Sunday, 27 October 2013

Enam - Habis

Pagi ini Sofi duduk seorang diri dengan wajah berbinar-binar. Ia tak henti-hentinya mengetik SMS dengan ponsel pinknya. Adam datang dengan gaya super coolnya dan seperti biasa fans-fans nya yang binal mengintip dari jendela kelas dengan teriakan histeris. Tampaknya kepopuleran Adam telah kembali dan berita tentang Adam yang mabuk sudah terlupakan. Dan berganti dengan berita yang mengatakan bahwa si Rizal adalah seorang clepto. Hal ini dibuktikan dengan hilangnya beberapa sapu, kemucing, dan penghapus papan tulis akhir-akhir ini.
 Adam sedang menaruh tas nya ke dalam laci ketika ia menyadari bahwa Rizal tidak berangkat hari ini. Ia duduk sejenak sambil memperhatikan kursi yang biasanya diduduki mantan sobatnya itu. “Add, kali ini lo keterlaluan deh.” Puput yang tiba-tiba datang tau-tau udah duduk di samping Adam. “Hah?” secepat kilat Adam mengalihkan perhatiannya. “Iya, Lo keterlaluan. Kalo masalah dendam pribadi Lo ke Rizal, fine gue nggak peduli. Tapi bukan berarti lo harus nggagalin dia buat ikut kompetisi kan?”
Adam ternganga. Ia masih bingung dengan pernyataan teman sebangkunya itu. “Kemarin ada 3 berandalan yang ngeroyok gue, Sofi, and Rizal. Untung aja ada anak-anak basket. Kalo nggak udah mati kali tu si Rizal. Gue aja memar-memar begini.” Puput menunjukkan memar di lengan kanannya. “Tapi sumpah gue nggak ngelakuin itu.” Adam terkejut dengan tuduhan Puput. “Nggak usah pake sumpah segala, Lo juga nggak punya bukti. Orang berandalan itu ngomong sendiri kalo Evan yang nyuruh dia. Dan Evan kan sahabat karib lo.” Puput mengambil tasnya dan meletakkannya di samping Sofi yang lagak-lagaknya lagi kasmaran sama Mas Tomo.
Saat istirahat Adam menemui Niken dikantin sekolah. Sepertinya issue kedekatan mereka sudah sampai ke telinga fans-fans Adam. Hal ini membuat Niken merasa terganggu. Pasalny akhir-akhir ini Niken sering mendapatkan teror misterius dari fans-fans binal si Adam. Mulai dari sms misterius, pesan di bangku yang juga misterius, sampe selebaran misterius yang harus di perbanyak dan diberikan kepada orang lain biar nggak celaka. Kok nggak asing sama selebaran yang satu ini ya.
“Nanti siang aku nggak bisa nganterin kamu pulang ya.” Ujar Adam sembari menyerot jus kesukaannya. “Kenapa? Ada kumpul anak-anak most wanted lagi?” Niken memegangi lengan kekar Adam membuat fans-fans Adam mengasah golok. “Iya, ada masalah tiba-tiba. Gara-gara Evan aku dituduh mencelakai Rizal. Aku mau nge-clear in masalah itu.” Niken menarik tangannya dari lengan Adam membuat fans-fans Adam bernafas lega. “Apa yang terjadi sama Rizal? Kamu janji nggak akan main fisik kan?” Adam terdiam, ia tidak punya bukti untuk membantah tuduhan itu. Sama seperti Rizal yang tidak punya bukti akan tuduhan yang dialamatkan oleh Adam padanya.


Evan bersandar di mobil sedannya yang mengkilap. Adam datang bersama Dani menghampiri Evan. “Hai Brow, lama banget, darimana?” Evan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. “Buat apa lo nyuruh berandalan-berandalan itu untuk mukulin Rizal?” Adam mengacuhkan tangan Evan. Evan menarik tangannya dan memasukkannya ke dalam kantong celana abu-abunya. “Memang ada masalah? Gue udah capek ngerjain tuh anak badung biar dia pindah dari sekolah ini. Tapi yang ada malah makin banyak orang yang bersimpati sama dia. Pake ada acara kepilih ikut kompetisi bola basket segala lagi.”
