Monday, 21 October 2013

Lima

Rizal membasuh mukanya dan mengeringkannya dengan sepotong handuk kecil. Dengan cepat Ia mengenakan setelan baju basket biru muda. Jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan angka 6 kurang seperempat. Padahal Rizal janjian ama Sofi bakal ke Mugas jam 6, bisa pecah perang dunia ke-3 nih kalo sampe Rizal telat. Dengan kecepetan penuh Rizal mengendarai Mio merah yang dipinjem secara paksa dari kakaknya. Mana pake jambak-jambakan dulu lagi, demi mencari jati diri…why not?
Udara pagi Semarang yang dingin menerpa badan kurus Rizal. Rizal mempercepat laju motor jetmatic kakaknya hingga kecepatan 80 Km/jam. Kurang dari 15 menit Rizal sampai di depan rumah Sofi yang dicat pink. Saat itu siSofi tengah duduk bersandar di kursi teras dengan mata setengah tertutup. TIN..TIN.. Rizal membunyikan klakson motornya untuk menyadarkan Sofi. Dengan tanggap Sofi meraih vas bunga di sampingnya dan langsung berteriak kencang, “Maling..maling..ada maling..”. Kontan Rizal tertawa terbahak-bahak melihat ulah sobatnya yang ajaib itu.
“Eh kunyuk, Lo kok bisa telat sih?” Tanya Sofi yang duduk di belakang Rizal. “Ya…abis semalem Gue sulit tidur sih! Jadinya kesiangan deh! Motor ini aja Gue pinjem paksa dari kakak Gue.” Jelas Rizal sambil terus memacu Mio merahnya. “Makanya Lo jangan kebanyakan mikirin Gue. Gue nyadar kok kalo Gue itu wanita idaman pria, tapi nggak usah segitunya kali…!” Kali ini Rizal memilih diam dan membiarkan Sofi nyerocos sesuka hati. “Fi…Lo tahu nggak Mugas itu dimana? Sebelah mananya bandara?” Potong Rizal dengan wajah cupu ples nggak bersalah. Sofi menelan air liurnya sebanyak mungkin biar nggak shock ngedenger pertanyaan Rizal yang begitu ekstrem. “RIZAAALL…MUGAS ITU JAAAUUH DARI BANDARA DONG-DONG!” Teriakan sopran Sofi menarik perhatian pengendara lain, sampe-sampe mereka geleng-geleng ngeliat tingkah 2 remaja ini.
Mugas adalah sebuah gelanggang olahraga yang sebenernya sih nggak jauh-jauh amat dari sekolah Rizal. Sesampainya di Mugas Rizal langsung melakukan beberapa gerakan pemanasan. Yah biar keliatan kayak atlet profesional aja. Sofi menghampiri Rizal yang asyik mengangkat kaki kanan nya ke atas. “Pertama Lo muter lapangan ini dua kali. Abis itu Lo gabung sama mas-mas ganteng yang disana buat main basket. Oke?” ujar Sofi sambil mengacungkan sebatang dahan pohon ke arah lapangan basket.
“Gue? nah Lo apa kabar?” Rizal sedikit heran mendengar perintah janggal itu. “Gue yang udah semlohai ini cukup olahraga ringan aja, karena gue parno kehilangan satu kilogram berat badan gue.” Setengah merinding mendengar alasan Sofi, Rizal memutuskan untuk memulai lari paginya. Biarlah sampe tiga atau empat kali putaran sekaligus. Itu lebih bagus daripada harus mendengar ocehan narsis teman sebangkunya itu.
Rizal menyelesaikan putaran keduanya dengan sedikit menggerutu. Bagaimana tidak, Sofi bukannya ikut berlari malah asyik menjajal segala macam jajanan di pinggir lapangan. Yah walau sesekali dia tersenyum manis pada mas-mas tampan yang lewat juga. Tapi menurut Rizal itu annoying banget. “Sof, minum dong.” Pinta Rizal ketus ketika ia sampai di depan Sofi. “Galak bener kayak tukang parkir nggak dibayar aja, nih.” Sofi menyodorkan sebotol air mineral ke hidung Rizal. Kemudian ia kembali melahap sebungkus cireng ditangannya.
