Sunday, 27 October 2013

Enam - Habis

Pagi ini Sofi duduk seorang diri dengan wajah berbinar-binar. Ia tak henti-hentinya mengetik SMS dengan ponsel pinknya. Adam datang dengan gaya super coolnya dan seperti biasa fans-fans nya yang binal mengintip dari jendela kelas dengan teriakan histeris. Tampaknya kepopuleran Adam telah kembali dan berita tentang Adam yang mabuk sudah terlupakan. Dan berganti dengan berita yang mengatakan bahwa si Rizal adalah seorang clepto. Hal ini dibuktikan dengan hilangnya beberapa sapu, kemucing, dan penghapus papan tulis akhir-akhir ini.
 Adam sedang menaruh tas nya ke dalam laci ketika ia menyadari bahwa Rizal tidak berangkat hari ini. Ia duduk sejenak sambil memperhatikan kursi yang biasanya diduduki mantan sobatnya itu. “Add, kali ini lo keterlaluan deh.” Puput yang tiba-tiba datang tau-tau udah duduk di samping Adam. “Hah?” secepat kilat Adam mengalihkan perhatiannya. “Iya, Lo keterlaluan. Kalo masalah dendam pribadi Lo ke Rizal, fine gue nggak peduli. Tapi bukan berarti lo harus nggagalin dia buat ikut kompetisi kan?”
Adam ternganga. Ia masih bingung dengan pernyataan teman sebangkunya itu. “Kemarin ada 3 berandalan yang ngeroyok gue, Sofi, and Rizal. Untung aja ada anak-anak basket. Kalo nggak udah mati kali tu si Rizal. Gue aja memar-memar begini.” Puput menunjukkan memar di lengan kanannya. “Tapi sumpah gue nggak ngelakuin itu.” Adam terkejut dengan tuduhan Puput. “Nggak usah pake sumpah segala, Lo juga nggak punya bukti. Orang berandalan itu ngomong sendiri kalo Evan yang nyuruh dia. Dan Evan kan sahabat karib lo.” Puput mengambil tasnya dan meletakkannya di samping Sofi yang lagak-lagaknya lagi kasmaran sama Mas Tomo.
Saat istirahat Adam menemui Niken dikantin sekolah. Sepertinya issue kedekatan mereka sudah sampai ke telinga fans-fans Adam. Hal ini membuat Niken merasa terganggu. Pasalny akhir-akhir ini Niken sering mendapatkan teror misterius dari fans-fans binal si Adam. Mulai dari sms misterius, pesan di bangku yang juga misterius, sampe selebaran misterius yang harus di perbanyak dan diberikan kepada orang lain biar nggak celaka. Kok nggak asing sama selebaran yang satu ini ya.
“Nanti siang aku nggak bisa nganterin kamu pulang ya.” Ujar Adam sembari menyerot jus kesukaannya. “Kenapa? Ada kumpul anak-anak most wanted lagi?” Niken memegangi lengan kekar Adam membuat fans-fans Adam mengasah golok. “Iya, ada masalah tiba-tiba. Gara-gara Evan aku dituduh mencelakai Rizal. Aku mau nge-clear in masalah itu.” Niken menarik tangannya dari lengan Adam membuat fans-fans Adam bernafas lega. “Apa yang terjadi sama Rizal? Kamu janji nggak akan main fisik kan?” Adam terdiam, ia tidak punya bukti untuk membantah tuduhan itu. Sama seperti Rizal yang tidak punya bukti akan tuduhan yang dialamatkan oleh Adam padanya.


Evan bersandar di mobil sedannya yang mengkilap. Adam datang bersama Dani menghampiri Evan. “Hai Brow, lama banget, darimana?” Evan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. “Buat apa lo nyuruh berandalan-berandalan itu untuk mukulin Rizal?” Adam mengacuhkan tangan Evan. Evan menarik tangannya dan memasukkannya ke dalam kantong celana abu-abunya. “Memang ada masalah? Gue udah capek ngerjain tuh anak badung biar dia pindah dari sekolah ini. Tapi yang ada malah makin banyak orang yang bersimpati sama dia. Pake ada acara kepilih ikut kompetisi bola basket segala lagi.”
“Van, tapi nggak harus sebrutal itukan? Selain Rizal ada dua temen ceweknya yang jadi korban kebrutalan anak buah lo.” Dani terlihat geram menyikapi aksi Evan yang sepihak. “Gue minta lo jangan ikut campur lagi sama urusan ini.” Ujar Adam ketus dan kemudian berbalik meninggalkan Evan. “Eh man, Lo itu emang bajingan ya. Gue udah puter otak untuk ngebantu lo ngeluarin tu anak badung dari sekolah kita. Berbagai macam cara man! Dan sekarang lo dengan entengnya nyuruh gue untuk nggak ikut campur lagi? Daripada Rizal mending lo aja deh yang keluar dari sekolah ini.” Evan membuka pintu mobilnya perlahan.
“Eh Van, gue tahu maksud lo baik. Tapi nggak dengan begini juga kali.” Dani berusaha menengahi. “Gue udah bosen, lo atur sendiri masalah Rizal, gue off dari masalah ini.” Dengan suara berdecit mobil Evan meluncur melewati tempat parkir dan keluar dari sekolah. “Add, mungkin kesalahan Evan kali ini bisa berhasil ngebuat Rizal pindah sekolah. Kita tunggu aja.” Dani melenggang meninggalkan Adam yang tampak serius sekali berfikir. Ngalah-ngalahin mikir jawaban soal ujian nasional aja.


Pintu rumah Niken tertutup dengan keras gara-gara ulah si Mama yang lagi kesal. “Apa sih ma? Berisik aja.” Icha yang lagi mantengin drama korea kesukaannya merasa terganggu. “Itu loh, Bu Khanafi itu emang ember ternyata. Masak apa yang mama curhatin ke dia di omong-omongin ke semua ibu-ibu arisan. Mungkin kalo ibu presiden juga ikut arisan Mama bakal jadi headline news tuh semua curhatan Mama.” Mama mengomel sepanjang perjalanan dari ruang tamu menuju kamarnya. Bahkan dikamarnya Mama Niken masih mengomel walaupun nggak ada siapa-siapa disana. Dan ajaibnya si Icha yang dicurhatin sama sekali tidak menghiraukan Mamanya, ia malah asyik sendiri dengan drama koreanya.
Niken yang sedaritadi sibuk di dapur mendengar omelan Mamanya yang lebih mirip siaran drama komedi di radio. Apalagi ditambah backsound pintu dibanting dan barang-barang yang berjatuhan. Tiba-tiba Niken teringat sesuatu, ia ingat pernah menceritakan kejadian di club malam waktu itu pada Vivi, sohib kentelnya. Dengan perasaan yang berkecamuk Niken meninggalkan mie yang sudah selesai ia rebus dan masuk ke dalam kamarnya. Ponsel yang tergeletak di atas kasur pun menjadi target pertamanya. “Halooo...Vivi?” sapa Niken lirih sembari duduk di kasurnya. “Iya Niken, ada apa?” Vivi menjawab dari seberang saluran. “Eh, kamu inget nggak kejadian di club malam yang aku ceritain ke kamu waktu itu?” Niken meremas sisi bawah kaosnya. “Yang kamu marahan sama cowok kamu gara-gara dia milih nganterin Adam yang lagi mabuk bukan?” jawab Vivi polos. “Iya, kamu ada cerita ke orang lain?” tanya Niken ragu-ragu. Ia takut menyinggung Vivi.
“Emmm...seinget aku, aku Cuma ada cerita ke Zenni. Gara-gara dia sempet nguping pembicaraan kita waktu itu.” Vivi membenarkan kecurigaan Niken. “Oh shit, Zenni kan biang gosip terpopuler satu sekolahan Vii..ya udah ya.” Niken memutus saluran sepihak dan langsung terbaring lemah di kasurnya. ‘Bagaimana caranya menjelaskan ini semua ke Adam? Atau lebih tepatnya, cerita nggak ya ke Adam.’ Pikir Niken.


