Pagi ini Sofi duduk seorang diri
dengan wajah berbinar-binar. Ia tak henti-hentinya mengetik SMS dengan ponsel
pinknya. Adam datang dengan gaya super coolnya dan seperti biasa fans-fans nya
yang binal mengintip dari jendela kelas dengan teriakan histeris. Tampaknya
kepopuleran Adam telah kembali dan berita tentang Adam yang mabuk sudah
terlupakan. Dan berganti dengan berita yang mengatakan bahwa si Rizal adalah
seorang clepto. Hal ini dibuktikan dengan hilangnya beberapa sapu, kemucing,
dan penghapus papan tulis akhir-akhir ini.
Adam sedang menaruh tas nya ke dalam laci
ketika ia menyadari bahwa Rizal tidak berangkat hari ini. Ia duduk sejenak
sambil memperhatikan kursi yang biasanya diduduki mantan sobatnya itu. “Add,
kali ini lo keterlaluan deh.” Puput yang tiba-tiba datang tau-tau udah duduk di
samping Adam. “Hah?” secepat kilat Adam mengalihkan perhatiannya. “Iya, Lo
keterlaluan. Kalo masalah dendam pribadi Lo ke Rizal, fine gue nggak peduli.
Tapi bukan berarti lo harus nggagalin dia buat ikut kompetisi kan?”
Adam ternganga. Ia masih bingung
dengan pernyataan teman sebangkunya itu. “Kemarin ada 3 berandalan yang
ngeroyok gue, Sofi, and Rizal. Untung aja ada anak-anak basket. Kalo nggak udah
mati kali tu si Rizal. Gue aja memar-memar begini.” Puput menunjukkan memar di
lengan kanannya. “Tapi sumpah gue nggak ngelakuin itu.” Adam terkejut dengan
tuduhan Puput. “Nggak usah pake sumpah segala, Lo juga nggak punya bukti. Orang
berandalan itu ngomong sendiri kalo Evan yang nyuruh dia. Dan Evan kan sahabat
karib lo.” Puput mengambil tasnya dan meletakkannya di samping Sofi yang lagak-lagaknya
lagi kasmaran sama Mas Tomo.
Saat istirahat Adam menemui Niken
dikantin sekolah. Sepertinya issue kedekatan mereka sudah sampai ke telinga
fans-fans Adam. Hal ini membuat Niken merasa terganggu. Pasalny akhir-akhir ini
Niken sering mendapatkan teror misterius dari fans-fans binal si Adam. Mulai
dari sms misterius, pesan di bangku yang juga misterius, sampe selebaran
misterius yang harus di perbanyak dan diberikan kepada orang lain biar nggak
celaka. Kok nggak asing sama selebaran yang satu ini ya.
“Nanti siang aku nggak bisa nganterin
kamu pulang ya.” Ujar Adam sembari menyerot jus kesukaannya. “Kenapa? Ada
kumpul anak-anak most wanted lagi?” Niken memegangi lengan kekar Adam membuat
fans-fans Adam mengasah golok. “Iya, ada masalah tiba-tiba. Gara-gara Evan aku
dituduh mencelakai Rizal. Aku mau nge-clear in masalah itu.” Niken menarik
tangannya dari lengan Adam membuat fans-fans Adam bernafas lega. “Apa yang
terjadi sama Rizal? Kamu janji nggak akan main fisik kan?” Adam terdiam, ia
tidak punya bukti untuk membantah tuduhan itu. Sama seperti Rizal yang tidak
punya bukti akan tuduhan yang dialamatkan oleh Adam padanya.
Evan bersandar di mobil sedannya yang
mengkilap. Adam datang bersama Dani menghampiri Evan. “Hai Brow, lama banget,
darimana?” Evan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. “Buat apa lo nyuruh
berandalan-berandalan itu untuk mukulin Rizal?” Adam mengacuhkan tangan Evan.
Evan menarik tangannya dan memasukkannya ke dalam kantong celana abu-abunya.