“Next Lo latian basket gih sama mas-mas disana.” Sofi menyamber botol minuman yang masih dinikmati Rizal. ‘Glek’ ‘Glek’ Rizal hanya bisa pasrah melihat Sofi menghabiskan sisa air dibotol itu. “Malah ngelamun. Ayo!” Desak Sofi sembari mengacungkan dahan pohon di tangannya. “Tapi Sof Gue kan nggak kenal.” Jawab Rizal mengambil ancang-ancang untuk berdiri.
“Sport itu bisa menyatukan segalanya. Tenang aja...” Timpal Sofi yang berbinar melihat jejeran cowok-cowok tampan di lapangan basket. Rizal pun menyerah, demi tekadnya yang bulat ia akan melakukan segala cara. Termasuk mengikuti saran Sofi demi memuaskan nafsu pribadi kawannya itu.
Rizal masuk ke dalam arena lapangan basket yang berjarak 10 meteran dari tempatnya beristirahat tadi. Dengan sopan ia menyapa semua pemain dan mengobrol dengan salah seorang pria berbadan tinggi besar. Yah kurang lebih 20 cm lebih tinggi daripada Rizal. Sofi mengamati pemain-pemain lain yang sedang melakukan pemanasan di tengah lapangan. Tanpa Sofi sadari si Rizal udah main nyelonong aja ketengah lapangan dan berbaur dengan mereka. Sofi yang merasa bangga dengan kesupelan Rizal yang fantastis itu pun memberikan yel-yel semangat pada kawan nya itu. Dengan bermodalkan rambut yang panjang, ia memutar-mutar kepalanya sambil menyanyikan lagu kucing garong. Nggak cukup itu saja, Sofi yang berkali-kali ditolak jadi cheerleader di sekolah nya ini juga nekat kayang di depan lapangan. Alhasil, atraksi ini lebih mirip trio macan lagi manggung ketimbang cheerleader profesional.
Satu jam telah berlalu dan Sofi terduduk lemas dengan sampah-sampah plastik bertebar di sekitarnya. Dalam rangka mensupport sahabatnya itu ia telah menelan lebih dari 20 pentol bakso, 5 roti bakar, 4 bungkus es teh, dan berbagai makanan lain yang tabu untuk disebutkan satu persatu. Di dalam lapangan basket permainan baru saja berakhir dan Rizal tampak sedang asyik mengobrol dengan kapten tim nya tadi. “Kamu masih sekolah?” Tanya sang kapten sambil membersihkan keringat di lehernya.
“Iya mas, aku kelas X di SMA sebelah.” Jawab Rizal sembari bersalaman dengan pemain yang lain. “Oh ya, permainan mu bagus kok. Nggak tertarik ikut tim bola basket sekolah?” Tanya sang kapten lagi. “Belum mas. Dari dulu cuma hobi aja sih sebenernya. Nggak ada pikiran buat ikut tim bola basket.” Sesekali Rizal melirik ke arah Sofi yang terus melahap cireng ke sekian juta sambil menatap pemain-pemain lain dari atas ke bawah. Satu persatu. Bener-bener maniak ni anak.
“Gini aja, kebetulan aku nglatih tim basket sekolah mu. Besok kamu dateng jam 3 buat latihan. Kebetulan kita lagi menjaring anak-anak baru buat kompetisi basket semester depan.” Ujar kapten tim itu mengalihkan perhatian Rizal. “Apa? Beneran mas? Boleh?” Rizal terbelalak kaget. Sang kapten yang ternyata juga seorang pelatih itu pun mengangguk optimis. “Dan satu lagi. Aku titip salam buat temen mu yang diluar itu. Aku terkesan akan kekuatannya untuk melahap semua jajanan-jajanan itu.hahaha” Pria berkulit cokelat itu pun tertawa dan meninggalkan Rizal yang sedikit malu akan kelakuan temannya itu.
