Rizal membasuh mukanya dan mengeringkannya dengan
sepotong handuk kecil. Dengan cepat Ia mengenakan setelan baju basket biru
muda. Jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan angka 6 kurang seperempat.
Padahal Rizal janjian ama Sofi bakal ke Mugas jam 6, bisa pecah perang dunia ke-3 nih kalo
sampe Rizal telat. Dengan kecepetan penuh Rizal mengendarai Mio merah yang
dipinjem secara paksa dari kakaknya. Mana pake jambak-jambakan dulu lagi, demi
mencari jati diri…why not?
Udara pagi Semarang
yang dingin menerpa badan kurus Rizal. Rizal mempercepat laju motor jetmatic
kakaknya hingga kecepatan 80 Km/jam. Kurang dari 15 menit Rizal sampai di depan
rumah Sofi yang dicat pink. Saat itu siSofi tengah duduk bersandar di kursi
teras dengan mata setengah tertutup. TIN..TIN.. Rizal membunyikan klakson
motornya untuk menyadarkan Sofi. Dengan tanggap Sofi meraih vas bunga di
sampingnya dan langsung berteriak kencang, “Maling..maling..ada maling..”. Kontan
Rizal tertawa terbahak-bahak melihat ulah sobatnya yang ajaib itu.
“Eh kunyuk, Lo kok bisa telat sih?” Tanya Sofi yang
duduk di belakang Rizal. “Ya…abis semalem Gue sulit tidur sih! Jadinya
kesiangan deh! Motor ini aja Gue pinjem paksa dari kakak Gue.” Jelas Rizal
sambil terus memacu Mio merahnya. “Makanya Lo jangan kebanyakan mikirin Gue.
Gue nyadar kok kalo Gue itu wanita idaman pria, tapi nggak usah segitunya
kali…!” Kali ini Rizal memilih diam dan membiarkan Sofi nyerocos sesuka hati.
“Fi…Lo tahu nggak Mugas itu dimana? Sebelah mananya bandara?” Potong Rizal
dengan wajah cupu ples nggak bersalah. Sofi menelan air liurnya sebanyak
mungkin biar nggak shock ngedenger pertanyaan Rizal yang begitu ekstrem.
“RIZAAALL…MUGAS ITU JAAAUUH DARI BANDARA DONG-DONG!” Teriakan sopran Sofi
menarik perhatian pengendara lain, sampe-sampe mereka geleng-geleng ngeliat
tingkah 2 remaja ini.
Mugas adalah sebuah gelanggang
olahraga yang sebenernya sih nggak jauh-jauh amat dari sekolah Rizal. Sesampainya
di Mugas Rizal langsung melakukan beberapa gerakan pemanasan. Yah biar keliatan
kayak atlet profesional aja. Sofi menghampiri Rizal yang asyik mengangkat kaki
kanan nya ke atas. “Pertama Lo muter lapangan ini dua kali. Abis itu Lo gabung
sama mas-mas ganteng yang disana buat main basket. Oke?” ujar Sofi sambil
mengacungkan sebatang dahan pohon ke arah lapangan basket.
“Gue? nah Lo apa kabar?” Rizal sedikit
heran mendengar perintah janggal itu. “Gue yang udah semlohai ini cukup
olahraga ringan aja, karena gue parno kehilangan satu kilogram berat badan
gue.” Setengah merinding mendengar alasan Sofi, Rizal memutuskan untuk memulai
lari paginya. Biarlah sampe tiga atau empat kali putaran sekaligus. Itu lebih
bagus daripada harus mendengar ocehan narsis teman sebangkunya itu.
Rizal menyelesaikan putaran keduanya
dengan sedikit menggerutu. Bagaimana tidak, Sofi bukannya ikut berlari malah
asyik menjajal segala macam jajanan di pinggir lapangan. Yah walau sesekali dia
tersenyum manis pada mas-mas tampan yang lewat juga. Tapi menurut Rizal itu
annoying banget. “Sof, minum dong.” Pinta Rizal ketus ketika ia sampai di depan
Sofi. “Galak bener kayak tukang parkir nggak dibayar aja, nih.” Sofi
menyodorkan sebotol air mineral ke hidung Rizal. Kemudian ia kembali melahap
sebungkus cireng ditangannya.
