Sunday, 25 August 2013

Empat



        Hari ini hujan turun perlahan. Hawa dingin terasa menusuk tulang. Rizal mencari-cari jaket abu-abunya yang baru beberapa minggu dibelinya dari distro di dekat sekolahnya. Sekilas Rizal teringat akan janjinya pada Adam untuk menemani Adam berbelanja di distro itu. Tangan kurusnya berhenti menguras isi lemari. Rizal tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, perasaan bersalah akan sesuatu yang tidak diperbuatnya. Dari ruang makan Mama berteriak dengan volume maksimal manggilin Rizal yang keasikan ngelamun. Entah apa yang ngebuat ibu nyentrik satu ini rela ngabisin suaranya hanya untuk manggil anaknya yang nggak kalah nyentrik itu. Soalnya ibu ini biasanya manggil anaknya hanya dengan nendang tanah 3 kali ples manggil nama Rizal 3 kali juga. Alasannya sih biar hemat suara. Benar benar ibu yang aneh.
Hari ini Rizal dipercaya untuk naik mobil sendiri menuju ke sekolahnya yang tercinta. Pasalnya, sang Ayah yang biasanya jadi supir setianya siRizal lagi libur kerja dengan alasan yang aneh. Gimana nggak aneh, libur ini untuk memperingati hari ulang tahun pernikahan bossnya siPapa yang ke-25. penting nggak sih?!
Mobil kijang hitam yang berhiaskan stiker merah jingga dengan motif lidah api merayap dari pinggiran kota Semarang yang ruamene puol. Puluhan motor melesat secepat angin mendahului mobil yang dikendarai Rizal. Tau sendirikan gimana gaya nyetirnya Rizal yang bisa dibilang abstrak, alhasil ratusan klakson bersautan menghardik siRizal yang amatir. Tapi kali ini ada yang aneh, biasanya Rizal yang kocak selalu membalas klakson-klakson tadi dengan serangan klakson yang berlipat ganda. Tapi kali ini Rizal lebih memilih menekuk wajahnya daripada menunjukkan sifat nyentriknya yang aneh. Apa sih yang lagi dipikirin Rizal? Hanya tuhan dan Rizal yang tahu.
Pintu gerbang sekolah terbuka lebar menyambut kedatangan Rizal dan mobil bawaannya. Ratusan mata langsung terarah pada Rizal. Mereka keheranan ngeliat Rizal yang tiba-tiba menghentikan mobilnya di depan gerbang dan turun dari mobil. Ia turun untuk memperkirakan mobilnya bisa masuk apa nggak. Terlebih lagi Rizal dengan PD ngebawa penggaris besi miliknya untuk mengukur lebar pagar dan lebar mobilnya secara detail. Aksi ini spontan muncul secara tak disengaja disaat Rizal lagi kebingungan ngemasukin mobilnya melalui gerbang sekolah. Setelah prosesi pemarkiran itu selesai dikerjakan, Rizal meraih jaket abu-abunya dan turun dari mobil dengan gaya bangsawan. Dagu diangkat, bibir tersenyum kecil, mata memicing, dan hidung kembang kempis. Sesaat para siswa lain yang liat aksi Rizal ini bakal inget sama salah satu iklan populer yang terdapat kata-kata,”Anak anda cacingan? Beri obat nyamuk Mortein segera.” Kaki Rizal dengan PD melangkah melewati beberapa guru yang sedang mengadakan pemeriksaan busana rutin.
Senyum kecil Rizal semakin melebar ketika melihat siDevi lagi asyik main petak umpet sama temen-temen sepermainannya. Kebetulan siDevi yang jadi, dan semua temen Devi langsung berpencar mencari tempat persembunyian sendiri-sendiri. Ada yang lari menuju kursi taman trus sembunyi di belakangnya. Ada yang manjatin pohon mangga yang letaknya nggak jauh dari tempat Devi nutup mata. Ada yang sembunyi di gerobak sampah yang lagi dipake Mang Wito. Dan ada juga yang kena timpuk sepatu gara-gara mencoba sembunyi dibawah rok siswi yang lagi lewat. Ketika Devi telah selesai menghitung Iapun membuka matanya dan mendapati muka Rizal yang ancur tepat di depannya. Senyuman kebahagiaan yang semula ditunjukkan Devi langsung berubah 180 derajat menjadi tekukan yang elastis. “Vi, harusnya Lo kan kaget. Curang ahh! Pokoknya ulangin sekali lagi dan Lo harus kaget sekaget-kagetnya. Setuju!” keluh Rizal sedikit kecewa. “Aduh..ntar Gue ada ulangan! Gue belajar dulu ya!” Devi sesegera mungkin mencari alasan sekenanya. Tanpa menggubris kawan-kawannya yang udah susah-susah ngumpet, Devi ngeloyor aja balik ke kelasnya sambil sesekali menyibakkan rambut panjangnya. Rizal yang makin bingung jadi menekuk bibirnya seelastis mungkin dan pergi menuju kelasnya nan jauh dimato.