“Udah selese latihannya?” tanya Sofi dengan mulut penuh cilok. “Udah selese makannya? Ayo kita pulang. Capek nih.” Rizal menggeret kuciran rambut Sofi yang lebih mirip rambut jagung. “Oh iya, Lo dapet salam dari pelatih tim bola basket tadi.” Sofi yang awalnya ogah-ogahan meninggalkan tempat pewe nya langsung beranjak dan menyamai langkah Rizal. “Waaa...masak? Dia bilang apa?” Tanya Sofi cengar-cengir. “Dia terkesima sama kemampuan Lo makan semua jajanan tadi.” Jawab Rizal datar. Bagai jatuh dari langit ketujuh langsung ke neraka si Sofi cemberut secemberut mungkin. Sampai-sampai nggak bisa dibedain mana bibir Sofi mana pantat ayam.


Malam hari dirumah Niken suara gaduh terdengar seperti malam-malam lainnya. Tapi kali ini dilebih-lebihkan dengan berita adanya perjodohan antara Niken dan Adam. Sebenarnya hal ini baru sepintas wacana aja, tapi Mama Niken yang terobsesi dengan sinetron kesayangannya terus mendesak Niken untuk mengiyakan ajakan nge date si Adam. “Tapi Ma, Niken itu baru aja putus sama cowok Niken gara-gara si Adam.” Niken terus menolak sodoran gaun yang diberikan Mamanya. “Niken, kamu itu nggak bisa hidup dalam masa lalu terus. Kamu mesti move on dong.” Si Mama yang emang dasar udah keracunan sinetron jadi mulai ketularan lebay. “Niken tau, tapi Ma...”
‘TING TONG’ “Nah itu pasti nak Adam, ayo kamu pake ini aja. Udah cepetan. Apa mau Mama potong lagi uang jajan mu?” Niken pasrah. Ancaman potong uang jajan adalah ancaman terbesar bagi hidup Niken. Potong uang jajan rasanya seperti ngiris-ngiris jari sendiri. Perih. Apaan sih??
Adam duduk menunggu di ruang tamu ditemani Icha kakak Niken yang nggak kalah lebay sama si Mama. Awalnya sih Adam oke-oke aja ngeladenin obrolan si Icha yang ngalor ngidul nggak jelas. Tapi makin lama Icha semakin menjadi dan membuat Adam BT. Pasalnya Icha mulai curhat tentang kehidupan cintanya ke Adam. Yang pernah punya pacar bule angola lah, yang pernah dilamar pilot pesawat televisi lah, pokoknya macem-macem deh.
Yah, Icha emang hobi banget curhat. Hampir semua orang pernah jadi korban curhatannya. Nggak terkecuali persatuan pembantu-pembantu di kompleks Icha yang notabene nya adalah pembantu-pembantu islami yang rata-rata berkerudung. Mereka  merupakan korban terparah curhatan Icha yang bingung mesti curhat ke siapa lagi. Mungkin itulah salah satu penyebab maraknya kasus tentang pembantu-pembantu yang kabur dari rumah majikan nya di kompleks Icha.
