Hari ini hujan turun perlahan. Hawa dingin terasa menusuk tulang.
Rizal mencari-cari jaket abu-abunya yang baru beberapa minggu dibelinya dari
distro di dekat sekolahnya. Sekilas Rizal teringat akan janjinya pada Adam
untuk menemani Adam berbelanja di distro itu. Tangan kurusnya berhenti menguras
isi lemari. Rizal tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, perasaan bersalah
akan sesuatu yang tidak diperbuatnya. Dari ruang makan Mama berteriak dengan
volume maksimal manggilin Rizal yang keasikan ngelamun. Entah apa yang ngebuat
ibu nyentrik satu ini rela ngabisin suaranya hanya untuk manggil anaknya yang
nggak kalah nyentrik itu. Soalnya ibu ini biasanya manggil anaknya hanya dengan
nendang tanah 3 kali ples manggil nama Rizal 3 kali juga. Alasannya sih biar
hemat suara. Benar benar ibu yang aneh.
Hari ini Rizal dipercaya untuk naik mobil sendiri menuju
ke sekolahnya yang tercinta. Pasalnya, sang Ayah yang biasanya jadi supir setianya
siRizal lagi libur kerja dengan alasan yang aneh. Gimana nggak aneh, libur ini
untuk memperingati hari ulang tahun pernikahan bossnya siPapa yang ke-25.
penting nggak sih?!
Mobil kijang hitam yang berhiaskan stiker merah jingga
dengan motif lidah api merayap dari pinggiran kota Semarang
yang ruamene puol. Puluhan motor melesat secepat angin mendahului mobil yang
dikendarai Rizal. Tau sendirikan gimana gaya
nyetirnya Rizal yang bisa dibilang abstrak, alhasil ratusan klakson bersautan
menghardik siRizal yang amatir. Tapi kali ini ada yang aneh, biasanya Rizal
yang kocak selalu membalas klakson-klakson tadi dengan serangan klakson yang
berlipat ganda. Tapi kali ini Rizal lebih memilih menekuk wajahnya daripada
menunjukkan sifat nyentriknya yang aneh. Apa sih yang lagi dipikirin Rizal?
Hanya tuhan dan Rizal yang tahu.
Pintu gerbang sekolah terbuka lebar menyambut kedatangan
Rizal dan mobil bawaannya. Ratusan mata langsung terarah pada Rizal. Mereka keheranan
ngeliat Rizal yang tiba-tiba menghentikan mobilnya di depan gerbang dan turun
dari mobil. Ia turun untuk memperkirakan mobilnya bisa masuk apa nggak.
Terlebih lagi Rizal dengan PD ngebawa penggaris besi miliknya untuk mengukur
lebar pagar dan lebar mobilnya secara detail. Aksi ini spontan muncul secara
tak disengaja disaat Rizal lagi kebingungan ngemasukin mobilnya melalui gerbang
sekolah. Setelah prosesi pemarkiran itu selesai dikerjakan, Rizal meraih jaket
abu-abunya dan turun dari mobil dengan gaya
bangsawan. Dagu diangkat, bibir tersenyum kecil, mata memicing, dan hidung
kembang kempis. Sesaat para siswa lain yang liat aksi Rizal ini bakal inget
sama salah satu iklan populer yang terdapat kata-kata,”Anak anda cacingan? Beri
obat nyamuk Mortein segera.” Kaki Rizal dengan PD melangkah melewati beberapa
guru yang sedang mengadakan pemeriksaan busana rutin.
Senyum kecil Rizal semakin melebar ketika melihat siDevi
lagi asyik main petak umpet sama temen-temen sepermainannya. Kebetulan siDevi
yang jadi, dan semua temen Devi langsung berpencar mencari tempat persembunyian
sendiri-sendiri. Ada
yang lari menuju kursi taman trus sembunyi di belakangnya. Ada yang manjatin pohon mangga yang letaknya
nggak jauh dari tempat Devi nutup mata. Ada
yang sembunyi di gerobak sampah yang lagi dipake Mang Wito. Dan ada juga yang
kena timpuk sepatu gara-gara mencoba sembunyi dibawah rok siswi yang lagi
lewat. Ketika Devi telah selesai menghitung Iapun membuka matanya dan mendapati
muka Rizal yang ancur tepat di depannya. Senyuman kebahagiaan yang semula
ditunjukkan Devi langsung berubah 180 derajat menjadi tekukan yang elastis.
“Vi, harusnya Lo kan kaget. Curang ahh! Pokoknya ulangin sekali lagi dan Lo
harus kaget sekaget-kagetnya. Setuju!” keluh Rizal sedikit kecewa. “Aduh..ntar
Gue ada ulangan! Gue belajar dulu ya!” Devi sesegera mungkin mencari alasan
sekenanya. Tanpa menggubris kawan-kawannya yang udah susah-susah ngumpet, Devi
ngeloyor aja balik ke kelasnya sambil sesekali menyibakkan rambut panjangnya.
Rizal yang makin bingung jadi menekuk bibirnya seelastis mungkin dan pergi
menuju kelasnya nan jauh dimato.
