Rizal menghentikan langkahnya sejenak dan tampak tak percaya atas apa yang dilihatnya. Adam berdiri angkuh di belakang gerombolan anak-anak most wanted. Kini Rizal mulai mengerti apa yang telah terjadi. Dengan perasaan berkecamuk Rizal melanjutkan perjalanannya menuju tempat parkir yang terletak tepat dibelakang gedung kelas XI.


Rizal mengendarai mobilnya tanpa konsentrasi ke jalan. Ia sibuk memikirkan nasib buruknya hari ini yang akan semakin memburuk di keesokan hari. Apa yang harus Rizal lakukan agar Adam sadar akan kesalahpahaman ini. Sedikit menyesal Rizal mencoba mengingat kembali kejadian 2 hari lalu, dimana Ia dengan tegas memutuskan perjanjian dengan Adam. Apa ada yang salah dengan penolakan Rizal itu? Mengapa berita tentang kondisi Adam di club malam bisa sampai meluas? Siapa orang yang telah menyebarkan berita itu? Kenapa Niken menutup telponnya ketika Rizal bertanya tentang tersiarnya berita itu? Apa jangan-jangan siNiken yang udah nyebarin berita ini? Rizal terus berpikir tentang kejadian terburuk seumur hidupnya ini. Tanpa terasa mobil kijang Rizal udah nangkring di depan pager rumahnya tercinta. Entah apa yang harus Rizal katakan pada keluarganya jika mereka sampai tahu Ia tidak masuk sekolah hari ini.



Pukul 5 sore Adam masih terpaku di depan televisi 21”nya. Ia bersandar pada kepala tempat tidur kayunya. Matanya terarah pada kunci mobil yang ia letakkan di atas kasur bersprai biru muda. Program berita yang dari tadi disetelnyapun tak dapat mengalihkan perhatiannya pada kunci itu. Sejenak Ia berpikir, apakah benar Rizal yang telah menyiarkan berita tentangnya itu? Bagaimana seandainya jika bukan Rizal yang melakukannya? Jika bukan Rizal siapa lagi? Niken? Keraguan-raguan masih menyelimuti hati Adam. Apakah jalan yang ditempuhnya ini sudah benar? Ditengah-tengah pertanyaannya yang menjadi-jadi sebuah teriakan panjang membuyarkan lamunan Adam. Sang Mami memanggil dengan teriakan kencang sekencang sabuk pengaman. Dengan tanggap Adam keluar dari kamarnya dan menuju ke arah suara.
Sang Mami terduduk manis di ruang tengah. Ayah Adam duduk di samping istrinya dan meletakkan tangan kanannya di pundak kanan belahan hatinya itu. “Ada apa Mi?” Tanya Adam setelah Ia duduk tepat di sebelah Maminya. “Nggak…rencananya nanti malam Mami sama Papi mau pergi ke rumah kerabat Papi. Kamu mau ikut nggak?” Jelas sang Mami dengan suara khasnya yang lembut. “Apa? Ke rumah kerabat Papi? Untuk apa Adam ikut?”
“Ya supaya kamu bisa kenal sama keluarga temen Papi itu? Soalnya dia itu sudah seperti saudara kita sendiri. Kita pernah kumpul bareng waktu masih di Jakarta loh!”
“Heah..Adam nggak bisa ikut. Soalnya masih ada ulangan nih besok. Maaf ya..” Adam menolak ajakan Maminya ini dan kemudian kembali ke kamarnya. “Anak kurang ajar! Kita belum selesai bicara, dia sudah main pergi aja..perlu dikasih pelajaran rupanya!” Melihat kelakuan Adam yang rada nggak sopan itu Ayah Adam jadi darah tinggi. “Sstt..sudah Pi biarin aja! Lagian katanya dia masih ada ulangan tuh! Kita pergi berdua aja.” Bujuk Ibu Adam meredakan kemarahan sang suami.


Rumah Niken yang terletak didekat lapangan golf terasa semakin ramai. Semua anggota keluarganya sedang sibuk merapikan ruang tamu dan ruang makan. Dari Ibu Niken yang masak di dapur dengan di temani Bi’ Wati dan kakak sulungnya Icha. Ayah Niken yang lagi ngganti bohlam ruang tamu ditemani adiknya Joshua. Dan dia sendiri yang sedang asik menata meja makan dengan sibungsu Jenni disampingnya. Niken nggak tahu siapa yang mau datang malam ini, dan dia nggak punya waktu untuk menanyakan hal itu. Teriakan terdengar dari berbagai ruangan di rumah Niken. Dari omelan sang Ibu gara-gara si Icha salah masukin bumbu. Bentakan sang Ayah yang menegur kelakuan Joshua. Bagaimana Ayah tidak marah, joshua memainkan bohlam itu dan maletakkannya tepat di depan bibirnya. Yaa serasa pake mic geto. Mana lagu yang dibawain lagu ‘obok-obok’ lagi. Sudah pasti Ayah marah-marah nanggepin obsesi Joshua ini.
Hal yang sama terjadi pada Niken. Suara Niken terkuras gara-gara memperingatkan sibungsu Jenni yang bukannya bantuin malah main rumah-rumahan di bawah meja makan. Marahnya bukan karena apa-apa. Pasalnya Jenni mindahin semua piring, sendok, dan peralatan makan lain ke bawah meja. Ada acara makan-makan dirumah buatannya katanya, lha emang sukuran rumah baru pake makan-makan segala.
Setelah semua pekerjaan di rumah Niken selesai, semua anggota keluarga + Bi’ Wati berkumpul di ruang tengah. Joshua menyalakan TV 21” dan sibuk mencari program favoritnya. Sedangkan Jenni tengah asyik bermain dengan Bugi, boneka anjing kesayangannya. “Pa, emang siapa sih yang mau bertamu? Kok harus gini banget?” Kakak perempuan Niken mulai penasaran. “Ginian banget gimana? Kali ini yang dateng bukan orang biasa. Beliau ini temen baik Papa waktu di Jakarta, masa kamu nggak ingat?” Jawab sang Mama mencoba mengingatkan Icha. “Teman Papa waktu di Jakarta? Banyak kali Ma! Yang jelas dong kalo ngasih tebakan!” Ujar Icha malah marah-marah. “Masa nggak tahu! Itu loh yang kumisnya tebel, yang suka banget gendong-gendong kamu!”
“Om Kadir!” Icha coba menebak.
“Deng..Dong..anda salah. Yang sukanya minta Mama masakin sayur asem jawa ples tempe goreng.”
“Ohh..pasti Om yang suka makan gratis di rumah kita itukan? Om Kembul!”
“Anda masih salah! Ck..yang waktu itu kamu ompolin itu loh. Yang pernah kamu siram pake susu putih..”
“Apa Ma.. kasih bantuan yang lebih jelas dong..ayo, apa Ma?”
“Yang istrinya kulitnya putih dan cantik. Istrinya sering kamu panggil Tante Uci..”
“Emm..siapa ya…kayaknya aku hampir inget deh! Tante Uci? Haduh sulitnya minta ampun…Om Danu..Iya Om Danukan?”
“Ya..Anda benar..” Mama membenarkan jawaban Icha sambil tepuk tangan dan memeluk tubuh mungil Icha penuh haru. Ichapun meneteskan air mata kebahagiaannya, dan sujud sukur kepada tuhan YME. Akhirnya Ia bisa menjawab pertanyaan sang Bunda yang sulit itu. Alhasil Niken, Papa, dan Joshua memandang aneh kepada siMama dan Icha yang suka berlebihan. Sedangkan Bi’ Wati malah sibuk mendiamkan Jenni yang nangis sembari berteriak-teriak, “Huuu…Mamaku gila…Mama gila…Huuu…Aku nggak mau!”