“Next Lo latian basket gih sama
mas-mas disana.” Sofi menyamber botol minuman yang masih dinikmati Rizal.
‘Glek’ ‘Glek’ Rizal hanya bisa pasrah melihat Sofi menghabiskan sisa air
dibotol itu. “Malah ngelamun. Ayo!” Desak Sofi sembari mengacungkan dahan pohon
di tangannya. “Tapi Sof Gue kan nggak kenal.” Jawab Rizal mengambil
ancang-ancang untuk berdiri.
“Sport itu bisa menyatukan segalanya.
Tenang aja...” Timpal Sofi yang berbinar melihat jejeran cowok-cowok tampan di
lapangan basket. Rizal pun menyerah, demi tekadnya yang bulat ia akan melakukan
segala cara. Termasuk mengikuti saran Sofi demi memuaskan nafsu pribadi
kawannya itu.
Rizal masuk ke dalam arena lapangan
basket yang berjarak 10 meteran dari tempatnya beristirahat tadi. Dengan sopan
ia menyapa semua pemain dan mengobrol dengan salah seorang pria berbadan tinggi
besar. Yah kurang lebih 20 cm lebih tinggi daripada Rizal. Sofi mengamati
pemain-pemain lain yang sedang melakukan pemanasan di tengah lapangan. Tanpa
Sofi sadari si Rizal udah main nyelonong aja ketengah lapangan dan berbaur
dengan mereka. Sofi yang merasa bangga dengan kesupelan Rizal yang fantastis
itu pun memberikan yel-yel semangat pada kawan nya itu. Dengan bermodalkan
rambut yang panjang, ia memutar-mutar kepalanya sambil menyanyikan lagu kucing
garong. Nggak cukup itu saja, Sofi yang berkali-kali ditolak jadi cheerleader
di sekolah nya ini juga nekat kayang di depan lapangan. Alhasil, atraksi ini
lebih mirip trio macan lagi manggung ketimbang cheerleader profesional.
Satu jam telah berlalu dan Sofi
terduduk lemas dengan sampah-sampah plastik bertebar di sekitarnya. Dalam
rangka mensupport sahabatnya itu ia telah menelan lebih dari 20 pentol bakso, 5
roti bakar, 4 bungkus es teh, dan berbagai makanan lain yang tabu untuk disebutkan
satu persatu. Di dalam lapangan basket permainan baru saja berakhir dan Rizal
tampak sedang asyik mengobrol dengan kapten tim nya tadi. “Kamu masih sekolah?”
Tanya sang kapten sambil membersihkan keringat di lehernya.
“Iya mas, aku kelas X di SMA sebelah.”
Jawab Rizal sembari bersalaman dengan pemain yang lain. “Oh ya, permainan mu
bagus kok. Nggak tertarik ikut tim bola basket sekolah?” Tanya sang kapten
lagi. “Belum mas. Dari dulu cuma hobi aja sih sebenernya. Nggak ada pikiran
buat ikut tim bola basket.” Sesekali Rizal melirik ke arah Sofi yang terus
melahap cireng ke sekian juta sambil menatap pemain-pemain lain dari atas ke
bawah. Satu persatu. Bener-bener maniak ni anak.
“Gini aja, kebetulan aku nglatih tim
basket sekolah mu. Besok kamu dateng jam 3 buat latihan. Kebetulan kita lagi
menjaring anak-anak baru buat kompetisi basket semester depan.” Ujar kapten tim
itu mengalihkan perhatian Rizal. “Apa? Beneran mas? Boleh?” Rizal terbelalak
kaget. Sang kapten yang ternyata juga seorang pelatih itu pun mengangguk
optimis. “Dan satu lagi. Aku titip salam buat temen mu yang diluar itu. Aku
terkesan akan kekuatannya untuk melahap semua jajanan-jajanan itu.hahaha” Pria
berkulit cokelat itu pun tertawa dan meninggalkan Rizal yang sedikit malu akan
kelakuan temannya itu.