Hari selasa pagi, kota Semarang yang ramai di selimuti awan tebal yang membuat sinar matahari tidak leluasa menerangi bumi nusantara tercinta. Duh bahasanya. Seperti biasa Rizal berangkat sekolah di antar oleh papanya. Tapi yang luar biasa sang papa nganterin Rizal sampai ke dalam sekolah. Rizal mengalami luka di kaki hingga ia kesulitan melangkah dan memerlukan bantuan papanya. Saat Rizal tengah di bantu papanya tiba-tiba Anas, Ruci, dan Yanuar datang menghampiri duo bapak anak itu. “Sudah Om, biar kami aja yang bawa Rizal.” Papa Rizal pun melepaskan rangkulan anaknya yang masih memar itu dan pergi melanjutkan perjalanannya.
“Makasih ya, maaf ngrepotin.” Rizal melangkah perlahan dibantu kawan-kawannya. “Kami yang harusnya minta maaf, di saat lo butuh kami malah sibuk dengan ketakutan kami.” Ujar Anas memegangi tangan kanan Rizal. “Ah nggak papa, gue masih beruntung kalian mau mapah gue sampe kelas.” Rizal merintih sesekali apabila lukanya tersenggol. “Sampe kelas? Mimpi kali lo...sampe lapangan dua puluh rebu, sampe kelas lima puluh rebu.” Ujar Yanuar menirukan gaya tengkulak kain. “Set dah, tuh argo apa ngerampok. Mending gue dikeroyok sekali lagi deh.”
Adam melihat pemandangan itu dari dalam mobilnya yang baru saja terparkir. Niken duduk di sebelah Adam dengan mata terbelalak. “Itu yang udah lo lakuin ke Rizal?” Mata Niken merah sesaat. “Add, lihat gue!” Adam memalingkan wajahnya dan menemui wajah halus Niken. “Orang yang harusnya memar-memar sekarang adalah gue.” Niken tidak bisa menahan emosinya. Adam terlihat bingung, ia hanya bisa mengerutkan dahinya.
“Gue baru inget kalo gue pernah curhat ke sahabat gue tentang kejadian di club malam waktu itu. Semua gue ceritain termasuk lo yang pulang dalam keadaan mabuk.” Air mata dengan derasnya keluar dari mata Niken. Kemudian kata-kata yang keluar berikutnya samar dan tidak dapat dimengerti. Adam terdiam sesaat. Ia terkejut dengan apa yang dikatakan Niken. Tapi ia terlalu baik untuk memukul Niken dan terlalu jahat untuk memeluk Niken. Ia hanya bisa memandangi Rizal dari kejauhan dan tetap tidak menggubris Niken yang menangis bombay di sampingnya.
“Waahh..lo dateng diwaktu yang tepat.” Sofi dengan wajah merona merah menyambut kedatangan Rizal. “Apaan? Lo positif ya?” Rizal meletakkan tasnya perlahan di mejanya. “Positif muke lo, emang gue cewek apa pun. Gue ditembak sama Mas Tomoooo.” Sofi cekikikan persis Farida di film mak lampir. “Masaak? Mas Tomo sadar gitu?” Rizal terkejut bukan main bagai melihat undur-undur jalannya maju. “Eish..jangan salah. Gini-gini daku pernah ikut kontes putri bunga dan pernah totok aura segala tauk.” Sofi memulai aksi cemberutnya.
“Kok jadi nggak nyambung? Terus kamu terima gitu?” Tanya Rizal lebih dalam. “Iyalahh...mas Tomo kan ganteng banget. Oh iya, katanya seminggu ini lo disuruh break latihan dulu. Minggu depan lo boleh gabung lagi. Tenang aja, lo tetep di tim inti kok. Tapi selama permainan lo bagus.” Sofi membuka tasnya dan mengambil sebuah buku berwarna pink. Dengan cekatan ia beranjak dari bangkunya dan mencari contekan PR secepat mungkin.
Tak lama kemudian Puput datang dengan penuh senyuman. “Kenape Put, lo abis ditembak juga?” tanya Rizal asal-asalan. “Yee...main tebak aja, emang sini lagi buat kuis. Gimana kondisi lo?” Puput duduk dibangkunya. “Alhamdulillah, nah lo sendiri?” Puput menunjukan luka ditangannya yang dibalut plester gambar hati. “Icciieee...pacaran.” goda Rizal yang nggak biasa ngelihat Puput sefeminim itu. Bagaimana mungkin ia membiarkan plester imut itu bersarang dilukanya kalo bukan karena seseorang.
Adam masuk ke kelas. Keadaan hening seketika. Semua mata yang biasanya tertuju pada Rizal kini berganti menyorot ke Adam. Rizal yang menyadari kejanggalan itu pun tidak berkutik. Ia hanya bisa curi-curi pandang ke arah Adam sambil terus berceloteh dengan Puput.
Jam istirahat Rizal tetap duduk di bangkunya sementara teman-temannya yang lain berhamburan menuju kantin. Ia memulai kebiasaan lamanya, membuka bekal yang dibawanya dari rumah. Tanpa ia sadari Adam masuk ke dalam kelas yang sepi itu. Saat Rizal tengah mengunyah roti isinya, ia dikagetkan dengan kehadiran Adam yang sudah duduk di depannya. “Uhuk-Uhuk, minum-minum.” Dengan cekatan Adam membukakan botol air mineral entah punya siapa. “Jangan mati gara-gara kesedek dong, nggak keren tauk.” Ucap Adam spontan. Rizal terpaku dan meletakkan roti isinya kembali ke dalam kotak.
“Gue bisa minta libur nggak, barang seminggu aja buat nyembuhin luka-luka ini. Habis itu terserah lo mau ngerjain gue gimana lagi.” Ujar Rizal setengah pasrah. “Tolol, kenapa lo nggak minta maaf aja sih. Pake ngorbanin diri lo kayak gini.” Adam memandang luka-luka di badan Rizal. “Gue udah bilang Dam, gue nggak salah. Mau lo bunuh gue juga hal itu nggak akan berubah. Tapi gue tahu kalo yang terakhir kemarin sama sekali bukan ide lo.” Rizal mengulum senyumnya.
“Kenapa lo bisa seyakin itu?” Adam memandang tepat ke dalam mata Rizal. “Sebajingan-bajingannya lo, lo nggak bakal tega ngelihat gue dipukulin. Terus terang aja. Lo juga nggak tega kan ngeliat gue dikerjain sama temen-teman lo? Dan satu lagi, please jaga Niken baik-baik. Jangan jadi in dia alat untuk bales dendam ya.” Rizal mengalihkan pandangannya. Ia tidak berani menatap balik ke mata Adam.
“Cerewet lo Zal, kayak cewek.” Adam menonjok lengan Rizal perlahan. “Aww...libur seminggu aja nggak bisa nih?” ujar Rizal kekeuh. “Maafin gue, gue nggak tahu harus bilang apa. Niken udah cerita semua, bukan lo kok yang salah. Gue salah paham.” Adam memain-mainkan botol minuman di depannya.
“What? Dam, lo jangan dengerin apa kata Niken. Mungkin dia ngigau atau apalah. Tapi please lo jangan nyakitin dia, anggap aja gue yang salah. Dia..dia sayang sama lo.” Rizal menyatukan dua telapak tangannya seperti sedang memohon. “Tolol, gue udah sadar apa yang gue lakuin akhir-akhir ini sama sekali nggak ada yang bener. Gue nggak akan ngulangi kejadian kayak gini lagi. Maafin gue ya.” Adam menurunkan tangan Rizal dari depan wajahnya.
“Berarti termasuk cabut di jam mata pelajaran penting juga nggak bener kan?” tanya Rizal membendung emosi terharunya. “Kecuali itu. Dan kalo masih mau lo nemenin gue cabut ya habis ini.” Jawab Adam merubah air mukanya. Kedua mantan sohib itu pun kini menjadi mantan mantan sohib karena mereka sohiban lagi. Mampus, bingung nggak lo.
Dan di jendela kelas, ternyata berjejer puluhan siswa XB yang menangis terharu melihat drama situasi tadi. Ada yang sempet moto-moto plus nge-video in acara ini lagi. Dikira lagi nonton Dorce show kali ah. Tapi kali ini Joko si siswa terulet satu sekolahan ambil bagian dengan menjual tisu kepada mereka yang membutuhkan. Gilak nih anak, semua bisa jadi duit buat dia.