“Van, tapi nggak harus sebrutal itukan? Selain Rizal ada dua temen ceweknya yang jadi korban kebrutalan anak buah lo.” Dani terlihat geram menyikapi aksi Evan yang sepihak. “Gue minta lo jangan ikut campur lagi sama urusan ini.” Ujar Adam ketus dan kemudian berbalik meninggalkan Evan. “Eh man, Lo itu emang bajingan ya. Gue udah puter otak untuk ngebantu lo ngeluarin tu anak badung dari sekolah kita. Berbagai macam cara man! Dan sekarang lo dengan entengnya nyuruh gue untuk nggak ikut campur lagi? Daripada Rizal mending lo aja deh yang keluar dari sekolah ini.” Evan membuka pintu mobilnya perlahan.
“Eh Van, gue tahu maksud lo baik. Tapi nggak dengan begini juga kali.” Dani berusaha menengahi. “Gue udah bosen, lo atur sendiri masalah Rizal, gue off dari masalah ini.” Dengan suara berdecit mobil Evan meluncur melewati tempat parkir dan keluar dari sekolah. “Add, mungkin kesalahan Evan kali ini bisa berhasil ngebuat Rizal pindah sekolah. Kita tunggu aja.” Dani melenggang meninggalkan Adam yang tampak serius sekali berfikir. Ngalah-ngalahin mikir jawaban soal ujian nasional aja.


Pintu rumah Niken tertutup dengan keras gara-gara ulah si Mama yang lagi kesal. “Apa sih ma? Berisik aja.” Icha yang lagi mantengin drama korea kesukaannya merasa terganggu. “Itu loh, Bu Khanafi itu emang ember ternyata. Masak apa yang mama curhatin ke dia di omong-omongin ke semua ibu-ibu arisan. Mungkin kalo ibu presiden juga ikut arisan Mama bakal jadi headline news tuh semua curhatan Mama.” Mama mengomel sepanjang perjalanan dari ruang tamu menuju kamarnya. Bahkan dikamarnya Mama Niken masih mengomel walaupun nggak ada siapa-siapa disana. Dan ajaibnya si Icha yang dicurhatin sama sekali tidak menghiraukan Mamanya, ia malah asyik sendiri dengan drama koreanya.
Niken yang sedaritadi sibuk di dapur mendengar omelan Mamanya yang lebih mirip siaran drama komedi di radio. Apalagi ditambah backsound pintu dibanting dan barang-barang yang berjatuhan. Tiba-tiba Niken teringat sesuatu, ia ingat pernah menceritakan kejadian di club malam waktu itu pada Vivi, sohib kentelnya. Dengan perasaan yang berkecamuk Niken meninggalkan mie yang sudah selesai ia rebus dan masuk ke dalam kamarnya. Ponsel yang tergeletak di atas kasur pun menjadi target pertamanya. “Halooo...Vivi?” sapa Niken lirih sembari duduk di kasurnya. “Iya Niken, ada apa?” Vivi menjawab dari seberang saluran. “Eh, kamu inget nggak kejadian di club malam yang aku ceritain ke kamu waktu itu?” Niken meremas sisi bawah kaosnya. “Yang kamu marahan sama cowok kamu gara-gara dia milih nganterin Adam yang lagi mabuk bukan?” jawab Vivi polos. “Iya, kamu ada cerita ke orang lain?” tanya Niken ragu-ragu. Ia takut menyinggung Vivi.