“ Ada apa say?” Suara Rizal begitu hangat menjawab telpon Niken. “Nggak papa kok. Eum…aku denger dari temenku masalah tadi pagi…”
“Ohh..nggak usah terlalu di pikirin. Kamu tenang aja, aku nggak akan biarin dia nyentuh sehelaipun rambut kamu. Biar aku aja yang nanggung ini semua.”
“Eum..emang kamu ya yang udah nyebarin berita itu?”
“Itu masalahnya..aku nggak tahu siapa yang udah nyebarin berita itu. Tapi Adam ngiranya sih aku…dia nggak punya bukti tapi aku juga nggak bisa buktiin kalo bukan aku yang nyebarin hal itu. Jadi..”
“Aku yakin kok bukan kamu yang ngelakuin hal itu!”
“Thanks Babe! Kamu sendiri gimana? Baik-baik ajakan?”
“Iya. Tapi aku lagi bete nih! Bonyok aku sibuk sendiri sama tamunya. Fuh..”
“Oh ya, aku Cuma mau ngingetin kamu doang. Akhir-akhir ini kamu jauhin aku dulu ya say..aku nggak mau kamu kecipratan kenakalannya Adam cs. Kamu baik-baik aja ya! Belajar yang bener, makan teratur, dan jangan lupa ibadah.”
“Makasih ya sayang…aku nggak bisa bantu apa-apa. Tapi aku harap masalah ini bisa cepat selesai…Dah ya babe! Bye….”


Papa dan Mama Niken tengah berbincang akrab dengan tamunya. Tak ketinggalan Icha dan Joshua yang ikut nimbrung di ruang tamu. “Om…kayaknya dulu Om punya anak cowok deh! Mana sekarang?” Tanya Icha yang udah mulai ingat akan masa lalunya. “Ohh..katanya besok dia ada ulangan jadinya dia nggak bisa ikut. Kamu masih ingat juga ya sama anak Om itu!” Ujar Om Danu sembari tersenyum. “Iya dong Om! Dulu diakan anak yang imut, kulitnya putih, tembem, dan suka banget aku gendong. Lagian dia suka banget mainan sama Niken.” Jelas Icha menampakkan wajah gemasnya. “Oh ya jeng! Mana Niken kok nggak keliatan sih? Lagi belajar ya?” Tanya Tante Lusi teringat pada sosok balita kesayangannya. “Niken? Ada tuh di kamar. Joshua tolong panggilin kakak kamu dong!” Ujar Mama Niken sambil melirik tajam pada Joshua.
Niken memandangi dirinya di cermin. Pikirannya terus melayang mengingat kejadian yang menimpa Rizal. Kalo Rizal kekeuh nggak nyebarin berita tentang Adam, lalu siapa? Apa Niken pernah keceplosan ngomong sama orang lain. Ditengah pertanyaan yang hilir mudik kayak mobil di jalan tol, pintu kamarnya terbuka perlahan dan Joshua menampakkan hidung peseknya. “Kak, dipanggil Mama tuh!” Setengah kesel Niken mengambil sisir pinknya dan merapikan ikatan rambutnya. “Sshh..ganggu aja deh!”


“Zaaaaal…bangun! Udah jam 7 nih! Kamu nggak sekolah?” Suara nyaring sang kakak menggelegar bagai petir disiang bolong. Rizal meluruskan kedua kakinya dan menekuk-nekuk persendian jari tangannya. Perlahan Ia mengambil posisi duduk sambil membersihkan kedua matanya. Dengan cekatan Ia mencomot jam weker berbentuk telur kesayangannya dan mengamati arah jarum jam baik panjang maupun pendek. “Wow jam 7 pagi…apa? Jam 7? Busett Gue telat nih ke sekolah! Nggak ada yang bangunin ya, emang pada resek nih!” Dengan secepat kilat Rizal berlari ke westafel di dekat kamar mandi. Ia membuka keran dan membasuh mukanya serta gosok gigi dengan kecepatan 50 gosokan/menit. Kemudian Rizal buru-buru ke kamarnya dan mengganti pakaiannya, Rizal memajukan bibirnya 5 centi tanda kesebelannya pada anggota keluarganya. Kurang dari 20 menit Rizal keluar kamar dan langsung pergi gitu aja  tanpa pamitan ke sang Mama tercinta.
15 menit emang waktu yang lumayan singkat untuk pergi dari rumah Rizal menuju ke SMA yang berada di tengah kota itu. Dengan bermodalkan taksi tanpa argo, Rizal bisa sampe tepat jam 8 pagi di depan gerbang tanpa kurang suatu apapun. Rizal melewati gerbang sekolah yang terbuka sedikit tanpa rintangan. Sempritan pak satpampun tak bisa menghalangi langkahnya yang super duper cepat itu. Jarak antara pintu gerbang dan kelas Rizal cukup jauh, lumayanlah itung-itung lari pagi. Sesampainya Rizal di depan kelasnya tercinta, Rizal langsung mengetuk pintu dan memberikan senyumannya pada Bu Retno guru bahasa Indonesia. Rizal berani aja tuh nyelonong masuk dalem kelas walaupun telat, pasalnya Bu Retno emang dikenal sebagai guru terbaik yang pernah ada. “Maaf bu, saya terlambat!” Ujar Rizal meminta izin untuk masuk ke dalam kelas. “Kenapa kamu terlambat? Ya udah sana masuk!!” Perintah Bu Retno berusaha berwibawa. “Siap, laksanakan!!” Rizal langsung berjalan menuju ke bangkunya dengan senyuman keramahan terpancar dari bibirnya. Namun, teman-temannya berubah. Mereka semua tertunduk tanpa satu mata memandang Rizal. Rizal terdiam beberapa saat dan celingukan kanan kiri kayak lagi nunggu bus kota di halte. Matanya langsung terhenti pada mata Adam yang memandangnya sinis penuh dendam. Rizal bisa merasakan kegetaran di dalam dirinya, Adam seakan-akan ingin memakannya bulat-bulat.


Rizal terduduk lemas di kursi taman sembari membaca buku biologi mengenai anatomi tubuh manusia. Ia bisa merasakan kesepian yang begitu dalam dan nggak bisa terelakkan. Tiba-tiba Niken datang menghampiri Rizal dan duduk di sebelahnya. “Hai say..lagi baca apa nih?” Niken menyapa kekasihnya itu dengan sangat mesra. Rizal tersentak, Ia tidak menyangka Niken bisa senekat ini. “Ken, akukan udah bilang sama kamu..kalo sekarang kamu jauhin aku dulu. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa gara-gara aku..” Rizal mencoba mengingatkan Niken. “Mau gimana lagi! Aku udah terlanjur sayang sama kamu and aku nggak bisa hidup kalo nggak ada kamu disampingku.” Ujar Niken sambil bergelayut manja dilengan Rizal. “Iya say, aku tahu. Tapi nggak sekarang, kalo mereka sampe berpikir kamu yang udah nyebarin berita itu gimana? Kamu juga yang rugikan? Dan aku juga bakal repot..” Tiba-tiba Niken menghempaskan lengan Rizal dan berdiri menantang di hadapan kekasihnya itu. “Kamu egois banget sih? Jadi menurut kamu aku itu Cuma bisa ngerepotin kamu aja ya? Aku pengennya kamu bisa berbagi kesedihan sama aku..kita ini punya hubungan spesialkan?”
“Ya udah kalo gitu kita putus aja!” Entah apa yang terlintas dalam pikiran Rizal, namun kata-kata ini muncul begitu aja. Niken berusaha menahan tangisnya dan pergi meninggalkan Rizal yang menyesali perkataannya. Kini Rizal terpukul dengan perkataannya sendiri, sebutir air mata menetes dari mata kirinya. Saat ini Rizal sedang labil, Ia tak bisa menahan ini semua, kegalauan hatinya mengalahkan semangatnya untuk bersikap tegar.
Dari kejauhan Adam ditemani Dani dan Dhika mengawasi gerak-gerik Rizal. “Berani banget cewek itu ngedeketin Rizal, bosen hidup ternyata dia.” Dani memanas-manasi Adam. “Apa rencana pembalasan selanjutnya?” Tanya Adam pada kedua sohib barunya itu. “Awalnya sih, Gue berpikiran mau ngerjain mobilnya siRizal, tapi hari ini dia kayaknya nggak bawa deh. Jadi rencana kita berubah..” Dhika mencoba memancing Adam. “Niken? Boleh juga tuh..ini tantangan buat lo. Lo bisa nggak naklukin Niken?” Lanjut Dhika mengutarakan niat jahatnya. “Terang aja bisa! Tapi buat apa? Buang-buang energi…” Adam menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon mangga. “Salah satu cara bales dendam…rebut Niken dari Rizal. Kayaknya ini bakal buat Rizal jera…” Dani menjelaskan maksud Dhika. “Emang nggak salah Gue gabung ama kalian..” Adam mengambil senyum kalicikan menanti kemenangannya.
Rizal masih terduduk di kursi taman, bel tanda masuk sudah berbunyi 15 menit yang lalu. Buku biologi yang sedari tadi dipegangnyapun kini sudah tergeletak tak berdaya di rerumputan taman. Sofi mendekati Rizal yang setengah tertidur. “Zal..Rizaal..udah masuk nih! Lo nggak tidurkan?” suara lembut Sofi membuyarkan kantuk Rizal. “Eh Lo Sof..Lo ngedeketin Gue? Ntar Lo..” “Sssttt..nggak usah nakut-nakutin deh! Gue udah mutusin untuk bantuin Lo ngelawan anak-anak tengil itu.” Sofi mendekatkan diri ke arah Rizal. “Maksud Lo?” Tanya Rizal nggak ngerti. “Rizal..Lo itu nggak bisa diem gini aja dong! Sampe kapan Lo rela jadi bulan-bulanan mereka. Lagian Gue yakin bukan Lo yang nyebarin berita itu..so you must fight boy!”
“Buseet darimana Lo belajar bahasa begituan. Kirain IQ Lo nggak nyampe kalo soal-soal beginian.”
“Enak aja Lo! Lo pinter aja gara-gara Gue ajarin.”
“Najis deh…oke. Mulai saat ini gue bakal survive, Gue harus bisa ngelawan mereka. Semangat! Semangat! Ganbatte kudasai!” Rizal mulai meneriakkan yel-yel pemberi semangat. “Haik, gambarimatsu! Sorak-sorak bergembira…” Sofipun menambahinya dengan lagu sorak-sorak yang nggak nguatin. Alhasil, Rizal dan Sofi menyanyikan lagu nasional ini sambil berdiri di atas kursi taman.      