Rizal berjalan dengan senyum merekah dibibirnya. Saat
ini pikiran Rizal udah plong, dia nggak perlu ngurusin Adam yang nggak penting
itu. Rizal udah bebas, sekarang dia bisa berbuat sesuka hati tanpa ada gangguan
dari Adam. Tapi hari ini ada yang aneh, entah kenapa semua siswa yang dilewati
Rizal memandang tajam ke arahnya. Perlahan Rizal memeriksa resleting celananya,
hasilnya sempurna. Nggak ada yang salah sama resleting celananya. Kemudian
Rizal mencoba meraba punggungnya, siapa tau ada yang iseng nempelin sesuatu di
punggungnya. Namun hasilnyapun nihil, nggak ada kertas atau apapun yang nempel
di punggungnya. Rizal jadi ngerasa aneh sendiri dan mempercepat langkahnya
melewati deretan kelas yang nggak serame biasanya. Sesampainya Rizal di depan
pintu kelasnya, Rizal langsung mengatur nafasnya ala ibu hamil seperti yang
dilihatnya di program TV ibu dan anak. Sejenak Rizal celingak-celinguk melihat
keadaan sekelilingnya. Sepi, nggak ada satu makhlukpun yang melintas di depan
kelasnya. Janggalnya lagi pintu kelas yang biasanya kebuka 24 jam non-stop itu
kali ini ketutup rapat tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Sesaat Rizal berpikir,
apa hari ini walikelasnya lagi ngerayain ulang tahun pernikahannya juga,
sehingga anak-anak diliburin. Atau mungkin wali kelasnya Rizal itu adalah isterinya
Bossnya siPapa. Kemudian Rizal mengulum senyum, Ia baru teringat kalo walikelasnya
itu cowok..jadi??
Dengan bermodalkan ucapan bismillah, Rizal memutar gagang pintu dan
membukanya dengan ketukan 4/4. Pintu yang tampaknya sudah tua itu berdecit
perlahan, angin sepoi yang dingin langsung terasa menerpa tubuh kurus Rizal.
Aroma kursi dan meja kayu yang lembab langsung tercium. Kalo suasananya kayak
gini Rizal jadi teringat akan film horor yang paling serem yang pernah Ia
tonton. Film yang dimaksud adalah ‘SpongeBob and Flying Deutchman The Movie’,
maklum sepanjang hidupnya Rizal Cuma pernah nonton di bioskop satu kali, itu
aja waktu dia berumur 5 tahunan.
Pintu terbuka semakin lebar dan kaki kanan Rizalpun
melangkah perlahan. Tepat pada saat Ia menginjakkan kaki kanannya ke tanah,
dirinya langsung dikejutkan dengan tumpahan cairan aneh di kepalanya. Ya,
sebuah ember hijau berisikan cairan berbau tak sedap jatuh dari atas pintu dan
menimpa dirinya. Teriakan kencang penuh kekesalan langsung terdengar di
sepanjang lorong sekolah. Teriakan yang persis kayak jeritan malam ini
mengundang para siswa untuk berbondong-bondong menghampiri kelas Rizal. Ratusan
suara gelak tawa terdengar saat semua siswa melihat keadaan Rizal yang
memprihatinkan. Baju seragam Rizal basah, begitu juga tas dan isinya, hanya
jaket abu-abunya yang bisa terselamatkan. Dengan wajah merah padam, Rizal
memakai jaketnya dan berusaha menutupi baju seragamnya yang berbau tidak enak
itu. Pandangan dan gelak tawa siswa semakin menjadi ketika melihat kepanikan
Rizal yang dianggap lucu. Dengan perasaan dongkol yang mendarah daging Rizal beranjak
dari keramaian itu dan memutuskan untuk pergi ke parkiran sekolah.
Rasa malu yang dirasakan Rizal berlanjut di sepanjang
jalan menuju parkiran. Beberapa siswa kelas X yang tak dikenalnya mengikuti
langkahnya seperti pengarak pengantin. Alhasil gelak tawa semakin menyebar ke
penjuru sekolah, dari siswa kelas XI, XII, sampe Mang Wito yang dikenal jarang
ketawa ikut-ikutan ngakak ngeliat kejadian ini. Dari kejauhan Rizal mendapati
teman-teman sekelasnya yang biasanya rela membantu dirinya kini hanya berdiri
mematung. Mereka berdiri bergerombol dan memasang wajah iba. Di samping kanan
dan kiri mereka berdiri cowok-cowok gaul SMA Rizal + cowok-cowok most wanted
yang tersenyum sinis pada Rizal. Rizal menghentikan langkahnya sejenak dan
tampak tak percaya atas apa yang dilihatnya. Adam berdiri angkuh di belakang
gerombolan anak-anak most wanted. Kini Rizal mulai mengerti apa yang telah
terjadi. Dengan perasaan berkecamuk Rizal melanjutkan perjalanannya menuju
tempat parkir yang terletak tepat dibelakang gedung kelas XI.
Rizal mengendarai mobilnya tanpa konsentrasi ke jalan.
Ia sibuk memikirkan nasib buruknya hari ini yang akan semakin memburuk di
keesokan hari. Apa yang harus Rizal lakukan agar Adam sadar akan kesalahpahaman
ini. Sedikit menyesal Rizal mencoba mengingat kembali kejadian 2 hari lalu,
dimana Ia dengan tegas memutuskan perjanjian dengan Adam. Apa ada yang salah
dengan penolakan Rizal itu? Mengapa berita tentang kondisi Adam di club malam
bisa sampai meluas? Siapa orang yang telah menyebarkan berita itu? Kenapa Niken
menutup telponnya ketika Rizal bertanya tentang tersiarnya berita itu? Apa
jangan-jangan siNiken yang udah nyebarin berita ini? Rizal terus berpikir
tentang kejadian terburuk seumur hidupnya ini. Tanpa terasa mobil kijang Rizal udah
nangkring di depan pager rumahnya tercinta. Entah apa yang harus Rizal katakan
pada keluarganya jika mereka sampai tahu Ia tidak masuk sekolah hari ini.