“Memang ada masalah? Gue udah capek ngerjain tuh anak badung biar dia pindah
dari sekolah ini. Tapi yang ada malah makin banyak orang yang bersimpati sama
dia. Pake ada acara kepilih ikut kompetisi bola basket segala lagi.”
“Van, tapi nggak harus sebrutal
itukan? Selain Rizal ada dua temen ceweknya yang jadi korban kebrutalan anak
buah lo.” Dani terlihat geram menyikapi aksi Evan yang sepihak. “Gue minta lo
jangan ikut campur lagi sama urusan ini.” Ujar Adam ketus dan kemudian berbalik
meninggalkan Evan. “Eh man, Lo itu emang bajingan ya. Gue udah puter otak untuk
ngebantu lo ngeluarin tu anak badung dari sekolah kita. Berbagai macam cara
man! Dan sekarang lo dengan entengnya nyuruh gue untuk nggak ikut campur lagi?
Daripada Rizal mending lo aja deh yang keluar dari sekolah ini.” Evan membuka
pintu mobilnya perlahan.
“Eh Van, gue tahu maksud lo baik. Tapi
nggak dengan begini juga kali.” Dani berusaha menengahi. “Gue udah bosen, lo
atur sendiri masalah Rizal, gue off dari masalah ini.” Dengan suara berdecit
mobil Evan meluncur melewati tempat parkir dan keluar dari sekolah. “Add,
mungkin kesalahan Evan kali ini bisa berhasil ngebuat Rizal pindah sekolah.
Kita tunggu aja.” Dani melenggang meninggalkan Adam yang tampak serius sekali
berfikir. Ngalah-ngalahin mikir jawaban soal ujian nasional aja.
Pintu rumah Niken tertutup dengan
keras gara-gara ulah si Mama yang lagi kesal. “Apa sih ma? Berisik aja.” Icha
yang lagi mantengin drama korea kesukaannya merasa terganggu. “Itu loh, Bu
Khanafi itu emang ember ternyata. Masak apa yang mama curhatin ke dia di
omong-omongin ke semua ibu-ibu arisan. Mungkin kalo ibu presiden juga ikut
arisan Mama bakal jadi headline news tuh semua curhatan Mama.” Mama mengomel
sepanjang perjalanan dari ruang tamu menuju kamarnya. Bahkan dikamarnya Mama
Niken masih mengomel walaupun nggak ada siapa-siapa disana. Dan ajaibnya si
Icha yang dicurhatin sama sekali tidak menghiraukan Mamanya, ia malah asyik
sendiri dengan drama koreanya.
Niken yang sedaritadi sibuk di dapur
mendengar omelan Mamanya yang lebih mirip siaran drama komedi di radio. Apalagi
ditambah backsound pintu dibanting dan barang-barang yang berjatuhan. Tiba-tiba
Niken teringat sesuatu, ia ingat pernah menceritakan kejadian di club malam
waktu itu pada Vivi, sohib kentelnya. Dengan perasaan yang berkecamuk Niken
meninggalkan mie yang sudah selesai ia rebus dan masuk ke dalam kamarnya. Ponsel
yang tergeletak di atas kasur pun menjadi target pertamanya. “Halooo...Vivi?”
sapa Niken lirih sembari duduk di kasurnya. “Iya Niken, ada apa?” Vivi menjawab
dari seberang saluran. “Eh, kamu inget nggak kejadian di club malam yang aku
ceritain ke kamu waktu itu?” Niken meremas sisi bawah kaosnya. “Yang kamu
marahan sama cowok kamu gara-gara dia milih nganterin Adam yang lagi mabuk
bukan?” jawab Vivi polos. “Iya, kamu ada cerita ke orang lain?” tanya Niken
ragu-ragu. Ia takut menyinggung Vivi.