Pagi ini Rizal bangun lebih pagi dari biasanya. Ia mengambil tas ransel birunya dan memasukkan beberapa buku pelajaran ke dalamnya. Hari ini semangat Rizal tumbuh lagi. Terserah apa yang bakal dilakukan Adam cs, Rizal udah siap menghadapi itu semua. Rizal memulai harinya dengan senyuman diwajahnya, seperti yang tiap hari Ia lakukan. Setelah semuanya siap Ia mencomot handuk berwarna merah yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Sesaat Rizal berpikir, apakah hari ini Adam masih ngerjain dia lagi? Kemaren aja dia bisa hidup tenang tanpa keusilan Adam cs. Tapi nggak ada salahnyakan sedia payung sebelum hujan. Ini udah jadi keputusannya kalo dia nggak bakal nyerah gitu aja.
Rizal masuk melewati pintu gerbang yang masih lengang. Mang Wito tampak masih sibuk menyapu taman sekolah yang kayaknya nggak bakalan bersih. Hanya ada satu dua orang yang seliweran melewati Rizal. Rizal tersenyum puas dan melanjutkan perjalanannya menuju ke kelas XB. Sesampainya Rizal di kelasnya, Ia membuka pintu yang masih tertutup rapat dan sesegera mungkin menjauh dari daun pintu itu. Rizal khawatir kejadian 2 hari lalu bakal terulang kembali. Tapi dewi fortuna berpihak padanya, mungkin Adam cs harus datang lebih pagi untuk nyiapin jebakan buat Rizal. Rizal duduk dengan nyaman di kursinya, suasana tenang kayak gini udah lama nggak Ia rasakan. Satu-persatu teman sekelas Rizal masuk menuju kelas No.2 itu. Dinar, Cicil, Ceri, Rahman, semuanya memandang Rizal dengan tatapan nggak biasa. Puput yang satu bangku sama Adam langsung menghampiri Rizal begitu tahu teman curhatnya itu datang lebih pagi. “Halo Brow! Whats up? Sorry kalo Gue nggak bantuin Lo.” Puput yang rada tomboy menepuk bahu Rizal sampai Rizal terbatuk-batuk. “Nggak papa, Gue ngerti kok. Lo heran ya ngeliat Gue udah berangkat?”
“Terus terang iya, biasanya Lo datengnya pas udah mau bel masuk. Lo kan yang tukang mencet belnya. Eh geser dikit dong..” Puput meyesalkan bokongnya menggusur bokong Rizal yang udah taken kontrak dari tadi. “Heeaah..Gue nggak bisa nalar ini semua. Padahalkan sebelum kedatangan Adam Gue ini cukup dihormati di sekolah ini. Tapi sekarang..”
“Keadaan berubah, padahal pas pertama-tama dia masuk Lo setia banget nemenin dia. Eh sekarang, abis pahit sepah dibuang..”
“Hah? Berarti Gue nggak ada manisnya dong?”
“Ember! Tapi untung aja Lo berangkat cepet hari ini, soalnya Gue lihat tadi Adam cs udah nungguin Lo di gerbang.”
“Menurut Lo, Gue harus gimana?”
“Menurut pengamatan Gue, Adam itu Cuma kena hasutan aja ama cecurut-cecurut sok itu. Jadi musuh Lo bukan Adam, tapi 5 anak most wanted itu.”
“Gue pikir juga kayak gitu..tapi herannya lagi, kenapa coba Adam mau banget dipengaruhi…” Belum sempat Rizal bercerita tentang nasibnya, tiba-tiba Ruci datang dan berlari menghampiri meja Rizal. “Zal, gawat! Lo harus kabur, Adam cs lagi nyariin Lo. Sebentar lagi mereka sampai di kelas ini…”
Rizal tersenyum dan mengambil tas ranselnya. “Kayaknya Gue mau main kucing-kucingan dulu deh! See you later..” Rizal mengambil langkah seribu menuju jendela belakang dan lompat ala maling profesional. Puput hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya ini yang kayaknya bangga banget deh dikejar-kejar.
Setelah jam pelajaran ke-3 usai, Rizal membenarkan celana abu-abunya dan tanpa sengaja melihat wajah tampan Adam. Adam mengawasi Rizal sembari membunyikan persendian jari tangannya, kayak orang ngajak berantem gitu. Rizal berdiri dari bangkunya dan tersenyum meremehkan Adam, “Kenapa? Tangannya keseleo? Perlu diobati?” Adam berdiri memukul meja dan memandang Rizal berapi-api, “Eh anjing, Lo masih punya nyali? Kalo Lo mau ngaku kalo Lo yang udah nyebarin ini semua, mungkin Lo nggak akan tersiksa..” Rizal berjalan mendekati Adam dan bertepuk tangan di depan wajah geram Adam. “Hebat..hebat..denger ya Dam, Gue nggak akan ngakuin kesalahan yang nggak Gue perbuat. Berapa kali Gue harus ngomong ke Lo kalo bukan Gue yang ngelakuin ini. Lo lebih milih percaya sama orang yang baru Lo kenal 15 menit daripada sama Gue yang udah 2 hari nemenin Lo.”
“Omong kosong! Gue..Gue..Gue muak ama Lo. Ini dari Gue..” Sebuah bogem mentah mencoba mendarat di wajah Rizal, namun tangan kurus Rizal menangkapnya tepat pada waktunya. “Dam..ini bukan Lo. Gue akan musnahin setan-setan pengganggu jalan pikiran Lo, demi ngedapetin Adam yang 2 hari Gue kenal.” Tiba-tiba 5 cowok bertampang kece berlari menghampiri Rizal. Namun lagi-lagi Rizal melompat melalui jendela belakang, namun kali ini dengan gaya berbeda. Ia melerusakan kaki dan menekuk kedua tangannya kedepan serta menjulurkan lidahnya, yah persislah kayak Lassie.
Rizal masih bersembunyi disemak-semak saat bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Puluhan orang sedang sibuk mencarinya termasuk Adam. Sofi yang mengetahui nasib buruk temannya ini hanya bisa gigit jari sambil terus memikirkan solusi untuk menyelamatkan Rizal. Tiba –tiba muncul ide konyol untuk ngerjain Bu Ida yang dikenal guru paling seksi dan nakal, nakal banget sih. Sofi mengambil cutter dari dalam tasnya dan berjalan mendekati guru bahasa inggris itu. Saat sang guru sedang tebar pesona dan bermain mata dengan setiap cowok keren yang lewat, Sofi membelah rok mini ibu tersebut sambil mengalihkan perhatian ibu seksi namun tak menarik ini. Alhasil, rok mini ibu ini semakin mini dan begitu mini hingga terlihat tulang paha kecilnya. Tak ayal semua mata tertuju kearahnya, herannya lagi ibu guru ini malah bangga diliatin and digodain sama anak-anak satu sekolahan. Dalam situasi heboh ini Sofi teriak-teriak mengundang semua cowok termasuk anak-anak yang lagi nyariin Rizal. Alhasil, Rizal bisa kabur dari tempat itu ketika semua cowok yang nyariin dia pada berpindah perhatian menuju Bu Ida yang kini mulai kiss bye sana-sini.
“Gila Lo Sof, nekat banget sih?” Ujar Rizal setelah Ia mendengar cerita Sofi. “Gue..eh kayaknya Lo harus ngerubah image Lo dimata anak-anak deh!” Sofi membenarkan ikatan rambutnya kemudian menyisir jari rambutnya yang panjang itu. “Edisud rahmat katolo, maksud Lo…”
“Ya maksud Gue, selama ini Lo kan dikenal sebagai anak yang disiplin and selalu berjalan lempeng dibidang akademik. Tapi Lo belon nyoba jadi cowok beken di sekolah kita.”
“Buat apa?”
“Ya elah! Buat apa! Tahu nggak, kalo Lo jadi cowok beken di sekolah bantuan bakal ngalir deres kayak air hujan.”
“Iya kalo hujan deres, kalo Cuma gerimis?” Rizal celingukan di halte menanti bus kota yang biasanya ngejemput dia pulang sekolah.
“Ihh…lucu! Secara tampang, Lo nggak ancur-ancur amat, bodypun bisa dibanggain. Akan tetapi kayaknya Lo belom nemuin style Lo deh. Lo tahu cowok beken itu bakal punya banyak temen, and temen itulah yang bisa bantuin Lo ngelawan Adam.” Sofi menggenggamkan kedua tangannya dan mengangkatnya setinggi mungkin. “Menurut Lo Gue bisa berjaya di bidang apa?”
“Pertama yang bisa kita coba and didemenin cewek adalah sport. Cowok yang berjaya di bidang sport itu paling didemenin cewek. Kalo ada cowok keren tapi letoy…sorry deh!”
“Jadi..??”
“Yups, jadi besok pagi jam 6 Lo gue tunggu dirumah Gue. Kita ke Mugas…Deal!” Rizal hanya mengangguk dan garuk-garuk nggak ngerti. Kena sindrom jenis apa sih Sofi ini, kok semangatnya menggebu-gebu banget. Cyapey dyeh…!!
Malam minggu kata orang malam yang paling indah. Tapi nggak bagi Rizal, Ia mengenang hubungannya sama Niken yang nggak genap 2 minggu. Saking sayangnya Rizal sama Niken, sampai-sampai Rizal nekat mutusin Niken demi keselamatan Niken. Harusnya malam ini Rizal bisa nge-date sama Niken, tapi itu Cuma kenangan. Rasanya Rizal pengen nelpon Niken and ngajakin dia pergi, tapi nggak mungkin Rizal ngedahuluin ego daripada akal sehat. Secara mereka berdua udah putus, jadi nggak ada ketergantungan dong. Tapi apa Niken juga memikirkan hubungannya sama Rizal ya? Atau malah…