Setelah menunggu lumayan lama akhirnya penderitaan Adam berakhir sudah. Niken keluar dari kamarnya di ikuti sang Mama yang senyum-senyum sendiri. Niken mengenakan dress panjang berwarna biru muda lengakap dengan tas tangan berwarna senada. Di sebelahnya sang Mama dandan lebih heboh dengan setelan gamis berwarna merah ngejreng dan gelang emas berjajar di tangannya. “Tante mau ikut nonton juga?” Tanya Adam ragu-ragu. “Oooo..tentu tidak, Tante mau pengajian di rumah sebelah. Tante kan ibu-ibu eksis yang glamour tapi tetap rendah hati dan rajin bersedekah. Kamu hati-hati ya nyetirnya, jangan ngebut-ngebut, di jalanan banyak kendaraan. Kalau pulang jangan malem-malem, kalo bisa malah pagi sekalian aja pulangnya. Biar nggak masuk angin.” Niken melirik Mamanya heran. Buset nih ibu-ibu kesambet setan manalagi coba. Sedangkan Icha sibuk mendiamkan si bungsu Jenny yang menangis histeris, “Huwaaa..mama ku gilaaa...huwaaaa”
Mobil Adam melesat melewati jalan Arteri yang padat. Niken membisu di kursi depan mobil Adam. Tangannya terus meremas-remas tasnya. Bukan meremas-remas yang lain loh. Apaan coba. “Kamu masih marah?” Adam mencoba menghangatkan suasana. “Oh, nggak. Aku Cuma nggak nyangka aja tentang semua kejadian akhir-akhir ini.” Niken terus menatap ke punggung mobil Carry di depannya. “Masalah si brengsek itu lagi?” Adam meninggikan suaranya. “Jangan menyebutnya seperti itu. Setidaknya hormati dia sebagai mantanku.” Niken melirik ke arah Adam dengan tajam. Setajam silet.
“Maaf.” Adam harus menjaga perilakunya di depan Niken. Semua ini dia lakukan untuk menjawab tantangan kawan-kawan barunya di sekolah. Ia harus merebut hati Niken dari Rizal. “Sampai kapan?” Niken kembali bersuara. “Apanya?” Adam menambah kecepatan mobilnya melewati jalan supriyadi yang lengang. “Kamu dan kawan-kawan barumu ngerjain Rizal.”
“Bisa nggak malem ini kita skip obrolan tentang mantan mu tercinta itu. Karena tujuan ku ngajak kamu pergi adalah untuk mengenal kamu lebih jauh. Bisa kan?” Adam menahan nada suaranya senormal mungkin. Niken membisu. Ia tidak bisa memberikan tanggapan apa-apa mengenai pernyataan yang mengejutkan dari Adam.


Sekolah berjalan seperti biasa dan Rizal pun dikerjain seperti biasa. Kali ini giliran celana abu-abu Rizal yang terkena tempelan permen karet. Ditambah juga sama aksi oknum-oknum tertentu yang menyiarkan kabar mengenai Rizal yang disebut gay. Tapi Rizal tetaplah Rizal yang cuek. Ia tetap berangkat ke sekolah walaupun dijauhi teman-teman cowok dikelasnya. Plus di deketin sama kelompok anak-anak gay di sekolahnya.
Bel pulang sekolah berbunyi dan Rizal tengah asyik bercanda dengan Sofi and the gank di depan kelas. Yah urusan dalam negeri mereka sudah beres jadi mereka mulai intensif kumpul bareng lagi kayak dulu. “Zal, kata Sofi Lo kemarin ikutan main basket di Mugas ya.” Puput yang merupakan atlet basket sekolah sedikit heran dengan potensi tersembunyi kawannya ini. “Iya put, demi memenuhi kebutuhan napsu nya si Sofi yang pengen cuci mata. Gue jadi korbannya.” Rizal memicingkan mata bulatnya ke arah Sofi.
Sofi tersenyum centil sambil memainkan rambut kucir kudanya. “Ya udah, Lo sekalian aja ikutan latihan basket ntar sore.” Ajak Puput semangat. “Iya, kemarin kebetulan ketemu sama pelatih tim basket sekolah kita. Dia ngundang Gue latiahan jam 3 ini.” Ujar Rizal yang asyik merhatiin tiga makhluk disampingnya yang lagi pijit-pijitan.
“Mas Tomo?” Tanya Puput kaget. “Iya kali, aku nggak tahu namanya. Kebetulan kemarin kami maen bareng. Dia juga sempet kirim salam malahan ke Sofi.” Rizal memandang wajah Sofi yang memberikan suatu isyarat. Entah dia memberikan isyarat untuk diem atau emang otot-otot muka si Sofi sudah mulai mengendur. Hanya Sofi dan tuhan yang tahu.