Pukul 5 sore
Adam masih terpaku di depan televisi 21”nya. Ia bersandar pada kepala tempat
tidur kayunya. Matanya terarah pada kunci mobil yang ia letakkan di atas kasur
bersprai biru muda. Program berita yang dari tadi disetelnyapun tak dapat
mengalihkan perhatiannya pada kunci itu. Sejenak
Ia berpikir, apakah benar Rizal
yang telah menyiarkan berita tentangnya itu? Bagaimana seandainya jika bukan
Rizal yang melakukannya? Jika bukan Rizal siapa lagi? Niken? Keraguan-raguan
masih menyelimuti hati Adam. Apakah jalan yang ditempuhnya ini sudah benar?
Ditengah-tengah pertanyaannya yang menjadi-jadi sebuah teriakan panjang
membuyarkan lamunan Adam. Sang Mami memanggil dengan teriakan kencang sekencang
sabuk pengaman. Dengan tanggap Adam keluar dari kamarnya dan menuju ke arah
suara.
Sang Mami terduduk manis di ruang tengah. Ayah Adam
duduk di samping istrinya dan meletakkan tangan kanannya di pundak kanan
belahan hatinya itu. “Ada
apa Mi?” Tanya Adam setelah Ia duduk tepat di sebelah Maminya. “Nggak…rencananya nanti
malam Mami sama Papi mau pergi ke rumah kerabat Papi. Kamu mau ikut nggak?”
Jelas sang Mami dengan suara khasnya yang lembut. “Apa? Ke rumah kerabat Papi?
Untuk apa Adam ikut?”
“Ya supaya kamu bisa kenal sama keluarga temen Papi itu? Soalnya dia
itu sudah seperti saudara kita sendiri. Kita pernah kumpul bareng waktu masih
di Jakarta
loh!”
“Heah..Adam nggak bisa ikut. Soalnya masih ada ulangan nih besok.
Maaf ya..” Adam menolak ajakan Maminya ini dan kemudian kembali ke kamarnya.
“Anak kurang ajar! Kita belum selesai bicara, dia sudah main pergi aja..perlu
dikasih pelajaran rupanya!” Melihat kelakuan Adam yang rada nggak sopan itu
Ayah Adam jadi darah tinggi. “Sstt..sudah Pi biarin aja! Lagian katanya dia
masih ada ulangan tuh! Kita pergi berdua aja.” Bujuk Ibu Adam meredakan
kemarahan sang suami.
Rumah Niken yang terletak didekat lapangan golf terasa
semakin ramai. Semua anggota keluarganya sedang sibuk merapikan ruang tamu dan
ruang makan. Dari Ibu Niken yang masak di dapur dengan di temani Bi’ Wati dan
kakak sulungnya Icha. Ayah Niken yang lagi ngganti bohlam ruang tamu ditemani adiknya Joshua. Dan
dia sendiri yang sedang asik menata meja makan dengan sibungsu Jenni
disampingnya. Niken nggak tahu siapa yang mau datang malam ini, dan dia nggak
punya waktu untuk menanyakan hal itu. Teriakan terdengar dari berbagai ruangan
di rumah Niken. Dari omelan sang Ibu gara-gara si Icha salah masukin bumbu.
Bentakan sang Ayah yang menegur kelakuan Joshua. Bagaimana Ayah tidak marah,
joshua memainkan bohlam itu dan maletakkannya tepat di depan bibirnya. Yaa serasa
pake mic geto. Mana lagu yang dibawain lagu ‘obok-obok’ lagi. Sudah pasti Ayah
marah-marah nanggepin obsesi Joshua ini.
Hal yang sama terjadi pada Niken. Suara Niken terkuras
gara-gara memperingatkan sibungsu Jenni yang bukannya bantuin malah main
rumah-rumahan di bawah meja makan. Marahnya bukan karena apa-apa. Pasalnya Jenni
mindahin semua piring, sendok, dan peralatan makan lain ke bawah meja. Ada acara makan-makan
dirumah buatannya katanya, lha emang sukuran rumah baru pake makan-makan
segala.
Setelah semua pekerjaan di rumah Niken selesai, semua anggota
keluarga + Bi’ Wati berkumpul di ruang tengah. Joshua menyalakan TV 21” dan
sibuk mencari program favoritnya. Sedangkan Jenni tengah asyik bermain dengan
Bugi, boneka anjing kesayangannya. “Pa, emang siapa sih yang mau bertamu? Kok
harus gini banget?” Kakak perempuan Niken mulai penasaran. “Ginian banget
gimana? Kali ini yang dateng bukan orang biasa. Beliau ini temen baik Papa
waktu di Jakarta,
masa kamu nggak ingat?” Jawab sang Mama mencoba mengingatkan Icha. “Teman Papa
waktu di Jakarta?
Banyak kali Ma! Yang jelas dong kalo ngasih tebakan!” Ujar Icha malah
marah-marah. “Masa nggak tahu! Itu loh yang kumisnya tebel, yang suka banget
gendong-gendong kamu!”
“Om Kadir!” Icha coba menebak.
“Deng..Dong..anda salah. Yang sukanya minta Mama masakin sayur asem
jawa ples tempe
goreng.”
“Ohh..pasti Om yang suka makan
gratis di rumah kita itukan? Om Kembul!”
“Anda masih salah! Ck..yang waktu itu kamu ompolin itu loh. Yang
pernah kamu siram pake susu putih..”
“Apa Ma.. kasih bantuan yang lebih jelas dong..ayo, apa Ma?”
“Yang istrinya kulitnya putih dan cantik. Istrinya sering kamu
panggil Tante Uci..”
“Emm..siapa ya…kayaknya aku hampir inget deh! Tante Uci? Haduh
sulitnya minta ampun…Om Danu..Iya Om Danukan?”