   TING-TONG…bel rumah keluarga Niken berbunyi pelit, kayaknya baterenya abis deh. “Chaa..tolong bukain pintu!” teriak Ibu Niken dari dalam dapur. Icha yang kebetulan lagi nongkrong di ruang tamu langsung menuruti perintah ibunya itu. “Iya tunggu sebentar..” Icha melenggang menuju pintu rumahnya. Pintu terbuka dan seorang cowok putih dan tinggi tersenyum menunjukkan lesung pipit yang tersungging di kedua pipinya. Icha memandang cowok ini dari ujung rambut sampe ujung sepatu. Keren! “Ehm..Tante Siti ada?” Tanya cowok berhidung mancung itu kemudian. “Oh iya..emm..siapa ya?” Icha tersentak saking terpesonanya sama brondong mantap ini. “Saya anaknya Pak Danu.” Cowok itu menyodorkan bungkusan merah yang sedaritadi dibawanya ke arah Icha. “Oh, kamu anaknya Om Danu..ya ampun, pantes aja aku pangling. Secara kamu sekarang udah tumbuh besar dan tampan pula. Ayo masuk!” Icha menarik lengan putera Om Danu dan membawanya menuju dapur. “Ma, lihat siapa yang datang…” Icha memamerkan Adam pada ibunya dengan penuh gaya. “Icha, Mamakan udah bilang. Jangan bawa temen ke dapur! Nggak sopan tauk.” Sang Mama mengomeli Icha sambil menggerak-gerakkan sutilnya ke depan wajah Icha. “Mama..ini anaknya Om Danu. Siapa namamu?” Icha menyenggol lengan cowok itu. “A..Ad..Adam tante. Nama saya Adam!” Adam terbata-bata dan rada malu-malu. “Yaa ampun..Adam? Pantes tante pangling, kamu udah segede ini…cakep lagi. Ayo ke ruang tamu.” “Ini Tante, Mama nitipin ini…kue buatan Mama…” Adam meyodorkan bungkusan itu lagi. Tapi bukannya Tante Siti yang nerima, bungkusan itu disaut gitu aja sama Jenni yang lagi lari-lari.
Kini ruang tamu rumah Niken nggak sepi lagi, Adam disambut dengan ramah di rumah ini. Ayah Niken, ibu Niken, Icha, Joshua, dan Adam tentunya berkumpul di ruang tamu yang bisa dibilang besar itu. Beratus pertanyaan mengalir kayak air sungai dari keluarga besar itu. Adam sampe bingung mau ngejawab pertanyaan yang mana dulu. Didalam penyiksaan batin yang dialami Adam, tiba-tiba seorang cewek berkulit putih dan berambut segi sepunggung masuk melewati pitu rumah yang terbuka. Setengah shock Adam mencoba memastikan apa yang dilihatnya. Niken berjalan lemas melewati semua orang di ruang tamu yang terpaku melihatnya. “Ken!” Panggil Adam membuat Niken menghentikan langkahnya. Niken menoleh dan terdiam sesaat, Adam? Ngapain Adam ke rumah Gue? Ditengah kebisuannya, sang Mama berdiri dan langsung tertawa terbahak-bahak. “Jadi kalian sudah saling kenal? Ya ampun, memang dunia ini tidak selebar daun kelor. Ayo sini Niken, ikut ngobrol.” Ibu Niken menggenggam pergelangan tangan Niken dan langsung menggeretnya menuju kursi yang terbuat dari kayu jati. Dengan malas dan wajah muak Niken mengikuti perintah ibunya. “Kalian kenal dimana?” Tanya Icha mencairkan suasana. “Kebetulan kita satu sekolah. Walaupun beda kelas tapi…yah kita bisa saling kenal. Kebetulan! Pantes saya kok familiar sama pagar rumah tante.” Jelas Adam. Tiba-tiba sang Papa berdiri diikuti Ibu Niken ples Icha. “Kami kedalem dulu ya! Tante mau nyiapin makan malam. Kamu makan disini ya?” Ibu Niken menawari dengan penuh kehangatan. “Boleh tante.” Jawab Adam yang membuat Niken terbelalak kaget.
“Ngapain Lo kesini? Kok, keluarga Gue ramah banget sama Lo?” Niken mengangkat satu alis matanya mencoba menyelidik. “Nggak Gue sangka ternyata kita ini teman sejak kecil. Gue ini Adam anaknya Pak Danu, masa kamu nggak ingat?” Adam memajukan tubuhnya seolah ingin menarik perhatian Niken. “Nggak penting! Apa sih mau Lo? Kenapa Lo terus nyakitin Rizal? Gara-gara Lo Rizal jadi tertekan.” Bentak Niken dengan air muka marah. “Weitz, Lo nggak bisa nglupain anak Mama itu? Gara-gara dia juga Gue jadi kehilangan fans-fans fanatik Gue.” Adam menghilangkan senyum ngegemesinnya. “Eh, apa sih yang lebih penting dari sebuah persahabatan? Apa kepopuleran bisa ngegantiin kesetiaan Rizal selama ini? Lagian Lo nggak punya buktikan?”
“Gue nggak suka sama pengkhianat! Dan Rizal adalah pengkhianat. Pertama aja dia berlaku baik ke Gue, setelah itu dia nusuk Gue dari belakang. Kalo Lo jadi Gue, mungkin Lo bakal ngelakuin hal yang sama.”
“Semudah itu Lo berkesimpulan. Kalo umpamanya bukan Rizal yang ngelakuin hal itu gimana? Lo bisa bilang apa?”
“Sekali Rizal tetep Rizal, Gue nggak bisa salah.”
“Emang Lo dewa! Gue muak sama Lo, liat aja Gue bakal buktiin kalo Rizal nggak salah. Gara-gara Lo dia mutusin Gue!! Puas??” Niken berlari menjauhi ruang tamu dengan berlinangan air mata. Semua matapun tertuju pada Niken dan Adam secara bergantian. Adam shock dengan jeritan kemarahan Niken, apa akibat dari perbuatannya bisa sebesar ini.