“Emmm...seinget aku, aku Cuma ada
cerita ke Zenni. Gara-gara dia sempet nguping pembicaraan kita waktu itu.” Vivi
membenarkan kecurigaan Niken. “Oh shit, Zenni kan biang gosip terpopuler satu
sekolahan Vii..ya udah ya.” Niken memutus saluran sepihak dan langsung terbaring
lemah di kasurnya. ‘Bagaimana caranya menjelaskan ini semua ke Adam? Atau lebih
tepatnya, cerita nggak ya ke Adam.’ Pikir Niken.
Hari selasa pagi, kota Semarang yang
ramai di selimuti awan tebal yang membuat sinar matahari tidak leluasa menerangi
bumi nusantara tercinta. Duh bahasanya. Seperti biasa Rizal berangkat sekolah
di antar oleh papanya. Tapi yang luar biasa sang papa nganterin Rizal sampai ke
dalam sekolah. Rizal mengalami luka di kaki hingga ia kesulitan melangkah dan
memerlukan bantuan papanya. Saat Rizal tengah di bantu papanya tiba-tiba Anas,
Ruci, dan Yanuar datang menghampiri duo bapak anak itu. “Sudah Om, biar kami
aja yang bawa Rizal.” Papa Rizal pun melepaskan rangkulan anaknya yang masih
memar itu dan pergi melanjutkan perjalanannya.
“Makasih ya, maaf ngrepotin.” Rizal
melangkah perlahan dibantu kawan-kawannya. “Kami yang harusnya minta maaf, di
saat lo butuh kami malah sibuk dengan ketakutan kami.” Ujar Anas memegangi
tangan kanan Rizal. “Ah nggak papa, gue masih beruntung kalian mau mapah gue
sampe kelas.” Rizal merintih sesekali apabila lukanya tersenggol. “Sampe kelas?
Mimpi kali lo...sampe lapangan dua puluh rebu, sampe kelas lima puluh rebu.”
Ujar Yanuar menirukan gaya tengkulak kain. “Set dah, tuh argo apa ngerampok.
Mending gue dikeroyok sekali lagi deh.”
Adam melihat pemandangan itu dari
dalam mobilnya yang baru saja terparkir. Niken duduk di sebelah Adam dengan
mata terbelalak. “Itu yang udah lo lakuin ke Rizal?” Mata Niken merah sesaat.
“Add, lihat gue!” Adam memalingkan wajahnya dan menemui wajah halus Niken.
“Orang yang harusnya memar-memar sekarang adalah gue.” Niken tidak bisa menahan
emosinya. Adam terlihat bingung, ia hanya bisa mengerutkan dahinya.
“Gue baru inget kalo gue pernah curhat
ke sahabat gue tentang kejadian di club malam waktu itu. Semua gue ceritain
termasuk lo yang pulang dalam keadaan mabuk.” Air mata dengan derasnya keluar
dari mata Niken. Kemudian kata-kata yang keluar berikutnya samar dan tidak
dapat dimengerti. Adam terdiam sesaat. Ia terkejut dengan apa yang dikatakan
Niken. Tapi ia terlalu baik untuk memukul Niken dan terlalu jahat untuk memeluk
Niken. Ia hanya bisa memandangi Rizal dari kejauhan dan tetap tidak menggubris
Niken yang menangis bombay di sampingnya.
“Waahh..lo dateng diwaktu yang tepat.”
Sofi dengan wajah merona merah menyambut kedatangan Rizal. “Apaan? Lo positif
ya?” Rizal meletakkan tasnya perlahan di mejanya. “Positif muke lo, emang gue
cewek apa pun. Gue ditembak sama Mas Tomoooo.” Sofi cekikikan persis Farida di
film mak lampir. “Masaak? Mas Tomo sadar gitu?” Rizal terkejut bukan main bagai
melihat undur-undur jalannya maju. “Eish..jangan salah. Gini-gini daku pernah
ikut kontes putri bunga dan pernah totok aura segala tauk.” Sofi memulai aksi
cemberutnya.
“Kok jadi nggak nyambung? Terus kamu
terima gitu?” Tanya Rizal lebih dalam. “Iyalahh...mas Tomo kan ganteng banget.