“Udah selese latihannya?” tanya Sofi
dengan mulut penuh cilok. “Udah selese makannya? Ayo kita pulang. Capek nih.”
Rizal menggeret kuciran rambut Sofi yang lebih mirip rambut jagung. “Oh iya, Lo
dapet salam dari pelatih tim bola basket tadi.” Sofi yang awalnya ogah-ogahan
meninggalkan tempat pewe nya langsung beranjak dan menyamai langkah Rizal.
“Waaa...masak? Dia bilang apa?” Tanya Sofi cengar-cengir. “Dia terkesima sama
kemampuan Lo makan semua jajanan tadi.” Jawab Rizal datar. Bagai jatuh dari
langit ketujuh langsung ke neraka si Sofi cemberut secemberut mungkin.
Sampai-sampai nggak bisa dibedain mana bibir Sofi mana pantat ayam.
Malam hari dirumah Niken suara gaduh
terdengar seperti malam-malam lainnya. Tapi kali ini dilebih-lebihkan dengan
berita adanya perjodohan antara Niken dan Adam. Sebenarnya hal ini baru
sepintas wacana aja, tapi Mama Niken yang terobsesi dengan sinetron
kesayangannya terus mendesak Niken untuk mengiyakan ajakan nge date si Adam.
“Tapi Ma, Niken itu baru aja putus sama cowok Niken gara-gara si Adam.” Niken
terus menolak sodoran gaun yang diberikan Mamanya. “Niken, kamu itu nggak bisa
hidup dalam masa lalu terus. Kamu mesti move on dong.” Si Mama yang emang dasar
udah keracunan sinetron jadi mulai ketularan lebay. “Niken tau, tapi Ma...”
‘TING TONG’ “Nah itu pasti nak Adam,
ayo kamu pake ini aja. Udah cepetan. Apa mau Mama potong lagi uang jajan mu?”
Niken pasrah. Ancaman potong uang jajan adalah ancaman terbesar bagi hidup
Niken. Potong uang jajan rasanya seperti ngiris-ngiris jari sendiri. Perih.
Apaan sih??
Adam duduk menunggu di ruang tamu
ditemani Icha kakak Niken yang nggak kalah lebay sama si Mama. Awalnya sih Adam
oke-oke aja ngeladenin obrolan si Icha yang ngalor ngidul nggak jelas. Tapi
makin lama Icha semakin menjadi dan membuat Adam BT. Pasalnya Icha mulai curhat
tentang kehidupan cintanya ke Adam. Yang pernah punya pacar bule angola lah,
yang pernah dilamar pilot pesawat televisi lah, pokoknya macem-macem deh.
Yah, Icha emang hobi banget curhat.
Hampir semua orang pernah jadi korban curhatannya. Nggak terkecuali persatuan
pembantu-pembantu di kompleks Icha yang notabene nya adalah pembantu-pembantu
islami yang rata-rata berkerudung. Mereka merupakan korban terparah curhatan Icha yang
bingung mesti curhat ke siapa lagi. Mungkin itulah salah satu penyebab maraknya
kasus tentang pembantu-pembantu yang kabur dari rumah majikan nya di kompleks
Icha.
Setelah menunggu lumayan lama akhirnya
penderitaan Adam berakhir sudah. Niken keluar dari kamarnya di ikuti sang Mama yang
senyum-senyum sendiri. Niken mengenakan dress panjang berwarna biru muda
lengakap dengan tas tangan berwarna senada. Di sebelahnya sang Mama dandan
lebih heboh dengan setelan gamis berwarna merah ngejreng dan gelang emas
berjajar di tangannya. “Tante mau ikut nonton juga?” Tanya Adam ragu-ragu.