Friday, 16 August 2013

Tiga


Keesokan harinya Rizal mamer-mamerin mobil trooper Adam pada kakaknya sebelum ia berangkat sekolah. Rencananya sih Rizal mau jemput Niken pake mobil ini, tapi apa kata Niken kalo sampe dia tahu kalo cara mengemudi Rizal masih awut-awutan. Akhirnya Rizal mengurungkan niatnya itu dan langsung bergerak menuju sekolahnya. Dan ketika Rizal sampe diparkiran sekolahnya dan turun dari mobil tampak wajah kekecewaan melanda seluruh cewek-cewek yang bela-belain baris dilapangan parkir hanya untuk menyambut kedatangan Adam. Tapi malang, yang ditunggu nggak datang malah beruk jantan yang turun dari mobil itu. Dan seketika itu pula muncul gosip kalo Rizal itu satu rumah sama Adam. Rizalpun jadi sasaran empuk fans-fans Adam yang nanyain ada apa gerangan kok Adam nggak berangkat. Dengan wajah tenang dan sok innocent, Rizal mengaku tidak tahu tentang hal itu dan menebak kalo Adam bakalan terlambat hari ini.
        Pertanyaanpun masih mengalir dari bibir para pemburu berita tentang Adam, ada yang nanya udah punya pacar pa belom, rumahnya dimana, nomer HP-nya berapa, ukuran sepatunya berapa, ukuran celananya berapa, sampe apa warna celana dalam kesukaannya. EM..A..ES..A..ES..I..masa siii? Tapi Rizal malah sok ngartis dan mengobral kata no comment pada para gadis-gadis muda dan banci-banci garang itu. Teman-teman Rizal yang melihat kesulitan Rizal itupun langsung khawatir akan keselamatan Rizal dan sebisa mungkin mengawalnya sampe masuk kekelas. Berlebihan ya? Tapi begitulah keadaannya.


“Vi..Gue sebel banget nih!” Ujar Niken dengan suara nyaring ketika sohibnya, siVivi baru masuk ke kelasnya yang terletak tepat diatas kelas Rizal. “Buseet! Gue dateng bukannya disambut dengan hangat malah diajak curhat. Ada apa neng?” Komentar Vivi sembari melempar tas sandangnya kebangkunya yang letaknya lumayan jauh. “Rizal..dia nyebelin banget. Tapi dia juga perhatian.” Rengek Niken nggak tahu mesti ngeluh apa. “Yang bener dong! Dia itu nyebelin apa perhatian?”
“Dua-duanya! Kemaren kita jalan-jalan keliling Semarang Vi!”
“Loh…bukannya itu malah bagus. Kok kamu malah nggak suka sih?”
“Iihh..bagus sih bagus tapi siAdam juga ngikut.”
“Nah itu lebih bagus lagi dong! Kenapa kamu nggak ngajak aku sih? Cowok keren kayak dia kok malah tidak diinginkan to?”
“Lo nggak tahu sih. Dia itu nyebeliiiin banget. Masa dia manfaatin peluang untuk nyuruh-nyuruh Rizal. Rizalnya juga gitu, dia mau aja disuruh-suruh sama Adam. Tapi Gue ngerti sih posisi Rizal emang sulit. Dan puncak kesebelan Gue yaitu Rizal nggak nganterin Gue pulang. Dia malah ngurusin Adam yang mabok, bener-bener mabok.”
“Apa? Mabok? Terus Lo?”
“Rizal naikin Gue ke taksi. Tapi dia bayarin taksi itu dan nyuruh supir taksi itu untuk nggak pergi sebelum Gue masuk rumah. Perhatian bangetkan? Makanya Gue bingung, Gue mesti ngambek ato nggak usah?”
“Ya kalo menurut gue, Lo ngambek aja. Biar Rizal sadar kalo Lo nggak mau dinomer duain. Tapi ngomong-ngomong, semalem Lo kemana sih?”
“Ke E-plaza. Mang kenapa?” Vivi hanya menggeleng dan tersenyum kecut.


Jam istirahat datang, dan Rizal masih bingung aja ngeliat bangku Adam yang masih kosong. Rasa khawatir tiba-tiba melanda Rizal yang lama-lama peduli juga sama Adam. “Ah, bodo amat! Ngapain Gue mikirin orang nggak penting kayak dia.” Gumam Rizal agak-agak nggak jelas. “Zal, Lo sakit ya? Kok ngomong sendiri sih? Nggak jelas lagi!” Ujar Sofi yang heran sama Rizal. “Oh, nggak kok. Cuma pake sampo! Eh, Lo nggak jajan sama temen-temen Lo?” Jawab Rizal sedikit nggak nyambung. “Fuiih, masih ada masalah intern dalam gank kami. Biasalah urusan cowok yang bikin salah paham.”
“Jadi ceritanya nasib gank kalian dalam ambang kehancuran nih?”
“Enak aja Lo ngomong! Nah Lo sendiri Gue lihat malah sering jalan bareng siAdam dari pada sohib-sohib kentel Lo itu.”
“Emm…Gue juga ngerasa nggak enak sama mereka. Tapi Lo liat sendirikan? Mereka udah terbiasa tanpa Gue. Padahal bukan maksud Gue nglupain mereka.”
“Houh, merana banget idup Lo. Kalo gitu kita jajan bareng aja! Gimana?”
“Oke deh, abisnya Lo maksa sih!”
“Idih-idih siapa juga yang maksa. Sok banget sih! Tapi sebagai orang yang senasib sepenanggungan kita harus bersama dalam suka dan duka.”
“Setuju! Merdeka! Merdeka!” Merekapun berjalan beriringan sembari menyanyikan lagu nasional, sorak-sorak bergembira. Pasangan duduk yang aneh!
“Ken! Lihat tuh cowok Lo!” bisik Vivi sambil nyedot-nyedot teh botolnya. “Mana? Oh itu, emang kenapa?” tanya Niken sambil celingukan. “Lo nggak liat dia jalan sama siapa? Lo nggak cemburu? Lo kan lagi marah sama dia?”
“Oh iya-ya, Gue lupa kalo Gue lagi marah sama dia. Bukannya cewek itu temen duduknya dia?”
“Ampun deh. Niken, siapapun cewek itu, mestinya Lo marah dong! Rizalkan cowok Lo!”
“Gitu ya? Eh cowok Gue ngeliat kekita noh! Hai…” Bibir mungil Niken dibekap oleh Vivi sehingga ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Eh sof, cewek Gue tuh. Lo belum kenalkan? Yuk Gue ajak kenalan.” Ajak Rizal menggeret lengan seragam Sofi. Ketika Rizal dan Sofi berjalan menuju kearah Niken, Vivi sibuk membisikkan wejangan-wejangannya. Dari berlagak lagi ngambeklah, sok jaimlah, nggak dengerin omongan Rizallah, nggak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutlah sampe berlagak lagi dapet. Benar-benar teman yang aneh.
“Pagi Ken! Gue mau minta maap tentang kejadian semalam. Sorry ya!” Sapa Rizal dengan mengumbar senyum manisnya. Tapi Niken terus aja nyedot jus melonnya ampe pipinya rada kempot. “By the way, kenalin ini Sofi. Dia temen sebangku Gue, teman gila-gilaan juga sih!” Sambung Rizal memperkenalkan Sofi. “Hai nama Gue Sofia Larasati, panggil aja Sofi.” Ujar Sofi sambil menyodorkan telapak tangannya. Tapi tidak ada reaksi apa-apa dari Niken. Sedikit malu Sofipun menarik kembali telapak tangannya dan senyum-senyum nggak tentu.
“Ken, Lo masih marah ya? Gue minta maap deh! Please, gue juga udah mutusin untuk ngebatalin perjanjian itu. Gue rela kena pelanggaran daripada Gue mesti kehilangan Lo.” Rizal mencoba mengambil hati Niken. Tapi sayang, usaha ini tidak berhasil. Niken masih saja menutup mulutnya dan menyedot jusnya yang sebenarnya udah habis. “Ken! Ken! Gue nggak tau harus ngomong apalagi supaya Lo maapin Gue. Please!” Rengekan kecil keluar dari mulut Rizal. Keadaan tidak berubah, malahan Niken menggandeng Vivi untuk pergi dari tempat itu. “Oke! Kalo itu mau Lo Gue bakal ngikutin! Lo boleh marah sama Gue, tapi Lo nggak boleh gini dong sama Sofi. Maksud dia baik, dia Cuma mau kenalan sama Lo! Gue nggak habis pikir!” Kali ini Rizal bener-bener marah dan nggak bisa membendung emosinya. Ia berjalan menjauhi kantin hingga tak tampak lagi sosok tubuhnya yang kurus. Niken tampak shock dengan kemarahan Rizal yang nggak dia sangka sebelumnya itu. “Ken, Lo boleh marah sama cowok Lo. Tapi nggak kayak gini, semua bisa diomonginkan? Selama Gue kenal sama Rizal, Gue nggak pernah ngeliat dia semarah ini.” Sofi memberi sedikit nasehatnya pada pacar temannya itu. Sofi tahu betul bagaimana Rizal, karena mereka sudah berteman sejak kelas VIII SMP.