Beberapa hari kemudian Sofi mengundang teman-temannya untuk merayakan ulang tahunnya yang ketujuh belas. Si Sofi emang pernah nunggak setahun, jadi dia ngerayain sweet seventeen lebih dulu daripada yang lain. Saat itu luka-luka ditubuh Rizal sudah membaik jadi dia bisa ambil bagian di acara nya si Sofi. Semua anak kelas XB di undang ke acaranya si Sofi termasuk Adam. Jadi sepulang sekolah hari ini Adam sudah janjian dengan Rizal untuk berangkat bersama.
Pukul 4 sore, jeep trooper Adam udah nagkring di depan rumah Rizal. “Adam tinggal dimana?” Tanya Mama Rizal yang overprotectif dengan anaknya. “Di daerah Candi tante.” Jawab Adam cengar-cengir. “Anak pindahan darimana sih, kok logatnya beda?” teliti Mama Rizal lagi. “Anu tante, Jakarta...baru sebulanan ini tinggal di Semarang.” Sebelum pertanyaan berikutnya meluncur dari Mama Rizal, Rizal buru-buru keluar kamar dengan kemeja biru favoritnya. “Udah yok, Ma Rizal berangkat dulu ya.” Mama Rizal yang udah nyiapin berbagai pertanyaan pun tidak berkutik. Tapi bukan berarti acara introgasi ini nggak akan bersambung.
“Gila, nyokap lo anggota interpol deh kayaknya.” Omel Adam sesampainya di dalam mobil. “Weits, bukan itu aja, dia juga anggota aktif IMF tauk yang ngurusin keuangan dunia.” Kekeh Rizal kemudian menyadari bahwa Mamanya bisa juga dijadiin bahan obrolan yang seru. Ini termasuk ciri anak durhaka nggak sih?
“Kok lewat sini?” Tanya Rizal yang tidak asing dengan rute yang diambil Adam. “Iya, gue ngajak Niken sekalian. Lo nggak keberatan kan?” Adam melirik ke arah Rizal. “Nggak lah, its okay. Nggak papa kok bawa pasangan. Lo sama Niken masih?” Tanya Rizal kemudian. “Iya, lo berharapnya apa? maaf ya kalo kesannya gue ngrebut pacar lo.” Adam menepuk pundak Rizal. “Cari mati lo pegang-pegang gue. Lagian gue seneng kok ngeliat kalian berdua, walau kadang rada sakit sih.”
Niken sudah siap di depan rumah ketika Adam datang bersama Rizal. Niken juga tampak terkejut akan hadirnya Rizal di kursi depan mobil Adam. “Halo apa kabar?” Rizal menyalami Niken yang baru saja menempatkan bokongnya di kursi belakang. Niken membalas salaman itu dengan terkekeh. “Udah nggak usah akrab-akrab.” Hardik Adam yang ternyata memperhatikan dari kaca spion. “Galak amat.” Rizal cemberut dan kembali melihat ke depan. Niken tersenyum lebar melihat punggung Rizal dan Adam di depannya. Akhirnya dia bisa pergi bareng dua orang spesial dalam hidupnya.
Sore itu rumah Sofi sangatlah terang. Ada berbagai jenis lampu yang menghias setiap sudut taman. Dari lampu disko sampai lampu bangjo (traffic light). Tamu-tamu pun datang satu persatu. Ada yang datang sendiri, ada juga yang datang dengan pasangannya. Tapi jarang ada yang datang bertiga ala trio Rizal, Adam, dan Niken. Pemandangan ini mengalahkan pemandangan gerhana matahari. Karena berbagai cerita langsung menyebar ke seluruh tamu undangan.
Sofi yang sore itu didampingi oleh mas Tomo menyambut kedatangan mereka bertiga dengan sukacita. Walau agak jutek sama Niken tapi Sofi tak henti-hentinya bercerita tentang persiapan pestanya yang agak ribet. Ia juga menjelaskan dengan detail semua menu makanan yang tersaji malam ini. Bahkan dia mengintimidasi semua tamu untuk tidak banyak-banyak makan sate sapi, karena itu adalah menu favoritnya.
Rizal berjalan menuju kolam ikan Sofi yang juga dihias lampu kelap-kelip. Ia memegang sebotol softdrink yang baru diambilnya. “Rizal.” Tiba-tiba suara Niken terdengar dibelakangnya. Rizal tersenyum lebar menyambut kedatangan Niken. “Aku minta maaf atas kejadian tempo hari. Harusnya aku ingat sebelum semuanya ini terjadi.” Niken meremas-remas gaun putih cantiknya.
“Memang udah jalannya begini kok. Nggak usah disesalin. Kamu sayang sama Adam kan?” Rizal meneguk soft drinknya. “Maaf juga tentang hal itu.” Niken menunduk malu. “Nggak masalah, aku uda diceritain banyak kok sama Adam. Aku yakin kamu pasti akan bahagia sama Adam.” Rizal memain-mainkan sepatunya. “Aku juga yakin kamu pasti akan mendapatkan wanita yang lebih baik.” Niken tersenyum manis.
Dari kejauhan Adam yang tengah mengobrol dengan Dani hanya bisa tersenyum melihat peristiwa itu. “Add, thanks ya udah nyomblangin gue.” Ujar Dani mengalihkan perhatian Adam. “Hah? I-iya, Lo harus nya bilang makasih juga ke Rizal. Karena informasi-informasi tentang Puput gue dapetin dari dia.” Adam tersenyum dan memaknai semua kejadian akhir-akhir ini sebagai kejadian paling hitam dalam hidup nya. Tapi tidak termasuk peristiwa cabut di mata pelajaran penting loh.