“Oooo..tentu tidak, Tante mau pengajian di rumah sebelah. Tante kan ibu-ibu
eksis yang glamour tapi tetap rendah hati dan rajin bersedekah. Kamu hati-hati
ya nyetirnya, jangan ngebut-ngebut, di jalanan banyak kendaraan. Kalau pulang
jangan malem-malem, kalo bisa malah pagi sekalian aja pulangnya. Biar nggak
masuk angin.” Niken melirik Mamanya heran. Buset nih ibu-ibu kesambet setan
manalagi coba. Sedangkan Icha sibuk mendiamkan si bungsu Jenny yang menangis
histeris, “Huwaaa..mama ku gilaaa...huwaaaa”
Mobil Adam melesat melewati jalan
Arteri yang padat. Niken membisu di kursi depan mobil Adam. Tangannya terus
meremas-remas tasnya. Bukan meremas-remas yang lain loh. Apaan coba. “Kamu
masih marah?” Adam mencoba menghangatkan suasana. “Oh, nggak. Aku Cuma nggak
nyangka aja tentang semua kejadian akhir-akhir ini.” Niken terus menatap ke
punggung mobil Carry di depannya. “Masalah si brengsek itu lagi?” Adam meninggikan
suaranya. “Jangan menyebutnya seperti itu. Setidaknya hormati dia sebagai
mantanku.” Niken melirik ke arah Adam dengan tajam. Setajam silet.
“Maaf.” Adam harus menjaga perilakunya
di depan Niken. Semua ini dia lakukan untuk menjawab tantangan kawan-kawan
barunya di sekolah. Ia harus merebut hati Niken dari Rizal. “Sampai kapan?”
Niken kembali bersuara. “Apanya?” Adam menambah kecepatan mobilnya melewati
jalan supriyadi yang lengang. “Kamu dan kawan-kawan barumu ngerjain Rizal.”
“Bisa nggak malem ini kita skip
obrolan tentang mantan mu tercinta itu. Karena tujuan ku ngajak kamu pergi
adalah untuk mengenal kamu lebih jauh. Bisa kan?” Adam menahan nada suaranya
senormal mungkin. Niken membisu. Ia tidak bisa memberikan tanggapan apa-apa
mengenai pernyataan yang mengejutkan dari Adam.
Sekolah berjalan seperti biasa dan
Rizal pun dikerjain seperti biasa. Kali ini giliran celana abu-abu Rizal yang
terkena tempelan permen karet. Ditambah juga sama aksi oknum-oknum tertentu
yang menyiarkan kabar mengenai Rizal yang disebut gay. Tapi Rizal tetaplah
Rizal yang cuek. Ia tetap berangkat ke sekolah walaupun dijauhi teman-teman
cowok dikelasnya. Plus di deketin sama kelompok anak-anak gay di sekolahnya.
Bel pulang sekolah berbunyi dan Rizal
tengah asyik bercanda dengan Sofi and the gank di depan kelas. Yah urusan dalam
negeri mereka sudah beres jadi mereka mulai intensif kumpul bareng lagi kayak
dulu. “Zal, kata Sofi Lo kemarin ikutan main basket di Mugas ya.” Puput yang
merupakan atlet basket sekolah sedikit heran dengan potensi tersembunyi
kawannya ini. “Iya put, demi memenuhi kebutuhan napsu nya si Sofi yang pengen
cuci mata. Gue jadi korbannya.” Rizal memicingkan mata bulatnya ke arah Sofi.
Sofi tersenyum centil sambil memainkan
rambut kucir kudanya. “Ya udah, Lo sekalian aja ikutan latihan basket ntar
sore.” Ajak Puput semangat. “Iya, kemarin kebetulan ketemu sama pelatih tim
basket sekolah kita. Dia ngundang Gue latiahan jam 3 ini.” Ujar Rizal yang asyik
merhatiin tiga makhluk disampingnya yang lagi pijit-pijitan.
“Mas Tomo?” Tanya Puput kaget. “Iya
kali, aku nggak tahu namanya. Kebetulan kemarin kami maen bareng. Dia juga
sempet kirim salam malahan ke Sofi.” Rizal memandang wajah Sofi yang memberikan
suatu isyarat. Entah dia memberikan isyarat untuk diem atau emang otot-otot
muka si Sofi sudah mulai mengendur. Hanya Sofi dan tuhan yang tahu.