“Ya..Anda benar..” Mama membenarkan jawaban Icha sambil tepuk tangan
dan memeluk tubuh mungil Icha penuh haru. Ichapun meneteskan air mata
kebahagiaannya, dan sujud sukur kepada tuhan YME. Akhirnya Ia
bisa menjawab pertanyaan sang Bunda yang sulit itu. Alhasil Niken, Papa, dan
Joshua memandang aneh kepada siMama dan Icha yang suka berlebihan. Sedangkan
Bi’ Wati malah sibuk mendiamkan Jenni yang nangis sembari berteriak-teriak,
“Huuu…Mamaku gila…Mama gila…Huuu…Aku nggak mau!”
“ Ada
apa say?” Suara Rizal begitu hangat menjawab telpon Niken. “Nggak papa kok. Eum…aku
denger dari temenku masalah tadi pagi…”
“Ohh..nggak usah terlalu di pikirin. Kamu tenang aja, aku nggak akan
biarin dia nyentuh sehelaipun rambut kamu. Biar aku aja yang nanggung ini
semua.”
“Eum..emang kamu ya yang udah nyebarin berita itu?”
“Itu masalahnya..aku nggak tahu siapa yang udah nyebarin berita itu.
Tapi Adam ngiranya sih aku…dia nggak punya bukti tapi aku juga nggak bisa
buktiin kalo bukan aku yang nyebarin hal itu. Jadi..”
“Aku yakin kok bukan kamu yang ngelakuin hal itu!”
“Thanks Babe! Kamu sendiri gimana? Baik-baik ajakan?”
“Iya. Tapi aku lagi bete nih! Bonyok aku sibuk sendiri sama tamunya.
Fuh..”
“Oh ya, aku Cuma mau ngingetin kamu doang. Akhir-akhir ini kamu
jauhin aku dulu ya say..aku nggak mau kamu kecipratan kenakalannya Adam cs. Kamu
baik-baik aja ya! Belajar yang bener, makan teratur, dan jangan lupa ibadah.”
“Makasih ya sayang…aku nggak bisa bantu apa-apa. Tapi aku harap
masalah ini bisa cepat selesai…Dah ya babe! Bye….”
Papa dan Mama Niken tengah berbincang akrab dengan
tamunya. Tak ketinggalan Icha dan Joshua yang ikut nimbrung di ruang tamu. “Om…kayaknya dulu Om
punya anak cowok deh! Mana sekarang?” Tanya Icha yang udah mulai ingat akan
masa lalunya. “Ohh..katanya besok dia ada ulangan jadinya dia nggak bisa ikut.
Kamu masih ingat juga ya sama anak Om itu!”
Ujar Om Danu sembari tersenyum. “Iya dong Om!
Dulu diakan anak yang imut, kulitnya putih, tembem, dan suka banget aku
gendong. Lagian dia suka banget mainan sama Niken.” Jelas Icha menampakkan
wajah gemasnya. “Oh ya jeng! Mana Niken kok nggak keliatan sih? Lagi belajar
ya?” Tanya Tante Lusi teringat pada sosok balita kesayangannya. “Niken? Ada tuh di kamar. Joshua
tolong panggilin kakak kamu dong!” Ujar Mama Niken sambil melirik tajam pada
Joshua.
Niken memandangi dirinya di cermin. Pikirannya terus
melayang mengingat kejadian yang menimpa Rizal. Kalo Rizal kekeuh nggak
nyebarin berita tentang Adam, lalu siapa? Apa Niken pernah keceplosan ngomong
sama orang lain. Ditengah pertanyaan yang hilir mudik kayak mobil di jalan tol,
pintu kamarnya terbuka perlahan dan Joshua menampakkan hidung peseknya. “Kak,
dipanggil Mama tuh!” Setengah kesel Niken mengambil sisir pinknya dan merapikan
ikatan rambutnya. “Sshh..ganggu aja deh!”
“Zaaaaal…bangun! Udah jam 7 nih! Kamu nggak sekolah?”
Suara nyaring sang kakak menggelegar bagai petir disiang bolong. Rizal
meluruskan kedua kakinya dan menekuk-nekuk persendian jari tangannya. Perlahan Ia
mengambil posisi duduk sambil membersihkan kedua matanya. Dengan cekatan Ia
mencomot jam weker berbentuk telur kesayangannya dan mengamati arah jarum jam
baik panjang maupun pendek. “Wow jam 7 pagi…apa? Jam 7? Busett Gue telat nih ke
sekolah! Nggak ada yang bangunin ya, emang pada resek nih!” Dengan secepat
kilat Rizal berlari ke westafel di dekat kamar mandi. Ia membuka keran dan
membasuh mukanya serta gosok gigi dengan kecepatan 50 gosokan/menit. Kemudian
Rizal buru-buru ke kamarnya dan mengganti pakaiannya, Rizal memajukan bibirnya
5 centi tanda kesebelannya pada anggota keluarganya. Kurang dari 20 menit Rizal
keluar kamar dan langsung pergi gitu aja
tanpa pamitan ke sang Mama tercinta.
15 menit emang waktu yang lumayan singkat untuk pergi
dari rumah Rizal menuju ke SMA yang berada di tengah kota itu. Dengan bermodalkan taksi tanpa
argo, Rizal bisa sampe tepat jam 8 pagi di depan gerbang tanpa kurang suatu
apapun. Rizal melewati gerbang sekolah yang terbuka sedikit tanpa rintangan.