Seminggu telah berlalu dan Rizal kembali ke kehidupan normalnya namun dengan aktivitas yang berbeda. Ia tidak perlu takut menghadapi keisengan teman-temannya karena itu sudah berakhir. Ditambah lagi kesuksesannya masuk ke dalam tim inti bola basket di sekolahnya membuatnya digemari banyak gadis dan gay-gay yang masih percaya bahwa Rizal benar-benar gay.
Seperti biasa ia melangkah dengan optimis menuju ruang kelasnya. Segalanya terlihat baik-baik saja sebaik cuaca pagi itu yang cerah berawan. Ia masuk ke dalam kelas dengan senyum mengembang. Selagi ia tengah menebar senyum nya yang lebih mirip bibit padi daripada senyuman si Sofi lagi-lagi sibuk dengan tugas yang belum ia kerjakan. “Zal, gue contekin tugas biologi lo sini. Cepetan! Urgent!” Sofi kebingungan sendiri dan membabibuta mencari contekan yang halal.
“Sofi-Sofi-Sofi, kamu tidak pernah berubah kecuali berat badanmu.” Dengan congkak Rizal membuka tasnya dan mengeluarkan buku tugasnya. Namun bukan buku tugas yang ia dapatkan tapi malah sebuah payung yang dengan paksa dimasukin sang Mama ke tasnya. “Oh noooo...buku tugasku ketinggalan. Aduh, mana ini jam pelajaran pertama lagi.” Rizal heboh sendiri di pojokan kelas. Sofi merasa de javu dengan kejadian ini. Tapi tanpa mau berpikir panjang Sofi meninggalkan Rizal dan mencari sumber contekan terpercaya lainnya.
Bel yang lagi-lagi harus dibilang terdengar norak itu berbunyi lumayan panjang. Rizal terduduk dengan gelisah di kursinya. Sofi masih merasa ada yang aneh, tapi dia diam saja. Ibu guru Biologi masuk dengan buku-bukunya yang segambreng banyaknya. Buku pertama yang ia buka adalah jurnal hijau miliknya, kemudian keluar sebuah kalimat, “Ayo kumpulkan tugas yang saya berikan minggu lalu, yang tidak mengerjakan silahkan keluar ke BK sekarang!”
Rizal menggaruk-garuk kepalanya merasa ada yang janggal. Ia pun meninggalkan kursinya dan berjalan dengan lunglai keluar kelas. Murid-murid yang lain ternganga sejenak melihat kejadian tersebut. Namun dengan segera mereka menutup mulut mereka. Karena mereka takut dikatain mirip kolam buaya oleh penulis.
Rizal berjalan dengan cepat menuju ruang BK. Ia bertemu dengan Bu Dewi dan membuat surat pernyataan disana. Kemudian ia berjalan menuju ruang Kepala Sekolah untuk meminta tanda tangan. Sesampainya di depan ruang kepsek ia mengetuk pintu 3x sesuai ajaran mamanya. “Iya, silahkan masuk.” Suara serak Pak Kepala Sekolah saingan sama suara serak presenter Uka-Uka. Rizal masuk perlahan dan duduk di kursi merah di depan Pak Kepala Sekolah.
“Kamu? Lupa bawa buku tugas lagi?” Pak kepala Sekolah seolah bisa membaca pikiran Rizal. Rizal mengangguk sambil terheran-heran. Tak lama kemudian seorang bapak-bapak pendek dan botak masuk kedalam ruangan ber AC itu. Saat itulah Rizal merasa de javu akan kejadian ini.
Ia pun menyingkir dari kursi merah menuju kursi sofa yang lebih empuk di dekat pintu. Beberapa menit kemudian seorang siswi cantik dengan seragam kotak-kotak masuk menyusul bapak-bapak yang dikenali Rizal sebagai wakil kepsek bagian kesiswaan. Rizal tersenyum lebar melihat kecantikan wanita disampingnya. Ia berkulit putih, berambut sebahu yang dikucir keatas, dan dengan cuek mengunyah permen karet.
Merasa diperhatikan anak baru itu menatap galak ke arah Rizal. Dengan cepat Rizal mengalihkan pandangan dan berlagak mengajak ngobrol ikan di akuarium baru Pak Kepsek. “Hei kamu anak ceroboh.” Pak Kepsek menunjuk Rizal dan memanggilnya. Dengan tegas Rizal menjawab, “Iya pak, saya bersedia melindungi anak baru di sebelah saya ini dari kenakalan anak-anak sekolah ini dengan taruhan buku pelanggaran saya Pak.” Rizal tertawa lebar memamerkan gigi-gigi nya yang dihiasi kulit cabe yang nyelip.
Pak kepsek dan wakil kepsek hanya bisa bengong mendengar pernyataan Rizal barusan. Sedangkan anak baru yang awalnya terkejut, malah tersenyum aneh melihat kekonyolan siswa di sebelahnya.