Sepulang sekolah Rizal pergi kerumah Adam untuk mengembalikan mobil kawannya itu. Rumah Adam yang begitu besar dan mewah tampak sepi dan tak ada tanda-tanda kehidupan. Pintu gerbang yang berwarna hitam dan tampak kokoh terbuka dengan sendirinya. Mobil troper hitam masuk kehalaman rumah itu dan Rizal turun dari dalam mobil dengan cara melompati pintunya, biar keren kayak di tipi-tipi gitu. Naas, kaki kurus Rizal tidak mampu menahan badan Rizal yang tipis kayak tripleks. Alhasil, Rizal mendarat dengan posisi bokong duluan. Pendaratan yang mulus memang, tapi menyakitkan. Pembantu Adam yang kebetulan keluar rumah langsung ngakak ngeliat atraksi berbahaya ini. Parahnya, Rizal bukannya ngerasa malu malah senyum-senyum bangga dan dengan semangat mengatakan “Don’t try this at home!”. Spontan sang pembantu makin keras ngakaknya dan bicara dalam hati, kok ada ya bocah gemblung kayak gini dizaman yang serba maju ini.
Pintu kamar Adam sedikit terbuka, dan Rizal celingukan ngintipin siAdam. Adam tampak sedang main play station dengan bedcover tebal menyelimutinya. Perlahan-lahan Rizal masuk kekamar itu dan bermaksud mengageti Adam. “Udah nggak usah ngendap-ngendap kayak cacing gitu deh.” Ujar Adam tiba-tiba yang mengetahui kedatangan Rizal. “Yah, ketahuan deh. Padahal Guekan mau ngagetin Lo! Tapi ngomong-ngomong yang mengendap-endap itu maling deh bukan cacing.”
“Iya maksud Gue maling cacing. Ato juga cacing maling. Pokoknya Lo atur deh.” Ujar Adam yang mulai ketularan gurauan nggak bermutu ala Rizal. “Ngomong apaan sih Lo? Neh kunci mobil Lo. Makasih ya!” Ujar Rizal sembari melemparkan kunci mobil kekepala Adam. “Kurang ajar ya Lo! Tolong dong pintu kamar Gue ditutup!” Bentak Adam kesel tapi masih sempet nyuruh-nyuruh. Dengan senyuman lebar Rizal menuruti perintah Adam untuk menutup pintu kamar yang lumayan gede itu. “Bisa nggak Lo naikin mobil Gue?” Tanya Adam pesimis. “Walaupun nyendat-nyendat dan bermodal nekat, tapi Gue bisa sampe sini tanpa kekurangan suatu apapunkan? Eh Lo kenapa nggak masuk sekolah?”
“Lo nggak lihat keadaan Gue? Badan Gue terasa berat dan nggak enak banget.” Rizal mengelilingi kamar Adam dan melihat-lihat seluruh perabot yang ada. “Eh kunyuk, tadi malem Lo anterin Niken pulang?” Tanya Adam lebih lanjut. “Emm..nggak usah ngomongin dia dulu deh. Gue lagi sebel!”
“Parah Lo! Yang ada itu cewek sebel sama cowoknya. Mana ada cowok yang sebel sama ceweknya!”
Ada kok, Gue contohnya!” Jawab Rizal sembari memainkan koleksi mobil-mobilan Adam. “Berarti Lo nggak normal alias abnormal.” Sambung Adam yang kemudian ketawa mengejek. “Terserah Lo deh mau ngomomng apa. Yang penting abis ini Gue nggak bakal berurusan sama Lo lagi.” Kali ini Rizal serius dan bersungguh-sungguh. “Maksud Lo? Lo mau pindah sekolah? Atau Lo udah mau koid lagi.” Ujar Adam agak kaget dan menghentikan permainan gamenya. “Itukan harapan Lo. Lo itu udah jadi cowok populer disekolah, jadi nggak sulit untuk masuk komunitas cowok-cowok most wanted. Lo bisa berteman sama mereka, dan itu lebih menguntungkan daripada Lo temenan sama Gue. Lagian Lo bisa naik derajat kalo bareng mereka. That’s sound great, isn’t?”
“Gue masih nggak maksud sama basa-basi Lo. Intinya apaan sih?”
“Intinya Gue udah nggak sanggup jadi bodyguard Lo. Gue ngundurin diri.”
“Apa? Bukannya ntar Lo bakal dapet sanksi? Lo udah lupa sama perjanjian itu?”
“Ini udah jadi keputusan Gue. Gue tahu apa resikonya buat Gue. Yang penting Gue nggak usah merasa susah dan Lo nggak usah repot-repot ngeladenin Gue. Gue cabut dulu ya…” Suara Rizal dibuat sebijak mungkin. Adam hanya terdiam dan melanjutkan gamenya yang sebenarnya udah game over dari tadi.