“Emmm...seinget aku, aku Cuma ada cerita ke Zenni. Gara-gara dia sempet nguping pembicaraan kita waktu itu.” Vivi membenarkan kecurigaan Niken. “Oh shit, Zenni kan biang gosip terpopuler satu sekolahan Vii..ya udah ya.” Niken memutus saluran sepihak dan langsung terbaring lemah di kasurnya. ‘Bagaimana caranya menjelaskan ini semua ke Adam? Atau lebih tepatnya, cerita nggak ya ke Adam.’ Pikir Niken.


Hari selasa pagi, kota Semarang yang ramai di selimuti awan tebal yang membuat sinar matahari tidak leluasa menerangi bumi nusantara tercinta. Duh bahasanya. Seperti biasa Rizal berangkat sekolah di antar oleh papanya. Tapi yang luar biasa sang papa nganterin Rizal sampai ke dalam sekolah. Rizal mengalami luka di kaki hingga ia kesulitan melangkah dan memerlukan bantuan papanya. Saat Rizal tengah di bantu papanya tiba-tiba Anas, Ruci, dan Yanuar datang menghampiri duo bapak anak itu. “Sudah Om, biar kami aja yang bawa Rizal.” Papa Rizal pun melepaskan rangkulan anaknya yang masih memar itu dan pergi melanjutkan perjalanannya.
“Makasih ya, maaf ngrepotin.” Rizal melangkah perlahan dibantu kawan-kawannya. “Kami yang harusnya minta maaf, di saat lo butuh kami malah sibuk dengan ketakutan kami.” Ujar Anas memegangi tangan kanan Rizal. “Ah nggak papa, gue masih beruntung kalian mau mapah gue sampe kelas.” Rizal merintih sesekali apabila lukanya tersenggol. “Sampe kelas? Mimpi kali lo...sampe lapangan dua puluh rebu, sampe kelas lima puluh rebu.” Ujar Yanuar menirukan gaya tengkulak kain. “Set dah, tuh argo apa ngerampok. Mending gue dikeroyok sekali lagi deh.”
Adam melihat pemandangan itu dari dalam mobilnya yang baru saja terparkir. Niken duduk di sebelah Adam dengan mata terbelalak. “Itu yang udah lo lakuin ke Rizal?” Mata Niken merah sesaat. “Add, lihat gue!” Adam memalingkan wajahnya dan menemui wajah halus Niken. “Orang yang harusnya memar-memar sekarang adalah gue.” Niken tidak bisa menahan emosinya. Adam terlihat bingung, ia hanya bisa mengerutkan dahinya.
“Gue baru inget kalo gue pernah curhat ke sahabat gue tentang kejadian di club malam waktu itu. Semua gue ceritain termasuk lo yang pulang dalam keadaan mabuk.” Air mata dengan derasnya keluar dari mata Niken. Kemudian kata-kata yang keluar berikutnya samar dan tidak dapat dimengerti. Adam terdiam sesaat. Ia terkejut dengan apa yang dikatakan Niken. Tapi ia terlalu baik untuk memukul Niken dan terlalu jahat untuk memeluk Niken. Ia hanya bisa memandangi Rizal dari kejauhan dan tetap tidak menggubris Niken yang menangis bombay di sampingnya.
“Waahh..lo dateng diwaktu yang tepat.” Sofi dengan wajah merona merah menyambut kedatangan Rizal. “Apaan? Lo positif ya?” Rizal meletakkan tasnya perlahan di mejanya. “Positif muke lo, emang gue cewek apa pun. Gue ditembak sama Mas Tomoooo.” Sofi cekikikan persis Farida di film mak lampir. “Masaak? Mas Tomo sadar gitu?” Rizal terkejut bukan main bagai melihat undur-undur jalannya maju. “Eish..jangan salah. Gini-gini daku pernah ikut kontes putri bunga dan pernah totok aura segala tauk.” Sofi memulai aksi cemberutnya.