                                                         TAMAT

Monday, 21 October 2013

Lima

Rizal membasuh mukanya dan mengeringkannya dengan sepotong handuk kecil. Dengan cepat Ia mengenakan setelan baju basket biru muda. Jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan angka 6 kurang seperempat. Padahal Rizal janjian ama Sofi bakal ke Mugas jam 6, bisa pecah perang dunia ke-3 nih kalo sampe Rizal telat. Dengan kecepetan penuh Rizal mengendarai Mio merah yang dipinjem secara paksa dari kakaknya. Mana pake jambak-jambakan dulu lagi, demi mencari jati diri…why not?
Udara pagi Semarang yang dingin menerpa badan kurus Rizal. Rizal mempercepat laju motor jetmatic kakaknya hingga kecepatan 80 Km/jam. Kurang dari 15 menit Rizal sampai di depan rumah Sofi yang dicat pink. Saat itu siSofi tengah duduk bersandar di kursi teras dengan mata setengah tertutup. TIN..TIN.. Rizal membunyikan klakson motornya untuk menyadarkan Sofi. Dengan tanggap Sofi meraih vas bunga di sampingnya dan langsung berteriak kencang, “Maling..maling..ada maling..”. Kontan Rizal tertawa terbahak-bahak melihat ulah sobatnya yang ajaib itu.
“Eh kunyuk, Lo kok bisa telat sih?” Tanya Sofi yang duduk di belakang Rizal. “Ya…abis semalem Gue sulit tidur sih! Jadinya kesiangan deh! Motor ini aja Gue pinjem paksa dari kakak Gue.” Jelas Rizal sambil terus memacu Mio merahnya. “Makanya Lo jangan kebanyakan mikirin Gue. Gue nyadar kok kalo Gue itu wanita idaman pria, tapi nggak usah segitunya kali…!” Kali ini Rizal memilih diam dan membiarkan Sofi nyerocos sesuka hati. “Fi…Lo tahu nggak Mugas itu dimana? Sebelah mananya bandara?” Potong Rizal dengan wajah cupu ples nggak bersalah. Sofi menelan air liurnya sebanyak mungkin biar nggak shock ngedenger pertanyaan Rizal yang begitu ekstrem. “RIZAAALL…MUGAS ITU JAAAUUH DARI BANDARA DONG-DONG!” Teriakan sopran Sofi menarik perhatian pengendara lain, sampe-sampe mereka geleng-geleng ngeliat tingkah 2 remaja ini.
Mugas adalah sebuah gelanggang olahraga yang sebenernya sih nggak jauh-jauh amat dari sekolah Rizal. Sesampainya di Mugas Rizal langsung melakukan beberapa gerakan pemanasan. Yah biar keliatan kayak atlet profesional aja. Sofi menghampiri Rizal yang asyik mengangkat kaki kanan nya ke atas. “Pertama Lo muter lapangan ini dua kali. Abis itu Lo gabung sama mas-mas ganteng yang disana buat main basket. Oke?” ujar Sofi sambil mengacungkan sebatang dahan pohon ke arah lapangan basket.
“Gue? nah Lo apa kabar?” Rizal sedikit heran mendengar perintah janggal itu. “Gue yang udah semlohai ini cukup olahraga ringan aja, karena gue parno kehilangan satu kilogram berat badan gue.” Setengah merinding mendengar alasan Sofi, Rizal memutuskan untuk memulai lari paginya. Biarlah sampe tiga atau empat kali putaran sekaligus. Itu lebih bagus daripada harus mendengar ocehan narsis teman sebangkunya itu.
Rizal menyelesaikan putaran keduanya dengan sedikit menggerutu. Bagaimana tidak, Sofi bukannya ikut berlari malah asyik menjajal segala macam jajanan di pinggir lapangan. Yah walau sesekali dia tersenyum manis pada mas-mas tampan yang lewat juga. Tapi menurut Rizal itu annoying banget. “Sof, minum dong.” Pinta Rizal ketus ketika ia sampai di depan Sofi. “Galak bener kayak tukang parkir nggak dibayar aja, nih.” Sofi menyodorkan sebotol air mineral ke hidung Rizal. Kemudian ia kembali melahap sebungkus cireng ditangannya.
“Next Lo latian basket gih sama mas-mas disana.” Sofi menyamber botol minuman yang masih dinikmati Rizal. ‘Glek’ ‘Glek’ Rizal hanya bisa pasrah melihat Sofi menghabiskan sisa air dibotol itu. “Malah ngelamun. Ayo!” Desak Sofi sembari mengacungkan dahan pohon di tangannya. “Tapi Sof Gue kan nggak kenal.” Jawab Rizal mengambil ancang-ancang untuk berdiri.
“Sport itu bisa menyatukan segalanya. Tenang aja...” Timpal Sofi yang berbinar melihat jejeran cowok-cowok tampan di lapangan basket. Rizal pun menyerah, demi tekadnya yang bulat ia akan melakukan segala cara. Termasuk mengikuti saran Sofi demi memuaskan nafsu pribadi kawannya itu.
Rizal masuk ke dalam arena lapangan basket yang berjarak 10 meteran dari tempatnya beristirahat tadi. Dengan sopan ia menyapa semua pemain dan mengobrol dengan salah seorang pria berbadan tinggi besar. Yah kurang lebih 20 cm lebih tinggi daripada Rizal. Sofi mengamati pemain-pemain lain yang sedang melakukan pemanasan di tengah lapangan. Tanpa Sofi sadari si Rizal udah main nyelonong aja ketengah lapangan dan berbaur dengan mereka. Sofi yang merasa bangga dengan kesupelan Rizal yang fantastis itu pun memberikan yel-yel semangat pada kawan nya itu. Dengan bermodalkan rambut yang panjang, ia memutar-mutar kepalanya sambil menyanyikan lagu kucing garong. Nggak cukup itu saja, Sofi yang berkali-kali ditolak jadi cheerleader di sekolah nya ini juga nekat kayang di depan lapangan. Alhasil, atraksi ini lebih mirip trio macan lagi manggung ketimbang cheerleader profesional.
Satu jam telah berlalu dan Sofi terduduk lemas dengan sampah-sampah plastik bertebar di sekitarnya. Dalam rangka mensupport sahabatnya itu ia telah menelan lebih dari 20 pentol bakso, 5 roti bakar, 4 bungkus es teh, dan berbagai makanan lain yang tabu untuk disebutkan satu persatu. Di dalam lapangan basket permainan baru saja berakhir dan Rizal tampak sedang asyik mengobrol dengan kapten tim nya tadi. “Kamu masih sekolah?” Tanya sang kapten sambil membersihkan keringat di lehernya.
“Iya mas, aku kelas X di SMA sebelah.” Jawab Rizal sembari bersalaman dengan pemain yang lain. “Oh ya, permainan mu bagus kok. Nggak tertarik ikut tim bola basket sekolah?” Tanya sang kapten lagi. “Belum mas. Dari dulu cuma hobi aja sih sebenernya. Nggak ada pikiran buat ikut tim bola basket.” Sesekali Rizal melirik ke arah Sofi yang terus melahap cireng ke sekian juta sambil menatap pemain-pemain lain dari atas ke bawah. Satu persatu. Bener-bener maniak ni anak.
“Gini aja, kebetulan aku nglatih tim basket sekolah mu. Besok kamu dateng jam 3 buat latihan. Kebetulan kita lagi menjaring anak-anak baru buat kompetisi basket semester depan.” Ujar kapten tim itu mengalihkan perhatian Rizal. “Apa? Beneran mas? Boleh?” Rizal terbelalak kaget. Sang kapten yang ternyata juga seorang pelatih itu pun mengangguk optimis. “Dan satu lagi. Aku titip salam buat temen mu yang diluar itu. Aku terkesan akan kekuatannya untuk melahap semua jajanan-jajanan itu.hahaha” Pria berkulit cokelat itu pun tertawa dan meninggalkan Rizal yang sedikit malu akan kelakuan temannya itu.
“Udah selese latihannya?” tanya Sofi dengan mulut penuh cilok. “Udah selese makannya? Ayo kita pulang. Capek nih.” Rizal menggeret kuciran rambut Sofi yang lebih mirip rambut jagung. “Oh iya, Lo dapet salam dari pelatih tim bola basket tadi.” Sofi yang awalnya ogah-ogahan meninggalkan tempat pewe nya langsung beranjak dan menyamai langkah Rizal. “Waaa...masak? Dia bilang apa?” Tanya Sofi cengar-cengir. “Dia terkesima sama kemampuan Lo makan semua jajanan tadi.” Jawab Rizal datar. Bagai jatuh dari langit ketujuh langsung ke neraka si Sofi cemberut secemberut mungkin. Sampai-sampai nggak bisa dibedain mana bibir Sofi mana pantat ayam.