Dari kejauhan Adam cs memperhatikan gelagat lima remaja di depan kelas itu. “Kayaknya gosip tentang Rizal gay itu berhasil Add. Tinggal nunggu waktu aja sampai akhirnya dia pindah sekolah.” Komentar Dhika yang sedang asyik memetik senar gitarnya. “Kenapa bisa si tolol itu berkawan baik dengan ke empat cewek itu?” Toro yang dari dulu jatuh hati sama salah satu di antara mereka terheran-heran.
“Masalah kah? Kalo mereka mulai ikut campur kita kerjain aja sekalian. Gimana?” Usul Evan sembari menyandar pada mobil sedan kebanggaannya. “Jangan. Itu bukan ide bagus.” Ujar Dani yang sedaritadi memperhatikan Puput dengan seksama. “As you know guys. Puput is our basketball player, Dhiba is fuckin popular, Retno is the headmaster’s daughter, but Sofi is nothing.”  Ujar Anggara yang lagak-lagaknya kayak bule kesasar. Adam memandang mereka satu persatu. Mungkinkah ini adalah jawaban untuk pertanyaan Niken tadi malam. Cukup sampai disini saja penyiksaan untuk Rizal?


Seminggu telah berlalu dan hari minggu pagi ini si Rizal masih terbaring malas dikamarnya. Teriakan sang Mama yang daritadi membangunkannya tidak dihiraukan. Rizal telah menjalani hari-hari yang melelahkan di sekolah, dengan ulah Adam cs yang nggak bosen-bosennya ngerjain dia sampai aktivitas barunya setiap sore. Latihan basket. Jadi sudah pantas jika Rizal ingin memanjakan diri sejenak di tempat tidur.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan kepala Mama Rizal mencungul masuk kedalam. “Rizal kamu mandi sana. Temeni Mama nyari kado buat nikahan anaknya Bu Gianto.” Ujar Mama sembari membenarkan roll rambut di poninya. “Sama mbak aja kenapa sih, Rizal capek nih.” Rizal menaikkan selimut nya lagi. “Ehh..mbakmu kan lagi magang keluar kota sampe bulan depan. Lupa ya? Ayo ah, ntar mama beli-beli in deh.” Rizal membuka matanya bulat-bulat. Kata ‘beli-beli in’ terdengar cukup menjanjikan untuk tipe ibu super pehitungan seperti mamanya. Rizal pun bangun dan bergegas ke kamar mandi. “Adduhhh Rizal, kamu kok tidur nggak pake celana sihhh, jorok banget....”
Di dalam sebuah pusat perbelanjaan di kawasan simpang lima Rizal berjalan mengekor Mamanya. Ia bukannya takut kehilangan Mamanya tapi lebih takut kalo Mamanya sampai menabrak barang-barang dagangan orang karena body nya yang super duper aduhai. “Mama mau nyari kado apa? Kok kita malah muter-muter nggak jelas?” Rizal mulai terganggu dengan ulah Mamanya yang selalu berhenti setiap satu meter sekali itu. Kayak angkutan nyari penumpang aja nih si Mama.
“Muter-muter gimana? Mama itu lagi nyari barang diskon, jadi bisa dapet barang lebih banyak. Tunggu disini sebentar.” Mama Rizal yang emang udah punya karakter perhitungan dari kecil itu langsung bergabung dengan ibu-ibu lain berebut barang diskonan 10 menit di dekat tangga. Rizal hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan mama nya yang maniak diskon itu.
Rizal berdiri bersandar pada pohon plastik besar sembari menunggu Mamanya dari pertempuran sengit dengan wanita-wanita setipe. Yah tipe-tipe perhitungan yang kemana-mana lebih suka bawa kalkulator daripada ponsel. Dilihatnya arah jarum jam di tangannya dengan malas. Jarum pendek dan jarum panjang menunjukkan angka 12. Padahal jam 4 nanti Rizal ada pertandingan basket melawan anak kelas XI untuk ujian masuk tim inti bola basket di sekolahnya.