Dari kejauhan Adam cs memperhatikan
gelagat lima remaja di depan kelas itu. “Kayaknya gosip tentang Rizal gay itu
berhasil Add. Tinggal nunggu waktu aja sampai akhirnya dia pindah sekolah.”
Komentar Dhika yang sedang asyik memetik senar gitarnya. “Kenapa bisa si tolol
itu berkawan baik dengan ke empat cewek itu?” Toro yang dari dulu jatuh hati
sama salah satu di antara mereka terheran-heran.
“Masalah kah? Kalo mereka mulai ikut
campur kita kerjain aja sekalian. Gimana?” Usul Evan sembari menyandar pada
mobil sedan kebanggaannya. “Jangan. Itu bukan ide bagus.” Ujar Dani yang
sedaritadi memperhatikan Puput dengan seksama. “As you know guys. Puput is our
basketball player, Dhiba is fuckin popular, Retno is the headmaster’s daughter,
but Sofi is nothing.” Ujar Anggara yang
lagak-lagaknya kayak bule kesasar. Adam memandang mereka satu persatu.
Mungkinkah ini adalah jawaban untuk pertanyaan Niken tadi malam. Cukup sampai
disini saja penyiksaan untuk Rizal?
Seminggu telah berlalu dan hari minggu
pagi ini si Rizal masih terbaring malas dikamarnya. Teriakan sang Mama yang
daritadi membangunkannya tidak dihiraukan. Rizal telah menjalani hari-hari yang
melelahkan di sekolah, dengan ulah Adam cs yang nggak bosen-bosennya ngerjain
dia sampai aktivitas barunya setiap sore. Latihan basket. Jadi sudah pantas
jika Rizal ingin memanjakan diri sejenak di tempat tidur.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan
kepala Mama Rizal mencungul masuk kedalam. “Rizal kamu mandi sana. Temeni Mama
nyari kado buat nikahan anaknya Bu Gianto.” Ujar Mama sembari membenarkan roll
rambut di poninya. “Sama mbak aja kenapa sih, Rizal capek nih.” Rizal menaikkan
selimut nya lagi. “Ehh..mbakmu kan lagi magang keluar kota sampe bulan depan.
Lupa ya? Ayo ah, ntar mama beli-beli in deh.” Rizal membuka matanya
bulat-bulat. Kata ‘beli-beli in’ terdengar cukup menjanjikan untuk tipe ibu
super pehitungan seperti mamanya. Rizal pun bangun dan bergegas ke kamar mandi.
“Adduhhh Rizal, kamu kok tidur nggak pake celana sihhh, jorok banget....”
Di dalam sebuah pusat perbelanjaan di
kawasan simpang lima Rizal berjalan mengekor Mamanya. Ia bukannya takut kehilangan
Mamanya tapi lebih takut kalo Mamanya sampai menabrak barang-barang dagangan
orang karena body nya yang super duper aduhai. “Mama mau nyari kado apa? Kok
kita malah muter-muter nggak jelas?” Rizal mulai terganggu dengan ulah Mamanya yang
selalu berhenti setiap satu meter sekali itu. Kayak angkutan nyari penumpang
aja nih si Mama.
“Muter-muter gimana? Mama itu lagi
nyari barang diskon, jadi bisa dapet barang lebih banyak. Tunggu disini
sebentar.” Mama Rizal yang emang udah punya karakter perhitungan dari kecil itu
langsung bergabung dengan ibu-ibu lain berebut barang diskonan 10 menit di
dekat tangga. Rizal hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan mama nya yang
maniak diskon itu.
Rizal berdiri bersandar pada pohon
plastik besar sembari menunggu Mamanya dari pertempuran sengit dengan
wanita-wanita setipe. Yah tipe-tipe perhitungan yang kemana-mana lebih suka
bawa kalkulator daripada ponsel. Dilihatnya arah jarum jam di tangannya dengan
malas. Jarum pendek dan jarum panjang menunjukkan angka 12. Padahal jam 4 nanti
Rizal ada pertandingan basket melawan anak kelas XI untuk ujian masuk tim inti
bola basket di sekolahnya.