“Kok jadi nggak nyambung? Terus kamu terima gitu?” Tanya Rizal lebih dalam. “Iyalahh...mas Tomo kan ganteng banget. Oh iya, katanya seminggu ini lo disuruh break latihan dulu. Minggu depan lo boleh gabung lagi. Tenang aja, lo tetep di tim inti kok. Tapi selama permainan lo bagus.” Sofi membuka tasnya dan mengambil sebuah buku berwarna pink. Dengan cekatan ia beranjak dari bangkunya dan mencari contekan PR secepat mungkin.
Tak lama kemudian Puput datang dengan penuh senyuman. “Kenape Put, lo abis ditembak juga?” tanya Rizal asal-asalan. “Yee...main tebak aja, emang sini lagi buat kuis. Gimana kondisi lo?” Puput duduk dibangkunya. “Alhamdulillah, nah lo sendiri?” Puput menunjukan luka ditangannya yang dibalut plester gambar hati. “Icciieee...pacaran.” goda Rizal yang nggak biasa ngelihat Puput sefeminim itu. Bagaimana mungkin ia membiarkan plester imut itu bersarang dilukanya kalo bukan karena seseorang.
Adam masuk ke kelas. Keadaan hening seketika. Semua mata yang biasanya tertuju pada Rizal kini berganti menyorot ke Adam. Rizal yang menyadari kejanggalan itu pun tidak berkutik. Ia hanya bisa curi-curi pandang ke arah Adam sambil terus berceloteh dengan Puput.
Jam istirahat Rizal tetap duduk di bangkunya sementara teman-temannya yang lain berhamburan menuju kantin. Ia memulai kebiasaan lamanya, membuka bekal yang dibawanya dari rumah. Tanpa ia sadari Adam masuk ke dalam kelas yang sepi itu. Saat Rizal tengah mengunyah roti isinya, ia dikagetkan dengan kehadiran Adam yang sudah duduk di depannya. “Uhuk-Uhuk, minum-minum.” Dengan cekatan Adam membukakan botol air mineral entah punya siapa. “Jangan mati gara-gara kesedek dong, nggak keren tauk.” Ucap Adam spontan. Rizal terpaku dan meletakkan roti isinya kembali ke dalam kotak.
“Gue bisa minta libur nggak, barang seminggu aja buat nyembuhin luka-luka ini. Habis itu terserah lo mau ngerjain gue gimana lagi.” Ujar Rizal setengah pasrah. “Tolol, kenapa lo nggak minta maaf aja sih. Pake ngorbanin diri lo kayak gini.” Adam memandang luka-luka di badan Rizal. “Gue udah bilang Dam, gue nggak salah. Mau lo bunuh gue juga hal itu nggak akan berubah. Tapi gue tahu kalo yang terakhir kemarin sama sekali bukan ide lo.” Rizal mengulum senyumnya.
“Kenapa lo bisa seyakin itu?” Adam memandang tepat ke dalam mata Rizal. “Sebajingan-bajingannya lo, lo nggak bakal tega ngelihat gue dipukulin. Terus terang aja. Lo juga nggak tega kan ngeliat gue dikerjain sama temen-teman lo? Dan satu lagi, please jaga Niken baik-baik. Jangan jadi in dia alat untuk bales dendam ya.” Rizal mengalihkan pandangannya. Ia tidak berani menatap balik ke mata Adam.
“Cerewet lo Zal, kayak cewek.” Adam menonjok lengan Rizal perlahan. “Aww...libur seminggu aja nggak bisa nih?” ujar Rizal kekeuh. “Maafin gue, gue nggak tahu harus bilang apa. Niken udah cerita semua, bukan lo kok yang salah. Gue salah paham.” Adam memain-mainkan botol minuman di depannya.
“What? Dam, lo jangan dengerin apa kata Niken. Mungkin dia ngigau atau apalah. Tapi please lo jangan nyakitin dia, anggap aja gue yang salah. Dia..dia sayang sama lo.” Rizal menyatukan dua telapak tangannya seperti sedang memohon. “Tolol, gue udah sadar apa yang gue lakuin akhir-akhir ini sama sekali nggak ada yang bener. Gue nggak akan ngulangi kejadian kayak gini lagi. Maafin gue ya.” Adam menurunkan tangan Rizal dari depan wajahnya.