Ditengah-tengah lamunannya Rizal menemukan dua sosok manusia yang tampak tidak asing baginya. Seorang pria yang dikenalnya sebagai Adam ditemani dengan seorang wanita cantik yang membuatnya terkejut. Niken berjalan menggandeng Adam yang tangannya dipenuhi barang belanjaan.
“Ayo Zal..Mama udah dapet seprei sama gelas-gelasan nih. Kamu mau minta apa?” Cengir Mama Rizal yang bangga telah mendapatkan harga murah untuk barang-barang tersebut. “Pulang aja yuk Ma...Rizal capek.” Rizal kehilangan semangatnya secara tiba-tiba. Ia melupakan kata-kata ‘beli-beliin’ yang sempet diucapkan Mamanya. Ia berjalan ngeloyor begitu saja meninggalkan si Mama yang heran sama ulah anaknya itu. Tapi si Mama cuek aja, kalo gini kan si Mama nggak perlu keluar duit lagi untuk beli-beli in si Rizal.


Rizal memasuki tempat latihan basket dengan lemas. Ia terus terbayang-bayang akan kemesraan yang dipamerkan Adam dan Niken siang tadi. Semudah itukah Niken melupakan Rizal dan berpaling pada Adam. “Woooii..ngelamun aja!” sebuah suara menggelegar dan pukulan keras mengagetkan Rizal. “Eh Puput, resek Lo.” Rizal memberikan senyuman kecilnya. “Kenapa Lo? Kesambet setan dari kamar mandi cewek? Manyun aja kayak suster rumah sakit.” Puput meletakkan tas ranselnya di sebelah Rizal. “Bisa aja Lo, nah tu orang ngapain disono. Pake dada-dada segala lagi ke gue. Dikira kita mau lepas landas.” Rizal memperhatikan Sofi yang duduk di kursi penonton.
“Apalagi modus nya kecuali cuci mata. Tuh anak kan kena penyakit stres menahun.” Puput membalas lambaian tangan si Sofi. “Tadi Gue waktu nganterin nyokap gue belanja ngelihat Adam jalan sama si Niken.” Cerita Rizal tiba-tiba. Puput menghentikan aktivitasnya dan duduk disamping Rizal. “Maaf, gue nggak tahu. Tapi Lo nggak papa kan?” Ujar Puput sembari memberikan tonjokan ringan ke lengan Rizal. “Jangan libatin masalah Lo ke permainan ini ya, inget alasan Lo ikut latihan basket wajib diganti. Lo punya potensi, jangan cuma gara-gara wanita atau image Lo nyia-nyia in potensi Lo.” Puput memberi wejangan singkat sebelum akhirnya ia turun ke lapangan untuk bertanding.
 Pertandingan antar angkatan untuk menjaring generasi penerus tim bola basket sekolah Rizal berlangsung dengan seru. Dan Rizal terpilih sebagai salah satu pemain di tim bola basket sekolahnya. Walau gosip tentang Rizal yang dibilang gay masih berkembang namun hal itu tidak mengucilkan hati Rizal. Lagipula pemain-pemain satu tim nya tidak terlalu peduli akan itu semua. Tapi bukan berarti mereka semua gay loh.
Sebagai perayaan akan keberhasilan Rizal, ia mengajak Puput dan Sofi untuk mekan mie ayam di dekat sekolahnya. Yah itung-itung berbagi kebahagiaan dengan kaum dhuafa lah. Tentu sebagai penggemar aneka jajanan Sofi mengiyakan ajakan itu. Ia sudah berencana memesan 3 mangkok mie ayam bakso plus 2 gelas es teh sebelum berangkat. Sofi emang kebiasaan ngemindset dirinya sendiri biar nggak khilaf nantinya. Kalo wanita ini sampe khilaf, udah deh, dia bakal memborong semua persediaan mie ayam sekota Semarang. Kan kasihan para pecinta mie ayam di Semarang. Masak mau makan mie ayam aja harus pergi ke Solo atau Jogja.