Malam hari dirumah Niken suara gaduh terdengar seperti malam-malam lainnya. Tapi kali ini dilebih-lebihkan dengan berita adanya perjodohan antara Niken dan Adam. Sebenarnya hal ini baru sepintas wacana aja, tapi Mama Niken yang terobsesi dengan sinetron kesayangannya terus mendesak Niken untuk mengiyakan ajakan nge date si Adam. “Tapi Ma, Niken itu baru aja putus sama cowok Niken gara-gara si Adam.” Niken terus menolak sodoran gaun yang diberikan Mamanya. “Niken, kamu itu nggak bisa hidup dalam masa lalu terus. Kamu mesti move on dong.” Si Mama yang emang dasar udah keracunan sinetron jadi mulai ketularan lebay. “Niken tau, tapi Ma...”
‘TING TONG’ “Nah itu pasti nak Adam, ayo kamu pake ini aja. Udah cepetan. Apa mau Mama potong lagi uang jajan mu?” Niken pasrah. Ancaman potong uang jajan adalah ancaman terbesar bagi hidup Niken. Potong uang jajan rasanya seperti ngiris-ngiris jari sendiri. Perih. Apaan sih??
Adam duduk menunggu di ruang tamu ditemani Icha kakak Niken yang nggak kalah lebay sama si Mama. Awalnya sih Adam oke-oke aja ngeladenin obrolan si Icha yang ngalor ngidul nggak jelas. Tapi makin lama Icha semakin menjadi dan membuat Adam BT. Pasalnya Icha mulai curhat tentang kehidupan cintanya ke Adam. Yang pernah punya pacar bule angola lah, yang pernah dilamar pilot pesawat televisi lah, pokoknya macem-macem deh.
Yah, Icha emang hobi banget curhat. Hampir semua orang pernah jadi korban curhatannya. Nggak terkecuali persatuan pembantu-pembantu di kompleks Icha yang notabene nya adalah pembantu-pembantu islami yang rata-rata berkerudung. Mereka  merupakan korban terparah curhatan Icha yang bingung mesti curhat ke siapa lagi. Mungkin itulah salah satu penyebab maraknya kasus tentang pembantu-pembantu yang kabur dari rumah majikan nya di kompleks Icha.
Setelah menunggu lumayan lama akhirnya penderitaan Adam berakhir sudah. Niken keluar dari kamarnya di ikuti sang Mama yang senyum-senyum sendiri. Niken mengenakan dress panjang berwarna biru muda lengakap dengan tas tangan berwarna senada. Di sebelahnya sang Mama dandan lebih heboh dengan setelan gamis berwarna merah ngejreng dan gelang emas berjajar di tangannya. “Tante mau ikut nonton juga?” Tanya Adam ragu-ragu. “Oooo..tentu tidak, Tante mau pengajian di rumah sebelah. Tante kan ibu-ibu eksis yang glamour tapi tetap rendah hati dan rajin bersedekah. Kamu hati-hati ya nyetirnya, jangan ngebut-ngebut, di jalanan banyak kendaraan. Kalau pulang jangan malem-malem, kalo bisa malah pagi sekalian aja pulangnya. Biar nggak masuk angin.” Niken melirik Mamanya heran. Buset nih ibu-ibu kesambet setan manalagi coba. Sedangkan Icha sibuk mendiamkan si bungsu Jenny yang menangis histeris, “Huwaaa..mama ku gilaaa...huwaaaa”
Mobil Adam melesat melewati jalan Arteri yang padat. Niken membisu di kursi depan mobil Adam. Tangannya terus meremas-remas tasnya. Bukan meremas-remas yang lain loh. Apaan coba. “Kamu masih marah?” Adam mencoba menghangatkan suasana. “Oh, nggak. Aku Cuma nggak nyangka aja tentang semua kejadian akhir-akhir ini.” Niken terus menatap ke punggung mobil Carry di depannya. “Masalah si brengsek itu lagi?” Adam meninggikan suaranya. “Jangan menyebutnya seperti itu. Setidaknya hormati dia sebagai mantanku.” Niken melirik ke arah Adam dengan tajam. Setajam silet.
“Maaf.” Adam harus menjaga perilakunya di depan Niken. Semua ini dia lakukan untuk menjawab tantangan kawan-kawan barunya di sekolah. Ia harus merebut hati Niken dari Rizal. “Sampai kapan?” Niken kembali bersuara. “Apanya?” Adam menambah kecepatan mobilnya melewati jalan supriyadi yang lengang. “Kamu dan kawan-kawan barumu ngerjain Rizal.”
“Bisa nggak malem ini kita skip obrolan tentang mantan mu tercinta itu. Karena tujuan ku ngajak kamu pergi adalah untuk mengenal kamu lebih jauh. Bisa kan?” Adam menahan nada suaranya senormal mungkin. Niken membisu. Ia tidak bisa memberikan tanggapan apa-apa mengenai pernyataan yang mengejutkan dari Adam.