“Berarti termasuk cabut di jam mata pelajaran penting juga nggak bener kan?” tanya Rizal membendung emosi terharunya. “Kecuali itu. Dan kalo masih mau lo nemenin gue cabut ya habis ini.” Jawab Adam merubah air mukanya. Kedua mantan sohib itu pun kini menjadi mantan mantan sohib karena mereka sohiban lagi. Mampus, bingung nggak lo.
Dan di jendela kelas, ternyata berjejer puluhan siswa XB yang menangis terharu melihat drama situasi tadi. Ada yang sempet moto-moto plus nge-video in acara ini lagi. Dikira lagi nonton Dorce show kali ah. Tapi kali ini Joko si siswa terulet satu sekolahan ambil bagian dengan menjual tisu kepada mereka yang membutuhkan. Gilak nih anak, semua bisa jadi duit buat dia.


Beberapa hari kemudian Sofi mengundang teman-temannya untuk merayakan ulang tahunnya yang ketujuh belas. Si Sofi emang pernah nunggak setahun, jadi dia ngerayain sweet seventeen lebih dulu daripada yang lain. Saat itu luka-luka ditubuh Rizal sudah membaik jadi dia bisa ambil bagian di acara nya si Sofi. Semua anak kelas XB di undang ke acaranya si Sofi termasuk Adam. Jadi sepulang sekolah hari ini Adam sudah janjian dengan Rizal untuk berangkat bersama.
Pukul 4 sore, jeep trooper Adam udah nagkring di depan rumah Rizal. “Adam tinggal dimana?” Tanya Mama Rizal yang overprotectif dengan anaknya. “Di daerah Candi tante.” Jawab Adam cengar-cengir. “Anak pindahan darimana sih, kok logatnya beda?” teliti Mama Rizal lagi. “Anu tante, Jakarta...baru sebulanan ini tinggal di Semarang.” Sebelum pertanyaan berikutnya meluncur dari Mama Rizal, Rizal buru-buru keluar kamar dengan kemeja biru favoritnya. “Udah yok, Ma Rizal berangkat dulu ya.” Mama Rizal yang udah nyiapin berbagai pertanyaan pun tidak berkutik. Tapi bukan berarti acara introgasi ini nggak akan bersambung.
“Gila, nyokap lo anggota interpol deh kayaknya.” Omel Adam sesampainya di dalam mobil. “Weits, bukan itu aja, dia juga anggota aktif IMF tauk yang ngurusin keuangan dunia.” Kekeh Rizal kemudian menyadari bahwa Mamanya bisa juga dijadiin bahan obrolan yang seru. Ini termasuk ciri anak durhaka nggak sih?
“Kok lewat sini?” Tanya Rizal yang tidak asing dengan rute yang diambil Adam. “Iya, gue ngajak Niken sekalian. Lo nggak keberatan kan?” Adam melirik ke arah Rizal. “Nggak lah, its okay. Nggak papa kok bawa pasangan. Lo sama Niken masih?” Tanya Rizal kemudian. “Iya, lo berharapnya apa? maaf ya kalo kesannya gue ngrebut pacar lo.” Adam menepuk pundak Rizal. “Cari mati lo pegang-pegang gue. Lagian gue seneng kok ngeliat kalian berdua, walau kadang rada sakit sih.”
Niken sudah siap di depan rumah ketika Adam datang bersama Rizal. Niken juga tampak terkejut akan hadirnya Rizal di kursi depan mobil Adam. “Halo apa kabar?” Rizal menyalami Niken yang baru saja menempatkan bokongnya di kursi belakang. Niken membalas salaman itu dengan terkekeh. “Udah nggak usah akrab-akrab.” Hardik Adam yang ternyata memperhatikan dari kaca spion. “Galak amat.” Rizal cemberut dan kembali melihat ke depan. Niken tersenyum lebar melihat punggung Rizal dan Adam di depannya. Akhirnya dia bisa pergi bareng dua orang spesial dalam hidupnya.