Sempritan pak satpampun tak bisa menghalangi langkahnya yang super duper cepat
itu. Jarak antara pintu gerbang dan kelas Rizal cukup jauh, lumayanlah
itung-itung lari pagi. Sesampainya Rizal di depan kelasnya tercinta, Rizal
langsung mengetuk pintu dan memberikan senyumannya pada Bu Retno guru bahasa
Indonesia. Rizal berani aja tuh nyelonong masuk dalem kelas walaupun telat, pasalnya
Bu Retno emang dikenal sebagai guru terbaik yang pernah ada. “Maaf bu, saya
terlambat!” Ujar Rizal meminta izin untuk masuk ke dalam kelas. “Kenapa kamu
terlambat? Ya udah sana
masuk!!” Perintah Bu Retno berusaha berwibawa. “Siap, laksanakan!!” Rizal
langsung berjalan menuju ke bangkunya dengan senyuman keramahan terpancar dari
bibirnya. Namun, teman-temannya berubah. Mereka semua tertunduk tanpa satu mata
memandang Rizal. Rizal terdiam beberapa saat dan celingukan kanan kiri kayak
lagi nunggu bus kota
di halte. Matanya langsung terhenti pada mata Adam yang memandangnya sinis
penuh dendam. Rizal bisa merasakan kegetaran di dalam dirinya, Adam seakan-akan
ingin memakannya bulat-bulat.
Rizal terduduk lemas di kursi taman sembari membaca buku
biologi mengenai anatomi tubuh manusia. Ia bisa merasakan kesepian yang begitu
dalam dan nggak bisa terelakkan. Tiba-tiba Niken datang menghampiri Rizal dan
duduk di sebelahnya. “Hai say..lagi baca apa nih?” Niken menyapa kekasihnya itu
dengan sangat mesra. Rizal tersentak, Ia tidak menyangka Niken bisa senekat
ini. “Ken, akukan udah bilang sama kamu..kalo sekarang kamu jauhin aku dulu.
Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa gara-gara aku..” Rizal mencoba mengingatkan
Niken. “Mau gimana lagi! Aku udah terlanjur sayang sama kamu and aku nggak bisa
hidup kalo nggak ada kamu disampingku.” Ujar Niken sambil bergelayut manja
dilengan Rizal. “Iya say, aku tahu. Tapi nggak sekarang, kalo mereka sampe
berpikir kamu yang udah nyebarin berita itu gimana? Kamu juga yang rugikan? Dan
aku juga bakal repot..” Tiba-tiba Niken menghempaskan lengan Rizal dan berdiri
menantang di hadapan kekasihnya itu. “Kamu egois banget sih? Jadi menurut kamu
aku itu Cuma bisa ngerepotin kamu aja ya? Aku pengennya kamu bisa berbagi
kesedihan sama aku..kita ini punya hubungan spesialkan?”
“Ya udah kalo gitu kita putus aja!” Entah apa yang terlintas dalam
pikiran Rizal, namun kata-kata ini muncul begitu aja. Niken berusaha menahan
tangisnya dan pergi meninggalkan Rizal yang menyesali perkataannya. Kini Rizal terpukul
dengan perkataannya sendiri, sebutir air mata menetes dari mata kirinya. Saat
ini Rizal sedang labil, Ia tak bisa menahan ini semua, kegalauan hatinya
mengalahkan semangatnya untuk bersikap tegar.
Dari kejauhan Adam ditemani Dani dan Dhika mengawasi
gerak-gerik Rizal. “Berani banget cewek itu ngedeketin Rizal, bosen hidup
ternyata dia.” Dani memanas-manasi Adam. “Apa rencana pembalasan selanjutnya?”
Tanya Adam pada kedua sohib barunya itu. “Awalnya sih, Gue berpikiran mau
ngerjain mobilnya siRizal, tapi hari ini dia kayaknya nggak bawa deh. Jadi
rencana kita berubah..” Dhika mencoba memancing Adam. “Niken? Boleh juga
tuh..ini tantangan buat lo. Lo bisa nggak naklukin Niken?” Lanjut Dhika
mengutarakan niat jahatnya. “Terang aja bisa! Tapi buat apa? Buang-buang
energi…” Adam menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon mangga. “Salah satu cara
bales dendam…rebut Niken dari Rizal. Kayaknya ini bakal buat Rizal jera…” Dani
menjelaskan maksud Dhika. “Emang nggak salah Gue gabung ama kalian..” Adam
mengambil senyum kalicikan menanti kemenangannya.
Rizal masih terduduk di kursi taman, bel tanda masuk
sudah berbunyi 15 menit yang lalu. Buku biologi yang sedari tadi dipegangnyapun
kini sudah tergeletak tak berdaya di rerumputan taman. Sofi mendekati Rizal
yang setengah tertidur. “Zal..Rizaal..udah masuk nih! Lo nggak tidurkan?” suara
lembut Sofi membuyarkan kantuk Rizal. “Eh Lo Sof..Lo ngedeketin Gue? Ntar Lo..”
“Sssttt..nggak usah nakut-nakutin deh! Gue udah mutusin untuk bantuin Lo
ngelawan anak-anak tengil itu.” Sofi mendekatkan diri ke arah Rizal. “Maksud
Lo?” Tanya Rizal nggak ngerti. “Rizal..Lo itu nggak bisa diem gini aja dong!
Sampe kapan Lo rela jadi bulan-bulanan mereka. Lagian Gue yakin bukan Lo yang
nyebarin berita itu..so you must fight boy!”
“Buseet darimana Lo belajar bahasa begituan. Kirain IQ Lo nggak
nyampe kalo soal-soal beginian.”
“Enak aja Lo! Lo pinter aja gara-gara Gue ajarin.”