Pagi ini suasana disekolah berbeda dari biasanya. Semua siswa-siswi dihebohkan oleh berita terhangat dan teraktual yang terpampang disejumlah mading disekolah itu. Bahkan berita ini tersiar melalui radio sekolah yang biasanya anti gosip. Adam datang tepat pada saat radio sekolah sedang menyiarkan berita ini secara langsung dari studio 1 trans tv (Maksudnya?). Dengan santainya Adam berjalan melewati sejumlah besar siswa-siswi yang melihat kearahnya. Adam merasa senang diperhatikan setiap hari, tapi kali ini ada yang aneh. Pandangan mereka lain dari biasanya, kali ini yang tersirat adalah pandangan melecehkan dan pandangan kecewa. Anehnya lagi, pada saat Adam membalas tatapan mereka dan tersenyum, siswa-siswi itu malah membuang muka dan pura-pura tidak melihat kearah Adam. Dengan perasaan yang berkecamuk, Adam terus melangkahkan kakinya menuju ke kelasnya.
Ditengah perjalanan, ia dihadang oleh cowok-cowok bertampang keren. Mereka adalah cowok-cowok most wanted yang diceritakan Rizal pada Adam. Dengan senyum sinisnya Adam menyapa orang-orang yang belum ia kenal sebelumnya itu. “Lo yang namanya Adam?” Tanya salah seorang dari mereka. Pemuda ini bertampang imut atau kata bekennya baby face, ia mengenakan sweater biru muda bermotif garis panjang yang ngepas badan. Sejenak Adam sempat iri melihat penampilan kelima cowok dihadapannya yang bener-bener pantas disebut idola oleh cewek-cewek sesekolah.
Dengan mantap Adam menganggukkan kepalanya membenarkan pertanyaan cowok bernama Dani itu. “Kita cuma mau ngasih sebuah tawaran ke Lo. Lo bisa terima atau bisa juga Lo tolak. Kita tau kalo sekarang Lo lagi naik daun dan jadi salah satu cowok most wanted di sekolah kita. Tapi sayang, ada yang iri akan kepopuleran Lo ini.” Dhika yang postur tubuhnya khas gitaris langsung berbicara serius. “Maksud kalian sebenernya apa sih? Asli Gue nggak ngerti.” Adam menanggapi pembicaraan yang serius itu dengan ketulalitannya. “Denger ya Brow. Some one want to damage youre name with gave a bad information about you for all of people here.” Anggara, cowok putih dan berhidung mancung menjelaskannya pada Adam. Tapi sayang, Adam bukannya paham dia justru semakin bingung.
“Ya seseorang telah menyiarkan berita buruk tentang Lo. Berita 2 hari lalu saat Lo mabok, Lo pasti inget dong!” Evan yang agaknya kurang suka pada Adam mengatakan hal ini dengan senyuman kecil di sudut bibirnya. “Tunggu, kalian tau dari mana tentang hal itu. Apa kalian juga ada di sana waktu itu?” Adam terperanjat mendengar perkatan Evan. “Bukan kita aja kali yang tau, tapi seantero sekolah ini tau akan hal itu. Jadi bahasa kasarnya, citra Lo udah ancur di mata anak-anak satu sekolah.” Ujar cowok berbadan tegap yang dari tadi menyimpan suaranya. “Bener apa kata Toro, dan Gue berani sumpah bukan kita-kita yang memberitakan hal ini.” Sambung Dhika membenarkan. “Kalo bukan kalian terus siapa? Gue? Ngaku aja, kaliankan yang nyebarin ini semua. Kalian irikan sama kepopuleran Gue.” Bentak Adam terbawa emosi. “Ups, be calm Brow. We just want to help you, but up to you..you like or dislike.” Lagi-lagi Anggara meluncurkan sederetan kata-kata dalam bahasa inggris yang bikin Adam makin pusing.“Haakh..siapa sih orang resek yang berani-beraninya nyebarin berita gila itu. Bikin malu Gue aja. Oke! Sekarang apa yang bisa kalian bantu? Kalian tahu siapa biang semua ini?” Tanya Adam dengan rona wajah yang memerah. “Masa Lo nggak tau? Lo nggak inget siapa aja yang jalan sama Lo waktu itu?” ujar Dani mulai pada pokok pembicaraan.
“Pergi bareng Gue? Rizal ama Niken, setahu Gue cuma mereka berdua yang tau kejadian ini. Tapi Gue sangsi kalo mereka berdua yang nyebarin gosip itu.” Adam mengerutkan dahinya.
“Lo cuma nggak percayakan? Tapi nggak menutup kemungkinan lho. Terkadang anak kayak gitu perlu diwaspadai karena justru merekalah biang onar.” Dhika mengangkat kedua tangannya. “Jadi intinya kita mau bantuin Lo balas dendam atas apa yang mereka perbuat ama Lo.” Toro mengeluarkan wajah liciknya. “Tapi nggak ada yang gratis di dunia ini. Lo musti mau jadi anggota tidak tetap gank kami supaya gank kami bisa ikutan ngetop. Deal?” Evan mengajukan persyaratan ini dengan senyuman licik menyelimuti bibirnya.
Adam tampak berpikir keras akan hal ini. Sesaat Adam teringat kejadian tempo hari di rumahnya. Adampun semakin mencurigai Rizal yang tiba-tiba saja meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Bel tanda masuk berbunyi dan Adampun segera mengambil keputusan. Dengan berat hati Adam menganggukkan kepalanya tanda setuju dan sebuah perjanjianpun dibuat. Rizal yang tampak berlari dari kejauhan hanya tersenyum lebar melihat keakraban Adam bersama kelima cowok populer itu.
Di dalam kelas Rizal tidak menyapa Adam sedikitpun ,begitu pula Adam. Mereka diem-dieman nggak penting, kalo secara kebetulan mereka berpandangan pasti mereka bakal buang muka dan pura-pura nggak lihat. Kejadian aneh ini disadari oleh semua anak di kelas itu sampai-sampai ada yang ngegosip kalo siAdam itu udah ngerebut Niken sehingga Rizal cemburu gitu. Acara diem-dieman yang disaksikan oleh sejumlah anak ini tetap terus bertahan walau bel istirahat berbunyi dengan keras. Mungkin acara itu bakal terus berlangsung walau ada tsunami, gempa, atau angin topan yang datang sekaligus, kecuali kalo ada cewek cantik yang lewat.


Dari kejauhan Rizal tidak sengaja melihat Niken berjalan melewati kelasnya. Tiba-tiba perasaan Rizal langsung berubah, Rizal merasa bersalah atas kejadian beberapa hari lalu yang ngebuat Niken ngambek sampe sekarang. Dengan gesit Rizal lari menghampiri Niken yang jalannya sengaja dicepet-cepetin. Ketika Rizal semakin mendekat, Nikenpun mempercepat langkahnya bagaikan atlet jalan cepet. Rizal yang bodohnya tidak sampai melebihi ambang batas makin menambah kecepatan dan tak mau kehilangan Niken begitu saja. Niken semakin mempercepat langkahnya 20 KM/jam, alhasil Rizal dan Niken jadi kejar-kejaran keliling lapangan sekolah dengan ribuan mata memandang kearah mereka.
Tepat di bawah pohon beringin yang lebat, Niken menghentikan langkahnya dan mengatur nafasnya sedemikian rupa. Rizal yang semangat dan sempat berada 10 meter di depan Niken jadi ikut-ikutan berhenti dan merebahkan badannya di bawah pohon beringin dengan beralaskan rumput hijau. “Cepet juga ya larimu! Aku sampe hampir kehabisan nafas gara-gara ngejar kamu.” Ujar Rizal dengan nafas tersengal-sengal. Niken yang semula marah jadi tak bisa marah lagi akibat keanehan Rizal yang semakin menjadi. “Zal, kamu itu gimana sih? Kan harusnya kamu ngejar aku. Tapi tadi kok kamu ngelewatin aku gitu aja, dan kamu sempat lari beberapa meter di depan aku. Emang kita lagi balapan?” Tanya Niken yang hampir tak tahan lagi menahan tawa. “Yaa, abisnya kamu pake acara lari-larian segala seh. Jadinya naluri atlet lariku muncul dan semangatku membara untuk nyalip kamu.” Terdengar gelak tawa Niken yang tampaknya tak terbendung lagi setelah mendengar alasan Rizal yang ajaib ini. “Ken, aku mau ngomong serius ma kamu. Kamu dengerin ya!” Rizal mengangkat badannya dan duduk di sebelah Niken. Niken yang menyadari keseriusan Rizal langsung menghentikan tawanya dan memandang penuh ke wajah Rizal.
“Heah…Ini tentang kejadian di E-plaza waktu itu. Aku minta maap banget kalo aku udah ngecewain kamu dan buat kamu marah. Mulai saat ini hubungan kita nggak akan terganggu lagi oleh Adam. Itupun kalo kamu masih mau ngelanjutin hubungan kita.” Ujar Rizal tertunduk penuh penyesalan. “Zal, Gue juga minta maap gara-gara Gue nggak bisa ngertiin posisi Lo dan juga tentang peristiwa di kantin itu. Tapi Gue rasa hubungan kita…” Niken terdiam sesaat membalas pandangan Rizal yang penuh harap. “Masa’ cuma gara-gara Adam kita putus? Najis deh! Apa kata dunia kalo gara-gara Adam hubungan kita kandas ditengah jalan, jangan sampe deh!” Niken dengan suara halus yang dicentil-centilin mencemooh Adam. Bahasa Niken yang nggak biasanya ini adalah pertanda buruk bagi masa depannya, karena tampaknya Niken sudah mulai terkontaminasi oleh Rizal. Rizal yang mendengar jawaban Niken ini langsung tertawa bangga sembari menyanyikan lagu India favoritnya. Parahnya Rizal menyanyikan lagu ini sembari joget ala India dan Niken yang pertama agak canggung jadi ikut-ikutan nyanyi ples nari. Jadi deh mereka berdua muter-muter pohon beringin sambil kejar-kejaran gitu. Serasa Kajol dan Sahrukh-khan deh, ampun gilanya.