Sore itu rumah Sofi sangatlah terang. Ada berbagai jenis lampu yang menghias setiap sudut taman. Dari lampu disko sampai lampu bangjo (traffic light). Tamu-tamu pun datang satu persatu. Ada yang datang sendiri, ada juga yang datang dengan pasangannya. Tapi jarang ada yang datang bertiga ala trio Rizal, Adam, dan Niken. Pemandangan ini mengalahkan pemandangan gerhana matahari. Karena berbagai cerita langsung menyebar ke seluruh tamu undangan.
Sofi yang sore itu didampingi oleh mas Tomo menyambut kedatangan mereka bertiga dengan sukacita. Walau agak jutek sama Niken tapi Sofi tak henti-hentinya bercerita tentang persiapan pestanya yang agak ribet. Ia juga menjelaskan dengan detail semua menu makanan yang tersaji malam ini. Bahkan dia mengintimidasi semua tamu untuk tidak banyak-banyak makan sate sapi, karena itu adalah menu favoritnya.
Rizal berjalan menuju kolam ikan Sofi yang juga dihias lampu kelap-kelip. Ia memegang sebotol softdrink yang baru diambilnya. “Rizal.” Tiba-tiba suara Niken terdengar dibelakangnya. Rizal tersenyum lebar menyambut kedatangan Niken. “Aku minta maaf atas kejadian tempo hari. Harusnya aku ingat sebelum semuanya ini terjadi.” Niken meremas-remas gaun putih cantiknya.
“Memang udah jalannya begini kok. Nggak usah disesalin. Kamu sayang sama Adam kan?” Rizal meneguk soft drinknya. “Maaf juga tentang hal itu.” Niken menunduk malu. “Nggak masalah, aku uda diceritain banyak kok sama Adam. Aku yakin kamu pasti akan bahagia sama Adam.” Rizal memain-mainkan sepatunya. “Aku juga yakin kamu pasti akan mendapatkan wanita yang lebih baik.” Niken tersenyum manis.
Dari kejauhan Adam yang tengah mengobrol dengan Dani hanya bisa tersenyum melihat peristiwa itu. “Add, thanks ya udah nyomblangin gue.” Ujar Dani mengalihkan perhatian Adam. “Hah? I-iya, Lo harus nya bilang makasih juga ke Rizal. Karena informasi-informasi tentang Puput gue dapetin dari dia.” Adam tersenyum dan memaknai semua kejadian akhir-akhir ini sebagai kejadian paling hitam dalam hidup nya. Tapi tidak termasuk peristiwa cabut di mata pelajaran penting loh.


Seminggu telah berlalu dan Rizal kembali ke kehidupan normalnya namun dengan aktivitas yang berbeda. Ia tidak perlu takut menghadapi keisengan teman-temannya karena itu sudah berakhir. Ditambah lagi kesuksesannya masuk ke dalam tim inti bola basket di sekolahnya membuatnya digemari banyak gadis dan gay-gay yang masih percaya bahwa Rizal benar-benar gay.
Seperti biasa ia melangkah dengan optimis menuju ruang kelasnya. Segalanya terlihat baik-baik saja sebaik cuaca pagi itu yang cerah berawan. Ia masuk ke dalam kelas dengan senyum mengembang. Selagi ia tengah menebar senyum nya yang lebih mirip bibit padi daripada senyuman si Sofi lagi-lagi sibuk dengan tugas yang belum ia kerjakan. “Zal, gue contekin tugas biologi lo sini. Cepetan! Urgent!” Sofi kebingungan sendiri dan membabibuta mencari contekan yang halal.