Oh iya, katanya seminggu ini lo disuruh break latihan dulu. Minggu depan lo
boleh gabung lagi. Tenang aja, lo tetep di tim inti kok. Tapi selama permainan
lo bagus.” Sofi membuka tasnya dan mengambil sebuah buku berwarna pink. Dengan
cekatan ia beranjak dari bangkunya dan mencari contekan PR secepat mungkin.
Tak lama kemudian Puput datang dengan
penuh senyuman. “Kenape Put, lo abis ditembak juga?” tanya Rizal asal-asalan.
“Yee...main tebak aja, emang sini lagi buat kuis. Gimana kondisi lo?” Puput
duduk dibangkunya. “Alhamdulillah, nah lo sendiri?” Puput menunjukan luka
ditangannya yang dibalut plester gambar hati. “Icciieee...pacaran.” goda Rizal
yang nggak biasa ngelihat Puput sefeminim itu. Bagaimana mungkin ia membiarkan
plester imut itu bersarang dilukanya kalo bukan karena seseorang.
Adam masuk ke kelas. Keadaan hening
seketika. Semua mata yang biasanya tertuju pada Rizal kini berganti menyorot ke
Adam. Rizal yang menyadari kejanggalan itu pun tidak berkutik. Ia hanya bisa
curi-curi pandang ke arah Adam sambil terus berceloteh dengan Puput.
Jam istirahat Rizal tetap duduk di
bangkunya sementara teman-temannya yang lain berhamburan menuju kantin. Ia
memulai kebiasaan lamanya, membuka bekal yang dibawanya dari rumah. Tanpa ia
sadari Adam masuk ke dalam kelas yang sepi itu. Saat Rizal tengah mengunyah
roti isinya, ia dikagetkan dengan kehadiran Adam yang sudah duduk di depannya.
“Uhuk-Uhuk, minum-minum.” Dengan cekatan Adam membukakan botol air mineral
entah punya siapa. “Jangan mati gara-gara kesedek dong, nggak keren tauk.” Ucap
Adam spontan. Rizal terpaku dan meletakkan roti isinya kembali ke dalam kotak.
“Gue bisa minta libur nggak, barang
seminggu aja buat nyembuhin luka-luka ini. Habis itu terserah lo mau ngerjain
gue gimana lagi.” Ujar Rizal setengah pasrah. “Tolol, kenapa lo nggak minta
maaf aja sih. Pake ngorbanin diri lo kayak gini.” Adam memandang luka-luka di
badan Rizal. “Gue udah bilang Dam, gue nggak salah. Mau lo bunuh gue juga hal
itu nggak akan berubah. Tapi gue tahu kalo yang terakhir kemarin sama sekali
bukan ide lo.” Rizal mengulum senyumnya.
“Kenapa lo bisa seyakin itu?” Adam
memandang tepat ke dalam mata Rizal. “Sebajingan-bajingannya lo, lo nggak bakal
tega ngelihat gue dipukulin. Terus terang aja. Lo juga nggak tega kan ngeliat
gue dikerjain sama temen-teman lo? Dan satu lagi, please jaga Niken baik-baik.
Jangan jadi in dia alat untuk bales dendam ya.” Rizal mengalihkan pandangannya.
Ia tidak berani menatap balik ke mata Adam.
“Cerewet lo Zal, kayak cewek.” Adam
menonjok lengan Rizal perlahan. “Aww...libur seminggu aja nggak bisa nih?” ujar
Rizal kekeuh. “Maafin gue, gue nggak tahu harus bilang apa. Niken udah cerita
semua, bukan lo kok yang salah. Gue salah paham.” Adam memain-mainkan botol
minuman di depannya.
“What? Dam, lo jangan dengerin apa
kata Niken. Mungkin dia ngigau atau apalah. Tapi please lo jangan nyakitin dia,
anggap aja gue yang salah. Dia..dia sayang sama lo.” Rizal menyatukan dua
telapak tangannya seperti sedang memohon. “Tolol, gue udah sadar apa yang gue
lakuin akhir-akhir ini sama sekali nggak ada yang bener. Gue nggak akan
ngulangi kejadian kayak gini lagi. Maafin gue ya.” Adam menurunkan tangan Rizal
dari depan wajahnya.