Sekolah berjalan seperti biasa dan Rizal pun dikerjain seperti biasa. Kali ini giliran celana abu-abu Rizal yang terkena tempelan permen karet. Ditambah juga sama aksi oknum-oknum tertentu yang menyiarkan kabar mengenai Rizal yang disebut gay. Tapi Rizal tetaplah Rizal yang cuek. Ia tetap berangkat ke sekolah walaupun dijauhi teman-teman cowok dikelasnya. Plus di deketin sama kelompok anak-anak gay di sekolahnya.
Bel pulang sekolah berbunyi dan Rizal tengah asyik bercanda dengan Sofi and the gank di depan kelas. Yah urusan dalam negeri mereka sudah beres jadi mereka mulai intensif kumpul bareng lagi kayak dulu. “Zal, kata Sofi Lo kemarin ikutan main basket di Mugas ya.” Puput yang merupakan atlet basket sekolah sedikit heran dengan potensi tersembunyi kawannya ini. “Iya put, demi memenuhi kebutuhan napsu nya si Sofi yang pengen cuci mata. Gue jadi korbannya.” Rizal memicingkan mata bulatnya ke arah Sofi.
Sofi tersenyum centil sambil memainkan rambut kucir kudanya. “Ya udah, Lo sekalian aja ikutan latihan basket ntar sore.” Ajak Puput semangat. “Iya, kemarin kebetulan ketemu sama pelatih tim basket sekolah kita. Dia ngundang Gue latiahan jam 3 ini.” Ujar Rizal yang asyik merhatiin tiga makhluk disampingnya yang lagi pijit-pijitan.
“Mas Tomo?” Tanya Puput kaget. “Iya kali, aku nggak tahu namanya. Kebetulan kemarin kami maen bareng. Dia juga sempet kirim salam malahan ke Sofi.” Rizal memandang wajah Sofi yang memberikan suatu isyarat. Entah dia memberikan isyarat untuk diem atau emang otot-otot muka si Sofi sudah mulai mengendur. Hanya Sofi dan tuhan yang tahu.
Dari kejauhan Adam cs memperhatikan gelagat lima remaja di depan kelas itu. “Kayaknya gosip tentang Rizal gay itu berhasil Add. Tinggal nunggu waktu aja sampai akhirnya dia pindah sekolah.” Komentar Dhika yang sedang asyik memetik senar gitarnya. “Kenapa bisa si tolol itu berkawan baik dengan ke empat cewek itu?” Toro yang dari dulu jatuh hati sama salah satu di antara mereka terheran-heran.
“Masalah kah? Kalo mereka mulai ikut campur kita kerjain aja sekalian. Gimana?” Usul Evan sembari menyandar pada mobil sedan kebanggaannya. “Jangan. Itu bukan ide bagus.” Ujar Dani yang sedaritadi memperhatikan Puput dengan seksama. “As you know guys. Puput is our basketball player, Dhiba is fuckin popular, Retno is the headmaster’s daughter, but Sofi is nothing.”  Ujar Anggara yang lagak-lagaknya kayak bule kesasar. Adam memandang mereka satu persatu. Mungkinkah ini adalah jawaban untuk pertanyaan Niken tadi malam. Cukup sampai disini saja penyiksaan untuk Rizal?


Seminggu telah berlalu dan hari minggu pagi ini si Rizal masih terbaring malas dikamarnya. Teriakan sang Mama yang daritadi membangunkannya tidak dihiraukan. Rizal telah menjalani hari-hari yang melelahkan di sekolah, dengan ulah Adam cs yang nggak bosen-bosennya ngerjain dia sampai aktivitas barunya setiap sore. Latihan basket. Jadi sudah pantas jika Rizal ingin memanjakan diri sejenak di tempat tidur.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan kepala Mama Rizal mencungul masuk kedalam. “Rizal kamu mandi sana. Temeni Mama nyari kado buat nikahan anaknya Bu Gianto.” Ujar Mama sembari membenarkan roll rambut di poninya. “Sama mbak aja kenapa sih, Rizal capek nih.” Rizal menaikkan selimut nya lagi. “Ehh..mbakmu kan lagi magang keluar kota sampe bulan depan. Lupa ya? Ayo ah, ntar mama beli-beli in deh.” Rizal membuka matanya bulat-bulat. Kata ‘beli-beli in’ terdengar cukup menjanjikan untuk tipe ibu super pehitungan seperti mamanya. Rizal pun bangun dan bergegas ke kamar mandi. “Adduhhh Rizal, kamu kok tidur nggak pake celana sihhh, jorok banget....”
Di dalam sebuah pusat perbelanjaan di kawasan simpang lima Rizal berjalan mengekor Mamanya. Ia bukannya takut kehilangan Mamanya tapi lebih takut kalo Mamanya sampai menabrak barang-barang dagangan orang karena body nya yang super duper aduhai. “Mama mau nyari kado apa? Kok kita malah muter-muter nggak jelas?” Rizal mulai terganggu dengan ulah Mamanya yang selalu berhenti setiap satu meter sekali itu. Kayak angkutan nyari penumpang aja nih si Mama.
“Muter-muter gimana? Mama itu lagi nyari barang diskon, jadi bisa dapet barang lebih banyak. Tunggu disini sebentar.” Mama Rizal yang emang udah punya karakter perhitungan dari kecil itu langsung bergabung dengan ibu-ibu lain berebut barang diskonan 10 menit di dekat tangga. Rizal hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan mama nya yang maniak diskon itu.
Rizal berdiri bersandar pada pohon plastik besar sembari menunggu Mamanya dari pertempuran sengit dengan wanita-wanita setipe. Yah tipe-tipe perhitungan yang kemana-mana lebih suka bawa kalkulator daripada ponsel. Dilihatnya arah jarum jam di tangannya dengan malas. Jarum pendek dan jarum panjang menunjukkan angka 12. Padahal jam 4 nanti Rizal ada pertandingan basket melawan anak kelas XI untuk ujian masuk tim inti bola basket di sekolahnya.
Ditengah-tengah lamunannya Rizal menemukan dua sosok manusia yang tampak tidak asing baginya. Seorang pria yang dikenalnya sebagai Adam ditemani dengan seorang wanita cantik yang membuatnya terkejut. Niken berjalan menggandeng Adam yang tangannya dipenuhi barang belanjaan.
“Ayo Zal..Mama udah dapet seprei sama gelas-gelasan nih. Kamu mau minta apa?” Cengir Mama Rizal yang bangga telah mendapatkan harga murah untuk barang-barang tersebut. “Pulang aja yuk Ma...Rizal capek.” Rizal kehilangan semangatnya secara tiba-tiba. Ia melupakan kata-kata ‘beli-beliin’ yang sempet diucapkan Mamanya. Ia berjalan ngeloyor begitu saja meninggalkan si Mama yang heran sama ulah anaknya itu. Tapi si Mama cuek aja, kalo gini kan si Mama nggak perlu keluar duit lagi untuk beli-beli in si Rizal.