Ditengah-tengah lamunannya Rizal
menemukan dua sosok manusia yang tampak tidak asing baginya. Seorang pria yang
dikenalnya sebagai Adam ditemani dengan seorang wanita cantik yang membuatnya
terkejut. Niken berjalan menggandeng Adam yang tangannya dipenuhi barang
belanjaan.
“Ayo Zal..Mama udah dapet seprei sama
gelas-gelasan nih. Kamu mau minta apa?” Cengir Mama Rizal yang bangga telah
mendapatkan harga murah untuk barang-barang tersebut. “Pulang aja yuk
Ma...Rizal capek.” Rizal kehilangan semangatnya secara tiba-tiba. Ia melupakan
kata-kata ‘beli-beliin’ yang sempet diucapkan Mamanya. Ia berjalan ngeloyor
begitu saja meninggalkan si Mama yang heran sama ulah anaknya itu. Tapi si Mama
cuek aja, kalo gini kan si Mama nggak perlu keluar duit lagi untuk beli-beli in
si Rizal.
Rizal memasuki tempat latihan basket
dengan lemas. Ia terus terbayang-bayang akan kemesraan yang dipamerkan Adam dan
Niken siang tadi. Semudah itukah Niken melupakan Rizal dan berpaling pada Adam.
“Woooii..ngelamun aja!” sebuah suara menggelegar dan pukulan keras mengagetkan
Rizal. “Eh Puput, resek Lo.” Rizal memberikan senyuman kecilnya. “Kenapa Lo?
Kesambet setan dari kamar mandi cewek? Manyun aja kayak suster rumah sakit.”
Puput meletakkan tas ranselnya di sebelah Rizal. “Bisa aja Lo, nah tu orang
ngapain disono. Pake dada-dada segala lagi ke gue. Dikira kita mau lepas
landas.” Rizal memperhatikan Sofi yang duduk di kursi penonton.
“Apalagi modus nya kecuali cuci mata.
Tuh anak kan kena penyakit stres menahun.” Puput membalas lambaian tangan si
Sofi. “Tadi Gue waktu nganterin nyokap gue belanja ngelihat Adam jalan sama si Niken.”
Cerita Rizal tiba-tiba. Puput menghentikan aktivitasnya dan duduk disamping
Rizal. “Maaf, gue nggak tahu. Tapi Lo nggak papa kan?” Ujar Puput sembari
memberikan tonjokan ringan ke lengan Rizal. “Jangan libatin masalah Lo ke
permainan ini ya, inget alasan Lo ikut latihan basket wajib diganti. Lo punya
potensi, jangan cuma gara-gara wanita atau image Lo nyia-nyia in potensi Lo.”
Puput memberi wejangan singkat sebelum akhirnya ia turun ke lapangan untuk
bertanding.
Pertandingan antar angkatan untuk menjaring
generasi penerus tim bola basket sekolah Rizal berlangsung dengan seru. Dan
Rizal terpilih sebagai salah satu pemain di tim bola basket sekolahnya. Walau
gosip tentang Rizal yang dibilang gay masih berkembang namun hal itu tidak
mengucilkan hati Rizal. Lagipula pemain-pemain satu tim nya tidak terlalu
peduli akan itu semua. Tapi bukan berarti mereka semua gay loh.
Sebagai perayaan akan keberhasilan
Rizal, ia mengajak Puput dan Sofi untuk mekan mie ayam di dekat sekolahnya. Yah
itung-itung berbagi kebahagiaan dengan kaum dhuafa lah. Tentu sebagai penggemar
aneka jajanan Sofi mengiyakan ajakan itu. Ia sudah berencana memesan 3 mangkok
mie ayam bakso plus 2 gelas es teh sebelum berangkat. Sofi emang kebiasaan
ngemindset dirinya sendiri biar nggak khilaf nantinya. Kalo wanita ini sampe
khilaf, udah deh, dia bakal memborong semua persediaan mie ayam sekota
Semarang. Kan kasihan para pecinta mie ayam di Semarang. Masak mau makan mie
ayam aja harus pergi ke Solo atau Jogja.