“Sofi-Sofi-Sofi, kamu tidak pernah berubah kecuali berat badanmu.” Dengan congkak Rizal membuka tasnya dan mengeluarkan buku tugasnya. Namun bukan buku tugas yang ia dapatkan tapi malah sebuah payung yang dengan paksa dimasukin sang Mama ke tasnya. “Oh noooo...buku tugasku ketinggalan. Aduh, mana ini jam pelajaran pertama lagi.” Rizal heboh sendiri di pojokan kelas. Sofi merasa de javu dengan kejadian ini. Tapi tanpa mau berpikir panjang Sofi meninggalkan Rizal dan mencari sumber contekan terpercaya lainnya.
Bel yang lagi-lagi harus dibilang terdengar norak itu berbunyi lumayan panjang. Rizal terduduk dengan gelisah di kursinya. Sofi masih merasa ada yang aneh, tapi dia diam saja. Ibu guru Biologi masuk dengan buku-bukunya yang segambreng banyaknya. Buku pertama yang ia buka adalah jurnal hijau miliknya, kemudian keluar sebuah kalimat, “Ayo kumpulkan tugas yang saya berikan minggu lalu, yang tidak mengerjakan silahkan keluar ke BK sekarang!”
Rizal menggaruk-garuk kepalanya merasa ada yang janggal. Ia pun meninggalkan kursinya dan berjalan dengan lunglai keluar kelas. Murid-murid yang lain ternganga sejenak melihat kejadian tersebut. Namun dengan segera mereka menutup mulut mereka. Karena mereka takut dikatain mirip kolam buaya oleh penulis.
Rizal berjalan dengan cepat menuju ruang BK. Ia bertemu dengan Bu Dewi dan membuat surat pernyataan disana. Kemudian ia berjalan menuju ruang Kepala Sekolah untuk meminta tanda tangan. Sesampainya di depan ruang kepsek ia mengetuk pintu 3x sesuai ajaran mamanya. “Iya, silahkan masuk.” Suara serak Pak Kepala Sekolah saingan sama suara serak presenter Uka-Uka. Rizal masuk perlahan dan duduk di kursi merah di depan Pak Kepala Sekolah.
“Kamu? Lupa bawa buku tugas lagi?” Pak kepala Sekolah seolah bisa membaca pikiran Rizal. Rizal mengangguk sambil terheran-heran. Tak lama kemudian seorang bapak-bapak pendek dan botak masuk kedalam ruangan ber AC itu. Saat itulah Rizal merasa de javu akan kejadian ini.
Ia pun menyingkir dari kursi merah menuju kursi sofa yang lebih empuk di dekat pintu. Beberapa menit kemudian seorang siswi cantik dengan seragam kotak-kotak masuk menyusul bapak-bapak yang dikenali Rizal sebagai wakil kepsek bagian kesiswaan. Rizal tersenyum lebar melihat kecantikan wanita disampingnya. Ia berkulit putih, berambut sebahu yang dikucir keatas, dan dengan cuek mengunyah permen karet.
Merasa diperhatikan anak baru itu menatap galak ke arah Rizal. Dengan cepat Rizal mengalihkan pandangan dan berlagak mengajak ngobrol ikan di akuarium baru Pak Kepsek. “Hei kamu anak ceroboh.” Pak Kepsek menunjuk Rizal dan memanggilnya. Dengan tegas Rizal menjawab, “Iya pak, saya bersedia melindungi anak baru di sebelah saya ini dari kenakalan anak-anak sekolah ini dengan taruhan buku pelanggaran saya Pak.” Rizal tertawa lebar memamerkan gigi-gigi nya yang dihiasi kulit cabe yang nyelip.
Pak kepsek dan wakil kepsek hanya bisa bengong mendengar pernyataan Rizal barusan. Sedangkan anak baru yang awalnya terkejut, malah tersenyum aneh melihat kekonyolan siswa di sebelahnya.

                                                         TAMAT

No comments:

Post a Comment