Rizal memasuki tempat latihan basket dengan lemas. Ia terus terbayang-bayang akan kemesraan yang dipamerkan Adam dan Niken siang tadi. Semudah itukah Niken melupakan Rizal dan berpaling pada Adam. “Woooii..ngelamun aja!” sebuah suara menggelegar dan pukulan keras mengagetkan Rizal. “Eh Puput, resek Lo.” Rizal memberikan senyuman kecilnya. “Kenapa Lo? Kesambet setan dari kamar mandi cewek? Manyun aja kayak suster rumah sakit.” Puput meletakkan tas ranselnya di sebelah Rizal. “Bisa aja Lo, nah tu orang ngapain disono. Pake dada-dada segala lagi ke gue. Dikira kita mau lepas landas.” Rizal memperhatikan Sofi yang duduk di kursi penonton.
“Apalagi modus nya kecuali cuci mata. Tuh anak kan kena penyakit stres menahun.” Puput membalas lambaian tangan si Sofi. “Tadi Gue waktu nganterin nyokap gue belanja ngelihat Adam jalan sama si Niken.” Cerita Rizal tiba-tiba. Puput menghentikan aktivitasnya dan duduk disamping Rizal. “Maaf, gue nggak tahu. Tapi Lo nggak papa kan?” Ujar Puput sembari memberikan tonjokan ringan ke lengan Rizal. “Jangan libatin masalah Lo ke permainan ini ya, inget alasan Lo ikut latihan basket wajib diganti. Lo punya potensi, jangan cuma gara-gara wanita atau image Lo nyia-nyia in potensi Lo.” Puput memberi wejangan singkat sebelum akhirnya ia turun ke lapangan untuk bertanding.
 Pertandingan antar angkatan untuk menjaring generasi penerus tim bola basket sekolah Rizal berlangsung dengan seru. Dan Rizal terpilih sebagai salah satu pemain di tim bola basket sekolahnya. Walau gosip tentang Rizal yang dibilang gay masih berkembang namun hal itu tidak mengucilkan hati Rizal. Lagipula pemain-pemain satu tim nya tidak terlalu peduli akan itu semua. Tapi bukan berarti mereka semua gay loh.
Sebagai perayaan akan keberhasilan Rizal, ia mengajak Puput dan Sofi untuk mekan mie ayam di dekat sekolahnya. Yah itung-itung berbagi kebahagiaan dengan kaum dhuafa lah. Tentu sebagai penggemar aneka jajanan Sofi mengiyakan ajakan itu. Ia sudah berencana memesan 3 mangkok mie ayam bakso plus 2 gelas es teh sebelum berangkat. Sofi emang kebiasaan ngemindset dirinya sendiri biar nggak khilaf nantinya. Kalo wanita ini sampe khilaf, udah deh, dia bakal memborong semua persediaan mie ayam sekota Semarang. Kan kasihan para pecinta mie ayam di Semarang. Masak mau makan mie ayam aja harus pergi ke Solo atau Jogja.
Rizal yang sedang asyik berjalan sambil bercanda dengan kedua sohibnya itu dikagetkan dengan hadirnya beberapa orang berpakaian hitam. Mereka adalah para berandalan yang biasa nongkrong di daerah situ. “Eh Lo bocah, gue ada urusan sama Lo.” Hardik salah seorang dari mereka sembari menunjuk Rizal. Rambutnya yang kaku diberdiriin ke atas kayak sapu ijuk dibalik. “Maaf bang, ada urusan apa ya?” Rizal yang merasa nggak pernah punya bisnis sama berandalan-berandalan itu pun kebingungan. “Ih nantangin Lo ya, anak anjing Lo, Lo kagak bisa di omongin baek-baek ya.” Timpal berandalan yang lain sembari mengayun-ayunkan batang kayu besar ditangannya.
“Eh Bang, kalo malakin kira-kira dong. Penampilan kita aja nggak ada yang borju.” Sofi menunjuk-nunjuk wajah berandalan di depannya. “Sof, Lo diem aja deh. Bisa kacau urusan.” Bisik Rizal rada keder juga. “Eh Lo yang cowok sendiri, sini ikut gue!” ujar sang berandalan. Rizal maju selangkah demi selangkah, “Set dah, cepetan dikit napa? Banci Lo!” teriak seorang yang lain. Ketiga berandalan itu bertampang sangar dan mengkhawatirkan. Rizal hanya bisa menuruti perintah mereka.
Sesampainya Rizal di dekat mereka sebatang kayu pun berayun dengan cepat dan hampir mendarat di badan Rizal. Namun Rizal berhasil menangkisnya dengan tangannya. Puput yang dari tadi sudah mengambil ancang-ancang langsung menyerang membabibuta dengan tas ranselnya. Sofi berteriak histeris. Entah ketakutan entah juga jijik melihat berandalan-berandalan dekil yang bau terasi itu.
Sempat menjadi bulan-bulanan, Rizal akhirnya terselamatkan dengan datangnya Mas Tomo dan kapten timnya, Mas Satria. Dengan postur tubuh yang lebih meyakinkan kedua pemuda berbadan gelap ini menghajar ketiga berandalan tersebut hingga dua diantaranya kabur dengan jalur zigzag. Kayak dikejar babi hutan aja nih berandalan. Sedangkan seorang yang tersisa dipiting oleh mas Satria yang keringetnya masih mengucur deras. Bisa dibayangin kan bagaimana naasnya penderitaan berandalan amatir ini. Mas Tomo dengan gagah dan membuat Sofi terpesona mencengkram leher si berandalan. “Ngapain Lo nggebukin anak kecil?” Tanya Mas Tomo dengan wajah garang.
“Ampun mas, saya disuruh.” Rengek berandalan itu meminta ampun sambil menyeka keringet Mas Satria yang netes di mukanya. “Siapa yang nyuruh? Udah bagus Lo di baik-baikin sama anak sekolah sini, masih tega Lo bertingkah?” Tanya Mas Tomo yang juga jebolan dari sekolah Rizal. “Evan mas, saya disuruh sama mas Evan. Katanya jangan sampe ni bocah bisa ikut kompetisi mas.” Sedikit merintih kesakitan Rizal yang tadinya jatuh tersungkur mulai menegakkan badannya. “Kali ini Lo gue lepasin, jangan sampe gue ngeliat batang hidung lo dan temen-temen lo di sekitar sini. Gue bisa aduin lo ke Om Prengki.” Mas Tomo melepaskan cengkramannya dan berandal amatir itu pun lari tunggang langgang meninggalkan tetesan air kencing di jalanan.

“Makasih Mas.” Ujar Rizal tersenyum simpul. “Lain kali ati-ati, apalagi udah jam segini. Ayo ke dalem, luka lo perlu diobatin kayaknya.” Rizal dan Puput mengangguk dan masuk kedalam sekolah di ikuti Sofi yang masih berbinar-binar memandang punggung mas Tomo yang menawan itu.