Rizal yang sedang asyik berjalan sambil bercanda dengan kedua sohibnya itu dikagetkan dengan hadirnya beberapa orang berpakaian hitam. Mereka adalah para berandalan yang biasa nongkrong di daerah situ. “Eh Lo bocah, gue ada urusan sama Lo.” Hardik salah seorang dari mereka sembari menunjuk Rizal. Rambutnya yang kaku diberdiriin ke atas kayak sapu ijuk dibalik. “Maaf bang, ada urusan apa ya?” Rizal yang merasa nggak pernah punya bisnis sama berandalan-berandalan itu pun kebingungan. “Ih nantangin Lo ya, anak anjing Lo, Lo kagak bisa di omongin baek-baek ya.” Timpal berandalan yang lain sembari mengayun-ayunkan batang kayu besar ditangannya.
“Eh Bang, kalo malakin kira-kira dong. Penampilan kita aja nggak ada yang borju.” Sofi menunjuk-nunjuk wajah berandalan di depannya. “Sof, Lo diem aja deh. Bisa kacau urusan.” Bisik Rizal rada keder juga. “Eh Lo yang cowok sendiri, sini ikut gue!” ujar sang berandalan. Rizal maju selangkah demi selangkah, “Set dah, cepetan dikit napa? Banci Lo!” teriak seorang yang lain. Ketiga berandalan itu bertampang sangar dan mengkhawatirkan. Rizal hanya bisa menuruti perintah mereka.
Sesampainya Rizal di dekat mereka sebatang kayu pun berayun dengan cepat dan hampir mendarat di badan Rizal. Namun Rizal berhasil menangkisnya dengan tangannya. Puput yang dari tadi sudah mengambil ancang-ancang langsung menyerang membabibuta dengan tas ranselnya. Sofi berteriak histeris. Entah ketakutan entah juga jijik melihat berandalan-berandalan dekil yang bau terasi itu.
Sempat menjadi bulan-bulanan, Rizal akhirnya terselamatkan dengan datangnya Mas Tomo dan kapten timnya, Mas Satria. Dengan postur tubuh yang lebih meyakinkan kedua pemuda berbadan gelap ini menghajar ketiga berandalan tersebut hingga dua diantaranya kabur dengan jalur zigzag. Kayak dikejar babi hutan aja nih berandalan. Sedangkan seorang yang tersisa dipiting oleh mas Satria yang keringetnya masih mengucur deras. Bisa dibayangin kan bagaimana naasnya penderitaan berandalan amatir ini. Mas Tomo dengan gagah dan membuat Sofi terpesona mencengkram leher si berandalan. “Ngapain Lo nggebukin anak kecil?” Tanya Mas Tomo dengan wajah garang.
“Ampun mas, saya disuruh.” Rengek berandalan itu meminta ampun sambil menyeka keringet Mas Satria yang netes di mukanya. “Siapa yang nyuruh? Udah bagus Lo di baik-baikin sama anak sekolah sini, masih tega Lo bertingkah?” Tanya Mas Tomo yang juga jebolan dari sekolah Rizal. “Evan mas, saya disuruh sama mas Evan. Katanya jangan sampe ni bocah bisa ikut kompetisi mas.” Sedikit merintih kesakitan Rizal yang tadinya jatuh tersungkur mulai menegakkan badannya. “Kali ini Lo gue lepasin, jangan sampe gue ngeliat batang hidung lo dan temen-temen lo di sekitar sini. Gue bisa aduin lo ke Om Prengki.” Mas Tomo melepaskan cengkramannya dan berandal amatir itu pun lari tunggang langgang meninggalkan tetesan air kencing di jalanan.

“Makasih Mas.” Ujar Rizal tersenyum simpul. “Lain kali ati-ati, apalagi udah jam segini. Ayo ke dalem, luka lo perlu diobatin kayaknya.” Rizal dan Puput mengangguk dan masuk kedalam sekolah di ikuti Sofi yang masih berbinar-binar memandang punggung mas Tomo yang menawan itu.

No comments:

Post a Comment