“Najis deh…oke. Mulai saat ini gue bakal survive, Gue harus bisa
ngelawan mereka. Semangat! Semangat! Ganbatte kudasai!” Rizal mulai meneriakkan
yel-yel pemberi semangat. “Haik, gambarimatsu! Sorak-sorak bergembira…” Sofipun
menambahinya dengan lagu sorak-sorak yang nggak nguatin. Alhasil, Rizal dan
Sofi menyanyikan lagu nasional ini sambil berdiri di atas kursi taman.
Pagi ini Rizal bangun lebih pagi dari biasanya. Ia
mengambil tas ransel birunya dan memasukkan beberapa buku pelajaran ke
dalamnya. Hari ini semangat Rizal tumbuh lagi. Terserah apa yang bakal
dilakukan Adam cs, Rizal udah siap menghadapi itu semua. Rizal memulai harinya
dengan senyuman diwajahnya, seperti yang tiap hari Ia lakukan. Setelah semuanya
siap Ia mencomot handuk berwarna merah yang tergantung di belakang pintu
kamarnya. Sesaat Rizal berpikir, apakah hari ini Adam masih ngerjain dia lagi?
Kemaren aja dia bisa hidup tenang tanpa keusilan Adam cs. Tapi nggak ada
salahnyakan sedia payung sebelum hujan. Ini udah jadi keputusannya kalo dia
nggak bakal nyerah gitu aja.
Rizal masuk melewati pintu gerbang yang masih lengang.
Mang Wito tampak masih sibuk menyapu taman sekolah yang kayaknya nggak bakalan
bersih. Hanya ada satu dua orang yang seliweran melewati Rizal. Rizal tersenyum
puas dan melanjutkan perjalanannya menuju ke kelas XB. Sesampainya Rizal di
kelasnya, Ia membuka pintu yang masih tertutup rapat dan sesegera mungkin
menjauh dari daun pintu itu. Rizal khawatir kejadian 2 hari lalu bakal terulang
kembali. Tapi dewi fortuna berpihak padanya, mungkin Adam cs harus datang lebih
pagi untuk nyiapin jebakan buat Rizal. Rizal duduk dengan nyaman di kursinya,
suasana tenang kayak gini udah lama nggak Ia rasakan. Satu-persatu teman
sekelas Rizal masuk menuju kelas No.2 itu. Dinar, Cicil, Ceri, Rahman, semuanya
memandang Rizal dengan tatapan nggak biasa. Puput yang satu bangku sama Adam
langsung menghampiri Rizal begitu tahu teman curhatnya itu datang lebih pagi.
“Halo Brow! Whats up? Sorry kalo Gue nggak bantuin Lo.” Puput yang rada tomboy
menepuk bahu Rizal sampai Rizal terbatuk-batuk. “Nggak papa, Gue ngerti kok. Lo
heran ya ngeliat Gue udah berangkat?”
“Terus terang iya, biasanya Lo datengnya pas udah mau bel masuk. Lo kan yang tukang mencet
belnya. Eh geser dikit dong..” Puput meyesalkan bokongnya menggusur bokong
Rizal yang udah taken kontrak dari tadi. “Heeaah..Gue nggak bisa nalar ini
semua. Padahalkan sebelum kedatangan Adam Gue ini cukup dihormati di sekolah
ini. Tapi sekarang..”
“Keadaan berubah, padahal pas pertama-tama dia masuk Lo setia banget
nemenin dia. Eh sekarang, abis pahit sepah dibuang..”
“Hah? Berarti Gue nggak ada manisnya dong?”
“Ember! Tapi untung aja Lo berangkat cepet hari ini, soalnya Gue
lihat tadi Adam cs udah nungguin Lo di gerbang.”
“Menurut Lo, Gue harus gimana?”
“Menurut pengamatan Gue, Adam itu Cuma kena hasutan aja ama
cecurut-cecurut sok itu. Jadi musuh Lo bukan Adam, tapi 5 anak most wanted
itu.”
“Gue pikir juga kayak gitu..tapi herannya lagi, kenapa coba Adam mau
banget dipengaruhi…” Belum sempat Rizal bercerita tentang nasibnya, tiba-tiba
Ruci datang dan berlari menghampiri meja Rizal. “Zal, gawat! Lo harus kabur, Adam
cs lagi nyariin Lo. Sebentar lagi mereka sampai di kelas ini…”
Rizal tersenyum dan mengambil tas ranselnya. “Kayaknya Gue mau main
kucing-kucingan dulu deh! See you later..” Rizal mengambil langkah seribu
menuju jendela belakang dan lompat ala maling profesional. Puput hanya geleng-geleng
kepala melihat kelakuan temannya ini yang kayaknya bangga banget deh
dikejar-kejar.
Setelah jam pelajaran ke-3 usai, Rizal membenarkan
celana abu-abunya dan tanpa sengaja melihat wajah tampan Adam. Adam mengawasi
Rizal sembari membunyikan persendian jari tangannya, kayak orang ngajak
berantem gitu. Rizal berdiri dari bangkunya dan tersenyum meremehkan Adam, “Kenapa?
Tangannya keseleo? Perlu diobati?” Adam berdiri memukul meja dan memandang
Rizal berapi-api, “Eh anjing, Lo masih punya nyali? Kalo Lo mau ngaku kalo Lo
yang udah nyebarin ini semua, mungkin Lo nggak akan tersiksa..” Rizal berjalan
mendekati Adam dan bertepuk tangan di depan wajah geram Adam.
“Hebat..hebat..denger ya Dam, Gue nggak akan ngakuin kesalahan yang nggak Gue
perbuat. Berapa kali Gue harus ngomong ke Lo kalo bukan Gue yang ngelakuin ini.