Bel pulang sekolah terdengar nggak niat, pasalnya suara yang di keluarin nggak keras gitu alias lirih. Udah berapa tahun sih belnya nggak diganti? Bel rusak masih dipake!(kok malah Gue yang sewot) Adam yang saat itu sedang sibuk membereskan buku-buku di mejanya tiba-tiba dikagetkan oleh sapaan Rizal yang ajaib. Dengan wajah kaku dan sedikit ditekuk Adam melewati Rizal begitu saja tanpa kata-kata. Rizal yang merasa aneh jadi kebingungan dan garuk-garuk kepala. Tapi Rizal itu pemikir yang praktis, jadi dia mengambil kesimpulan kalo siAdam lagi kebelet boker atau malah ambeyennya lagi kumat. Jadinya Adam nggak punya waktu untuk bersendagurau dengan Rizal sebelum masalah dengan bottomnya beres. Kira-kira itulah kesimpulan yang dipikirkan Rizal saat itu. Benar-benar pemikir praktis yang sangat ekstrem.
Adam berjalan melewati barisan anak paskibra yang lagi latihan untuk upacara. Tak jauh dari barisan itu, duduklah kelima cowok keren yang tampaknya lagi ngomongin sesuatu yang seru. Dengan senyumnya yang nggak biasa Adam menghampiri kumpulan cowok-cowok itu dan bergabung dengan mereka. Dari kejauhan Rizal mengamati Adam yang tampaknya sedang ada masalah itu. Tiba-tiba punggung Rizal ditepuk dari belakang. Rizal membalikkan badannya dengan tanggap dan langsung memasang kuda-kuda ala kung fu hustle. Sesosok cewek langsing berambut keriting nan seksi yang tadi menepuk Rizal jadi latah dan masang kuda-kuda ala kung fu soccer. Tinggal ditambah efek angin, jadilah mereka seperti 2 orang remaja penggila kung fu.
“Weitz..jangan coba-coba. Sekali nendang dapet kembalian tiga kali nendang gratis.” Ujar cewek yang bernama Zenni itu. “Eh geblek! Lo udah bikin Gue shock, masih juga ngancem Gue yang nggak-nggak.” Gerutu Rizal rada keki juga dikagetin sama cewek macam Zenni. “Ada apa sih? Ngagetin Gue aja Lo!” Sambung Rizal sewot. “Gue cuma mau nanya tentang Adam ke Lo.” Jawab Zenni sembari membenahi baju seragamnya yang junkist. “Adam? Sorry Gue nggak ada hubungan lagi sama dia. Kalo Lo mau nanya, tanya aja langsung keorangnya. Kebetulan orangnya lagi nongkrong di sono noh!”
“Terserah Lo deh! Tapi Gue masih penasaran nih sama gosip terhangat hari ini.”
“Maksud lo? Gosip apaan sih?”
“Ya ampyuun..Rizal kemana aja Lo? Kayaknya Lo udah mulai ilang dari peradaban deh. Masa’ Lo nggak tau kalo siAdam itu sempat mabok-mabokan di e-plaza?”
“What? Darimana Lo tahu tentang masalah itu?”
“Rizal! Lo katro banget sih. Nggak Gue aja kali yang tau, tapi semua anak disekolah ini pasti juga udah tau. Yang pengen Gue tanyain gosip itu bener apa nggak. Soalnya kalo bener kasian banget siAdam, pasti dia lagi ada masalah jadinya lari kealkohol…” Belum sempat Zenni mengakhiri pertanyaannya sampe titik habis, siRizal udah ngilang gitu aja tanpa ninggalin pesan.
Sekarang Rizal udah berdiri dengan tegak di hadapan lima cowok keren ples Adam. Ada 12 mata yang memandanginya dengan horor dan pandangan membunuh. “Dam, bisa ngomong sebentar nggak?” Rizal dengan Pd mengatakan hal ini. “Kayaknya udah nggak ada yang bisa Lo omongin lagi deh sama Adam.” Dhika yang duduk di sebelah Adam mencoba menghalangi niat Rizal. “Gue nggak perlu ya ngomong sama Lo. Gue Cuma mau ngomong sama Adam, dan setau Gue nama Lo bukan Adam deh.” Jawab Rizal ketus. “Siapa Lo? Sejak pengunduran diri Lo kemarin, Gue udah nggak kenal siapa Lo. Cuma mereka yang Gue kenal semenjak Gue pertama kali nginjek sekolah ini.” Kali ini Adam mengeluarkan suaranya dengan perkataan yang buat Rizal shock. “Okey…anggep aja kayak gitu. Gue kesini bukan mau minta bales jasa dari Lo atau numpang terkenal tapi gue mau nge-clearin masalah gosip yang baru Gue denger barusan.” Adam berdiri dan mendekati Rizal. Wajah Rizal memerah menahan emosinya. Adam berbalik membelakangi Rizal dan secepat kilat menjatuhkan bogem mentahnya tepat ke pipi kiri Rizal. BOUGH!! Rizal semakin shock menerima pembalasan Adam yang nggak pada tempatnya itu. “Lo..Lo yang udah buat citra Gue ancur di mata anak-anak. Sekarang berani-beraninya Lo nampakin batang idung Lo di depan Gue.” Teriak Adam geram. “Terserah Lo deh. Gue rasa apapun yang bakal Gue jelasin ke Lo nggak akan ada artinya. Heahh… Gue mau ngingetin doang, Lo boleh ngapa-ngapain Gue tapi Gue harap Lo nggak nyentuh Niken sedikitpun. Gue yakin Niken nggak ada sangkut pautnya sama peristiwa ini.” Suara Rizal yang agak gemetar Ia buat setegas mungkin. Jari telunjuknya yang lumayan panjang diacungkannya tepat di depan hidung Adam.Tanpa menunggu jawaban dari Adam, Rizal membalikkan badannya dan pergi dari kumpulan orang beken itu.


KRING>>KRING>> “Halo..” Suara Niken yang halus terdengar merdu di saluran telepon. Rizal yang saat itu sedang gundah gulanah memutuskan untuk menelepon Niken. Hanya dia dan Niken yang mengetahui peristiwa malam itu. Jadi biang keladi semua ini kalo nggak Rizal ya Niken. “Eh kamu Zal..ada apa sayang?” Niken menerima telepon itu dengan penuh kemesraan dan kehangatan. “Ken kamu tahu siapa yang udah nyebarin berita tentang Adam? Aku agak nggak enak nih sama Adam, soalnya Adam ngiranya kita berdua yang nyebarin berita itu.” Niken nggak jawab pertanyaan Rizal yang simple itu. Bahkan Niken malah nutup gagang telponnya sehingga siRizal kesambung sama Tutut.
Rizal mencoba merebahkan badannya di atas kasur jepangnya, namun ketika Ia mulai memejamkan matanya rasa sakit di pipi kirinya langsung terasa. Rizal jadi teringat akan kejadian beberapa hari lalu yang udah ngebuat dia berada deket banget sama Adam. Selama ini Rizal emang nggak pernah punya sahabat cowok. Sahabat yang dilihatnya di tipi-tipi itu lho, yang bisa diajak hang out bareng, camping bareng, nyari cewek bareng, ngeband bareng. Pokoknya hidup kayak anak kembar gitu deh, yang udah sama-sama cocok dan bisa diajak curhat. Tapi harapan itu kandas begitu Rizal menginjakkan kakinya di sekolah tadi pagi. Seakan-akan Rizal lah yang bersalah atas kejadian di E-plaza dan gosip yang beredar tentang Adam itu. Sekali lagi Rizal membuka matanya dan meraih handphone warna merah metaliknya. Ingin rasanya Ia menghubungi Puput yang biasanya selalu bisa diajak curhat, tetapi saat Ia memeriksa pulsa di Hpnya hanya 100 perak yang tersisa. Benar-benar kasian Rizal, udah merana..miskin lagi. Tobat..tobat.