“Berarti termasuk cabut di jam mata
pelajaran penting juga nggak bener kan?” tanya Rizal membendung emosi
terharunya. “Kecuali itu. Dan kalo masih mau lo nemenin gue cabut ya habis ini.”
Jawab Adam merubah air mukanya. Kedua mantan sohib itu pun kini menjadi mantan
mantan sohib karena mereka sohiban lagi. Mampus, bingung nggak lo.
Dan di jendela kelas, ternyata
berjejer puluhan siswa XB yang menangis terharu melihat drama situasi tadi. Ada
yang sempet moto-moto plus nge-video in acara ini lagi. Dikira lagi nonton
Dorce show kali ah. Tapi kali ini Joko si siswa terulet satu sekolahan ambil
bagian dengan menjual tisu kepada mereka yang membutuhkan. Gilak nih anak,
semua bisa jadi duit buat dia.
Beberapa hari kemudian Sofi mengundang
teman-temannya untuk merayakan ulang tahunnya yang ketujuh belas. Si Sofi emang
pernah nunggak setahun, jadi dia ngerayain sweet seventeen lebih dulu daripada
yang lain. Saat itu luka-luka ditubuh Rizal sudah membaik jadi dia bisa ambil
bagian di acara nya si Sofi. Semua anak kelas XB di undang ke acaranya si Sofi termasuk
Adam. Jadi sepulang sekolah hari ini Adam sudah janjian dengan Rizal untuk
berangkat bersama.
Pukul 4 sore, jeep trooper Adam udah
nagkring di depan rumah Rizal. “Adam tinggal dimana?” Tanya Mama Rizal yang
overprotectif dengan anaknya. “Di daerah Candi tante.” Jawab Adam
cengar-cengir. “Anak pindahan darimana sih, kok logatnya beda?” teliti Mama
Rizal lagi. “Anu tante, Jakarta...baru sebulanan ini tinggal di Semarang.”
Sebelum pertanyaan berikutnya meluncur dari Mama Rizal, Rizal buru-buru keluar
kamar dengan kemeja biru favoritnya. “Udah yok, Ma Rizal berangkat dulu ya.”
Mama Rizal yang udah nyiapin berbagai pertanyaan pun tidak berkutik. Tapi bukan
berarti acara introgasi ini nggak akan bersambung.
“Gila, nyokap lo anggota interpol deh
kayaknya.” Omel Adam sesampainya di dalam mobil. “Weits, bukan itu aja, dia
juga anggota aktif IMF tauk yang ngurusin keuangan dunia.” Kekeh Rizal kemudian
menyadari bahwa Mamanya bisa juga dijadiin bahan obrolan yang seru. Ini termasuk
ciri anak durhaka nggak sih?
“Kok lewat sini?” Tanya Rizal yang
tidak asing dengan rute yang diambil Adam. “Iya, gue ngajak Niken sekalian. Lo
nggak keberatan kan?” Adam melirik ke arah Rizal. “Nggak lah, its okay. Nggak
papa kok bawa pasangan. Lo sama Niken masih?” Tanya Rizal kemudian. “Iya, lo
berharapnya apa? maaf ya kalo kesannya gue ngrebut pacar lo.” Adam menepuk
pundak Rizal. “Cari mati lo pegang-pegang gue. Lagian gue seneng kok ngeliat
kalian berdua, walau kadang rada sakit sih.”
Niken sudah siap di depan rumah ketika
Adam datang bersama Rizal. Niken juga tampak terkejut akan hadirnya Rizal di
kursi depan mobil Adam. “Halo apa kabar?” Rizal menyalami Niken yang baru saja
menempatkan bokongnya di kursi belakang. Niken membalas salaman itu dengan terkekeh.