Lo lebih milih percaya sama orang yang baru Lo kenal 15 menit daripada sama Gue
yang udah 2 hari nemenin Lo.”
“Omong kosong! Gue..Gue..Gue muak ama Lo. Ini dari Gue..” Sebuah
bogem mentah mencoba mendarat di wajah Rizal, namun tangan kurus Rizal
menangkapnya tepat pada waktunya. “Dam..ini bukan Lo. Gue akan musnahin
setan-setan pengganggu jalan pikiran Lo, demi ngedapetin Adam yang 2 hari Gue
kenal.” Tiba-tiba 5 cowok bertampang kece berlari menghampiri Rizal. Namun
lagi-lagi Rizal melompat melalui jendela belakang, namun kali ini dengan gaya berbeda. Ia
melerusakan kaki dan menekuk kedua tangannya kedepan serta menjulurkan
lidahnya, yah persislah kayak Lassie.
Rizal masih bersembunyi disemak-semak saat bel pulang
sekolah berbunyi nyaring. Puluhan orang sedang sibuk mencarinya termasuk Adam.
Sofi yang mengetahui nasib buruk temannya ini hanya bisa gigit jari sambil
terus memikirkan solusi untuk menyelamatkan Rizal. Tiba –tiba muncul ide konyol
untuk ngerjain Bu Ida yang dikenal guru paling seksi dan nakal, nakal banget
sih. Sofi mengambil cutter dari dalam tasnya dan berjalan mendekati guru bahasa
inggris itu. Saat sang guru sedang tebar pesona dan bermain mata dengan setiap
cowok keren yang lewat, Sofi membelah rok mini ibu tersebut sambil mengalihkan
perhatian ibu seksi namun tak menarik ini. Alhasil, rok mini ibu ini semakin
mini dan begitu mini hingga terlihat tulang paha kecilnya. Tak ayal semua mata
tertuju kearahnya, herannya lagi ibu guru ini malah bangga diliatin and
digodain sama anak-anak satu sekolahan. Dalam situasi heboh ini Sofi
teriak-teriak mengundang semua cowok termasuk anak-anak yang lagi nyariin
Rizal. Alhasil, Rizal bisa kabur dari tempat itu ketika semua cowok yang
nyariin dia pada berpindah perhatian menuju Bu Ida yang kini mulai kiss bye
sana-sini.
“Gila Lo Sof, nekat banget sih?” Ujar Rizal setelah Ia
mendengar cerita Sofi. “Gue..eh kayaknya Lo harus ngerubah image Lo dimata
anak-anak deh!” Sofi membenarkan ikatan rambutnya kemudian menyisir jari
rambutnya yang panjang itu. “Edisud rahmat katolo, maksud Lo…”
“Ya maksud Gue, selama ini Lo kan
dikenal sebagai anak yang disiplin and selalu berjalan lempeng dibidang
akademik. Tapi Lo belon nyoba jadi cowok beken di sekolah kita.”
“Buat apa?”
“Ya elah! Buat apa! Tahu nggak, kalo Lo jadi cowok beken di sekolah
bantuan bakal ngalir deres kayak air hujan.”
“Iya kalo hujan deres, kalo Cuma gerimis?” Rizal celingukan di halte
menanti bus kota
yang biasanya ngejemput dia pulang sekolah.
“Ihh…lucu! Secara tampang, Lo nggak ancur-ancur amat, bodypun bisa
dibanggain. Akan tetapi kayaknya Lo belom nemuin style Lo deh. Lo tahu cowok
beken itu bakal punya banyak temen, and temen itulah yang bisa bantuin Lo
ngelawan Adam.” Sofi menggenggamkan kedua tangannya dan mengangkatnya setinggi
mungkin. “Menurut Lo Gue bisa berjaya di bidang apa?”
“Pertama yang bisa kita coba and didemenin cewek adalah sport. Cowok
yang berjaya di bidang sport itu paling didemenin cewek. Kalo ada cowok keren
tapi letoy…sorry deh!”
“Jadi..??”
“Yups, jadi besok pagi jam 6 Lo gue tunggu dirumah Gue. Kita ke
Mugas…Deal!” Rizal hanya mengangguk dan garuk-garuk nggak ngerti. Kena sindrom
jenis apa sih Sofi ini, kok semangatnya menggebu-gebu banget. Cyapey dyeh…!!
Malam minggu kata orang malam yang paling indah. Tapi
nggak bagi Rizal, Ia mengenang hubungannya sama Niken yang
nggak genap 2 minggu. Saking sayangnya Rizal sama Niken, sampai-sampai Rizal
nekat mutusin Niken demi keselamatan Niken. Harusnya malam ini Rizal bisa
nge-date sama Niken, tapi itu Cuma kenangan. Rasanya Rizal pengen nelpon Niken
and ngajakin dia pergi, tapi nggak mungkin Rizal ngedahuluin ego daripada akal
sehat. Secara mereka berdua udah putus, jadi nggak ada ketergantungan dong. Tapi
apa Niken juga memikirkan hubungannya sama Rizal ya? Atau malah…
TING-TONG…bel rumah keluarga Niken berbunyi
pelit, kayaknya baterenya abis deh. “Chaa..tolong bukain pintu!” teriak Ibu
Niken dari dalam dapur. Icha yang kebetulan lagi nongkrong di ruang tamu
langsung menuruti perintah ibunya itu. “Iya tunggu sebentar..” Icha melenggang
menuju pintu rumahnya. Pintu terbuka dan seorang cowok putih dan tinggi tersenyum
menunjukkan lesung pipit yang tersungging di kedua pipinya. Icha memandang
cowok ini dari ujung rambut sampe ujung sepatu. Keren! “Ehm..Tante Siti ada?”