Rizal yang sedang asyik berjalan
sambil bercanda dengan kedua sohibnya itu dikagetkan dengan hadirnya beberapa orang
berpakaian hitam. Mereka adalah para berandalan yang biasa nongkrong di daerah
situ. “Eh Lo bocah, gue ada urusan sama Lo.” Hardik salah seorang dari mereka
sembari menunjuk Rizal. Rambutnya yang kaku diberdiriin ke atas kayak sapu ijuk
dibalik. “Maaf bang, ada urusan apa ya?” Rizal yang merasa nggak pernah punya
bisnis sama berandalan-berandalan itu pun kebingungan. “Ih nantangin Lo ya,
anak anjing Lo, Lo kagak bisa di omongin baek-baek ya.” Timpal berandalan yang
lain sembari mengayun-ayunkan batang kayu besar ditangannya.
“Eh Bang, kalo malakin kira-kira dong.
Penampilan kita aja nggak ada yang borju.” Sofi menunjuk-nunjuk wajah
berandalan di depannya. “Sof, Lo diem aja deh. Bisa kacau urusan.” Bisik Rizal
rada keder juga. “Eh Lo yang cowok sendiri, sini ikut gue!” ujar sang
berandalan. Rizal maju selangkah demi selangkah, “Set dah, cepetan dikit napa?
Banci Lo!” teriak seorang yang lain. Ketiga berandalan itu bertampang sangar
dan mengkhawatirkan. Rizal hanya bisa menuruti perintah mereka.
Sesampainya Rizal di dekat mereka
sebatang kayu pun berayun dengan cepat dan hampir mendarat di badan Rizal.
Namun Rizal berhasil menangkisnya dengan tangannya. Puput yang dari tadi sudah
mengambil ancang-ancang langsung menyerang membabibuta dengan tas ranselnya.
Sofi berteriak histeris. Entah ketakutan entah juga jijik melihat
berandalan-berandalan dekil yang bau terasi itu.
Sempat menjadi bulan-bulanan, Rizal
akhirnya terselamatkan dengan datangnya Mas Tomo dan kapten timnya, Mas Satria.
Dengan postur tubuh yang lebih meyakinkan kedua pemuda berbadan gelap ini
menghajar ketiga berandalan tersebut hingga dua diantaranya kabur dengan jalur
zigzag. Kayak dikejar babi hutan aja nih berandalan. Sedangkan seorang yang
tersisa dipiting oleh mas Satria yang keringetnya masih mengucur deras. Bisa
dibayangin kan bagaimana naasnya penderitaan berandalan amatir ini. Mas Tomo
dengan gagah dan membuat Sofi terpesona mencengkram leher si berandalan.
“Ngapain Lo nggebukin anak kecil?” Tanya Mas Tomo dengan wajah garang.
“Ampun mas, saya disuruh.” Rengek
berandalan itu meminta ampun sambil menyeka keringet Mas Satria yang netes di
mukanya. “Siapa yang nyuruh? Udah bagus Lo di baik-baikin sama anak sekolah
sini, masih tega Lo bertingkah?” Tanya Mas Tomo yang juga jebolan dari sekolah
Rizal. “Evan mas, saya disuruh sama mas Evan. Katanya jangan sampe ni bocah
bisa ikut kompetisi mas.” Sedikit merintih kesakitan Rizal yang tadinya jatuh
tersungkur mulai menegakkan badannya. “Kali ini Lo gue lepasin, jangan sampe
gue ngeliat batang hidung lo dan temen-temen lo di sekitar sini. Gue bisa aduin
lo ke Om Prengki.” Mas Tomo melepaskan cengkramannya dan berandal amatir itu
pun lari tunggang langgang meninggalkan tetesan air kencing di jalanan.
“Makasih Mas.” Ujar Rizal tersenyum
simpul. “Lain kali ati-ati, apalagi udah jam segini. Ayo ke dalem, luka lo
perlu diobatin kayaknya.” Rizal dan Puput mengangguk dan masuk kedalam sekolah
di ikuti Sofi yang masih berbinar-binar memandang punggung mas Tomo yang
menawan itu.