“Udah nggak usah akrab-akrab.” Hardik Adam yang ternyata memperhatikan dari
kaca spion. “Galak amat.” Rizal cemberut dan kembali melihat ke depan. Niken
tersenyum lebar melihat punggung Rizal dan Adam di depannya. Akhirnya dia bisa
pergi bareng dua orang spesial dalam hidupnya.
Sore itu rumah Sofi sangatlah terang.
Ada berbagai jenis lampu yang menghias setiap sudut taman. Dari lampu disko
sampai lampu bangjo (traffic light). Tamu-tamu pun datang satu persatu. Ada
yang datang sendiri, ada juga yang datang dengan pasangannya. Tapi jarang ada
yang datang bertiga ala trio Rizal, Adam, dan Niken. Pemandangan ini
mengalahkan pemandangan gerhana matahari. Karena berbagai cerita langsung
menyebar ke seluruh tamu undangan.
Sofi yang sore itu didampingi oleh mas
Tomo menyambut kedatangan mereka bertiga dengan sukacita. Walau agak jutek sama
Niken tapi Sofi tak henti-hentinya bercerita tentang persiapan pestanya yang
agak ribet. Ia juga menjelaskan dengan detail semua menu makanan yang tersaji
malam ini. Bahkan dia mengintimidasi semua tamu untuk tidak banyak-banyak makan
sate sapi, karena itu adalah menu favoritnya.
Rizal berjalan menuju kolam ikan Sofi
yang juga dihias lampu kelap-kelip. Ia memegang sebotol softdrink yang baru
diambilnya. “Rizal.” Tiba-tiba suara Niken terdengar dibelakangnya. Rizal
tersenyum lebar menyambut kedatangan Niken. “Aku minta maaf atas kejadian tempo
hari. Harusnya aku ingat sebelum semuanya ini terjadi.” Niken meremas-remas
gaun putih cantiknya.
“Memang udah jalannya begini kok. Nggak
usah disesalin. Kamu sayang sama Adam kan?” Rizal meneguk soft drinknya. “Maaf
juga tentang hal itu.” Niken menunduk malu. “Nggak masalah, aku uda diceritain
banyak kok sama Adam. Aku yakin kamu pasti akan bahagia sama Adam.” Rizal
memain-mainkan sepatunya. “Aku juga yakin kamu pasti akan mendapatkan wanita
yang lebih baik.” Niken tersenyum manis.
Dari kejauhan Adam yang tengah
mengobrol dengan Dani hanya bisa tersenyum melihat peristiwa itu. “Add, thanks
ya udah nyomblangin gue.” Ujar Dani mengalihkan perhatian Adam. “Hah? I-iya, Lo
harus nya bilang makasih juga ke Rizal. Karena informasi-informasi tentang
Puput gue dapetin dari dia.” Adam tersenyum dan memaknai semua kejadian
akhir-akhir ini sebagai kejadian paling hitam dalam hidup nya. Tapi tidak termasuk
peristiwa cabut di mata pelajaran penting loh.
Seminggu telah berlalu dan Rizal
kembali ke kehidupan normalnya namun dengan aktivitas yang berbeda. Ia tidak
perlu takut menghadapi keisengan teman-temannya karena itu sudah berakhir.
Ditambah lagi kesuksesannya masuk ke dalam tim inti bola basket di sekolahnya
membuatnya digemari banyak gadis dan gay-gay yang masih percaya bahwa Rizal
benar-benar gay.
Seperti biasa ia melangkah dengan
optimis menuju ruang kelasnya. Segalanya terlihat baik-baik saja sebaik cuaca
pagi itu yang cerah berawan. Ia masuk ke dalam kelas dengan senyum mengembang.
Selagi ia tengah menebar senyum nya yang lebih mirip bibit padi daripada
senyuman si Sofi lagi-lagi sibuk dengan tugas yang belum ia kerjakan. “Zal, gue
contekin tugas biologi lo sini. Cepetan! Urgent!” Sofi kebingungan sendiri dan
membabibuta mencari contekan yang halal.