Tanya cowok berhidung mancung itu kemudian. “Oh iya..emm..siapa ya?” Icha
tersentak saking terpesonanya sama brondong mantap ini. “Saya anaknya Pak
Danu.” Cowok itu menyodorkan bungkusan merah yang sedaritadi dibawanya ke arah
Icha. “Oh, kamu anaknya Om Danu..ya ampun,
pantes aja aku pangling. Secara kamu sekarang udah tumbuh besar dan tampan
pula. Ayo masuk!” Icha menarik lengan putera Om Danu dan membawanya menuju
dapur. “Ma, lihat siapa yang datang…” Icha memamerkan Adam pada ibunya dengan
penuh gaya.
“Icha, Mamakan udah bilang. Jangan bawa temen ke dapur! Nggak sopan tauk.” Sang
Mama mengomeli Icha sambil menggerak-gerakkan sutilnya ke depan wajah Icha.
“Mama..ini anaknya Om Danu. Siapa namamu?” Icha menyenggol lengan cowok itu.
“A..Ad..Adam tante. Nama saya Adam!” Adam terbata-bata dan rada malu-malu. “Yaa
ampun..Adam? Pantes tante pangling, kamu udah segede ini…cakep lagi. Ayo ke
ruang tamu.” “Ini Tante, Mama nitipin ini…kue buatan Mama…” Adam meyodorkan
bungkusan itu lagi. Tapi bukannya Tante Siti yang nerima, bungkusan itu disaut
gitu aja sama Jenni yang lagi lari-lari.
Kini ruang tamu rumah Niken nggak sepi lagi, Adam
disambut dengan ramah di rumah ini. Ayah Niken, ibu Niken, Icha, Joshua, dan
Adam tentunya berkumpul di ruang tamu yang bisa dibilang besar itu. Beratus
pertanyaan mengalir kayak air sungai dari keluarga besar itu. Adam sampe
bingung mau ngejawab pertanyaan yang mana dulu. Didalam penyiksaan batin yang
dialami Adam, tiba-tiba seorang cewek berkulit putih dan berambut segi
sepunggung masuk melewati pitu rumah yang terbuka. Setengah shock Adam mencoba
memastikan apa yang dilihatnya. Niken berjalan lemas melewati semua orang di
ruang tamu yang terpaku melihatnya. “Ken!” Panggil Adam membuat Niken
menghentikan langkahnya. Niken menoleh dan terdiam sesaat, Adam? Ngapain Adam
ke rumah Gue? Ditengah kebisuannya, sang Mama berdiri dan langsung tertawa
terbahak-bahak. “Jadi kalian sudah saling kenal? Ya ampun, memang dunia ini
tidak selebar daun kelor. Ayo sini Niken, ikut ngobrol.” Ibu Niken menggenggam
pergelangan tangan Niken dan langsung menggeretnya menuju kursi yang terbuat
dari kayu jati. Dengan malas dan wajah muak Niken mengikuti perintah ibunya.
“Kalian kenal dimana?” Tanya Icha mencairkan suasana. “Kebetulan kita satu
sekolah. Walaupun beda kelas tapi…yah kita bisa saling kenal. Kebetulan! Pantes saya kok familiar sama pagar rumah tante.” Jelas Adam. Tiba-tiba sang Papa berdiri diikuti Ibu Niken ples
Icha. “Kami kedalem dulu ya! Tante mau nyiapin makan malam. Kamu makan disini
ya?” Ibu Niken menawari dengan penuh kehangatan. “Boleh tante.” Jawab Adam yang
membuat Niken terbelalak kaget.
“Ngapain Lo kesini? Kok, keluarga Gue ramah banget sama
Lo?” Niken mengangkat satu alis matanya mencoba menyelidik. “Nggak Gue sangka
ternyata kita ini teman sejak kecil. Gue ini Adam anaknya Pak Danu, masa kamu
nggak ingat?” Adam memajukan tubuhnya seolah ingin menarik perhatian Niken.
“Nggak penting! Apa sih mau Lo? Kenapa Lo terus nyakitin Rizal? Gara-gara Lo
Rizal jadi tertekan.” Bentak Niken dengan air muka marah. “Weitz, Lo nggak bisa
nglupain anak Mama itu? Gara-gara dia juga Gue jadi kehilangan fans-fans
fanatik Gue.” Adam menghilangkan senyum ngegemesinnya. “Eh, apa sih yang lebih
penting dari sebuah persahabatan? Apa kepopuleran bisa ngegantiin kesetiaan
Rizal selama ini? Lagian Lo nggak punya buktikan?”
“Gue nggak suka sama pengkhianat! Dan Rizal adalah pengkhianat.
Pertama aja dia berlaku baik ke Gue, setelah itu dia nusuk Gue dari belakang. Kalo
Lo jadi Gue, mungkin Lo bakal ngelakuin hal yang sama.”
“Semudah itu Lo berkesimpulan. Kalo umpamanya bukan Rizal yang
ngelakuin hal itu gimana? Lo bisa bilang apa?”
“Sekali Rizal tetep Rizal, Gue nggak bisa salah.”
“Emang Lo dewa! Gue muak sama Lo, liat aja Gue bakal buktiin kalo
Rizal nggak salah. Gara-gara Lo dia mutusin Gue!! Puas??” Niken berlari
menjauhi ruang tamu dengan berlinangan air mata. Semua matapun tertuju pada
Niken dan Adam secara bergantian. Adam shock dengan jeritan kemarahan Niken,
apa akibat dari perbuatannya bisa sebesar ini.
No comments:
Post a Comment