“Sofi-Sofi-Sofi, kamu tidak pernah
berubah kecuali berat badanmu.” Dengan congkak Rizal membuka tasnya dan
mengeluarkan buku tugasnya. Namun bukan buku tugas yang ia dapatkan tapi malah
sebuah payung yang dengan paksa dimasukin sang Mama ke tasnya. “Oh noooo...buku
tugasku ketinggalan. Aduh, mana ini jam pelajaran pertama lagi.” Rizal heboh
sendiri di pojokan kelas. Sofi merasa de javu dengan kejadian ini. Tapi tanpa
mau berpikir panjang Sofi meninggalkan Rizal dan mencari sumber contekan
terpercaya lainnya.
Bel yang lagi-lagi harus dibilang
terdengar norak itu berbunyi lumayan panjang. Rizal terduduk dengan gelisah di
kursinya. Sofi masih merasa ada yang aneh, tapi dia diam saja. Ibu guru Biologi
masuk dengan buku-bukunya yang segambreng banyaknya. Buku pertama yang ia buka
adalah jurnal hijau miliknya, kemudian keluar sebuah kalimat, “Ayo kumpulkan
tugas yang saya berikan minggu lalu, yang tidak mengerjakan silahkan keluar ke
BK sekarang!”
Rizal menggaruk-garuk kepalanya merasa
ada yang janggal. Ia pun meninggalkan kursinya dan berjalan dengan lunglai
keluar kelas. Murid-murid yang lain ternganga sejenak melihat kejadian
tersebut. Namun dengan segera mereka menutup mulut mereka. Karena mereka takut
dikatain mirip kolam buaya oleh penulis.
Rizal berjalan dengan cepat menuju
ruang BK. Ia bertemu dengan Bu Dewi dan membuat surat pernyataan disana.
Kemudian ia berjalan menuju ruang Kepala Sekolah untuk meminta tanda tangan.
Sesampainya di depan ruang kepsek ia mengetuk pintu 3x sesuai ajaran mamanya.
“Iya, silahkan masuk.” Suara serak Pak Kepala Sekolah saingan sama suara serak
presenter Uka-Uka. Rizal masuk perlahan dan duduk di kursi merah di depan Pak Kepala
Sekolah.
“Kamu? Lupa bawa buku tugas lagi?” Pak
kepala Sekolah seolah bisa membaca pikiran Rizal. Rizal mengangguk sambil
terheran-heran. Tak lama kemudian seorang bapak-bapak pendek dan botak masuk
kedalam ruangan ber AC itu. Saat itulah Rizal merasa de javu akan kejadian ini.
Ia pun menyingkir dari kursi merah
menuju kursi sofa yang lebih empuk di dekat pintu. Beberapa menit kemudian
seorang siswi cantik dengan seragam kotak-kotak masuk menyusul bapak-bapak yang
dikenali Rizal sebagai wakil kepsek bagian kesiswaan. Rizal tersenyum lebar
melihat kecantikan wanita disampingnya. Ia berkulit putih, berambut sebahu yang
dikucir keatas, dan dengan cuek mengunyah permen karet.
Merasa diperhatikan anak baru itu
menatap galak ke arah Rizal. Dengan cepat Rizal mengalihkan pandangan dan
berlagak mengajak ngobrol ikan di akuarium baru Pak Kepsek. “Hei kamu anak
ceroboh.” Pak Kepsek menunjuk Rizal dan memanggilnya. Dengan tegas Rizal
menjawab, “Iya pak, saya bersedia melindungi anak baru di sebelah saya ini dari
kenakalan anak-anak sekolah ini dengan taruhan buku pelanggaran saya Pak.”
Rizal tertawa lebar memamerkan gigi-gigi nya yang dihiasi kulit cabe yang
nyelip.
Pak kepsek dan wakil kepsek hanya bisa
bengong mendengar pernyataan Rizal barusan. Sedangkan anak baru yang awalnya
terkejut, malah tersenyum aneh melihat kekonyolan siswa di sebelahnya.