Rizal berjalan dengan senyum merekah dibibirnya. Saat ini pikiran Rizal udah plong, dia nggak perlu ngurusin Adam yang nggak penting itu. Rizal udah bebas, sekarang dia bisa berbuat sesuka hati tanpa ada gangguan dari Adam. Tapi hari ini ada yang aneh, entah kenapa semua siswa yang dilewati Rizal memandang tajam ke arahnya. Perlahan Rizal memeriksa resleting celananya, hasilnya sempurna. Nggak ada yang salah sama resleting celananya. Kemudian Rizal mencoba meraba punggungnya, siapa tau ada yang iseng nempelin sesuatu di punggungnya. Namun hasilnyapun nihil, nggak ada kertas atau apapun yang nempel di punggungnya. Rizal jadi ngerasa aneh sendiri dan mempercepat langkahnya melewati deretan kelas yang nggak serame biasanya. Sesampainya Rizal di depan pintu kelasnya, Rizal langsung mengatur nafasnya ala ibu hamil seperti yang dilihatnya di program TV ibu dan anak. Sejenak Rizal celingak-celinguk melihat keadaan sekelilingnya. Sepi, nggak ada satu makhlukpun yang melintas di depan kelasnya. Janggalnya lagi pintu kelas yang biasanya kebuka 24 jam non-stop itu kali ini ketutup rapat tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Sesaat Rizal berpikir, apa hari ini walikelasnya lagi ngerayain ulang tahun pernikahannya juga, sehingga anak-anak diliburin. Atau mungkin wali kelasnya Rizal itu adalah isterinya Bossnya siPapa. Kemudian Rizal mengulum senyum, Ia baru teringat kalo walikelasnya itu cowok..jadi??
Dengan bermodalkan ucapan bismillah, Rizal memutar gagang pintu dan membukanya dengan ketukan 4/4. Pintu yang tampaknya sudah tua itu berdecit perlahan, angin sepoi yang dingin langsung terasa menerpa tubuh kurus Rizal. Aroma kursi dan meja kayu yang lembab langsung tercium. Kalo suasananya kayak gini Rizal jadi teringat akan film horor yang paling serem yang pernah Ia tonton. Film yang dimaksud adalah ‘SpongeBob and Flying Deutchman The Movie’, maklum sepanjang hidupnya Rizal Cuma pernah nonton di bioskop satu kali, itu aja waktu dia berumur 5 tahunan.
Pintu terbuka semakin lebar dan kaki kanan Rizalpun melangkah perlahan. Tepat pada saat Ia menginjakkan kaki kanannya ke tanah, dirinya langsung dikejutkan dengan tumpahan cairan aneh di kepalanya. Ya, sebuah ember hijau berisikan cairan berbau tak sedap jatuh dari atas pintu dan menimpa dirinya. Teriakan kencang penuh kekesalan langsung terdengar di sepanjang lorong sekolah. Teriakan yang persis kayak jeritan malam ini mengundang para siswa untuk berbondong-bondong menghampiri kelas Rizal. Ratusan suara gelak tawa terdengar saat semua siswa melihat keadaan Rizal yang memprihatinkan. Baju seragam Rizal basah, begitu juga tas dan isinya, hanya jaket abu-abunya yang bisa terselamatkan. Dengan wajah merah padam, Rizal memakai jaketnya dan berusaha menutupi baju seragamnya yang berbau tidak enak itu. Pandangan dan gelak tawa siswa semakin menjadi ketika melihat kepanikan Rizal yang dianggap lucu. Dengan perasaan dongkol yang mendarah daging Rizal beranjak dari keramaian itu dan memutuskan untuk pergi ke parkiran sekolah.
Rasa malu yang dirasakan Rizal berlanjut di sepanjang jalan menuju parkiran. Beberapa siswa kelas X yang tak dikenalnya mengikuti langkahnya seperti pengarak pengantin. Alhasil gelak tawa semakin menyebar ke penjuru sekolah, dari siswa kelas XI, XII, sampe Mang Wito yang dikenal jarang ketawa ikut-ikutan ngakak ngeliat kejadian ini. Dari kejauhan Rizal mendapati teman-teman sekelasnya yang biasanya rela membantu dirinya kini hanya berdiri mematung. Mereka berdiri bergerombol dan memasang wajah iba. Di samping kanan dan kiri mereka berdiri cowok-cowok gaul SMA Rizal + cowok-cowok most wanted yang tersenyum sinis pada Rizal. Rizal menghentikan langkahnya sejenak dan tampak tak percaya atas apa yang dilihatnya. Adam berdiri angkuh di belakang gerombolan anak-anak most wanted. Kini Rizal mulai mengerti apa yang telah terjadi. Dengan perasaan berkecamuk Rizal melanjutkan perjalanannya menuju tempat parkir yang terletak tepat dibelakang gedung kelas XI.


Rizal mengendarai mobilnya tanpa konsentrasi ke jalan. Ia sibuk memikirkan nasib buruknya hari ini yang akan semakin memburuk di keesokan hari. Apa yang harus Rizal lakukan agar Adam sadar akan kesalahpahaman ini. Sedikit menyesal Rizal mencoba mengingat kembali kejadian 2 hari lalu, dimana Ia dengan tegas memutuskan perjanjian dengan Adam. Apa ada yang salah dengan penolakan Rizal itu? Mengapa berita tentang kondisi Adam di club malam bisa sampai meluas? Siapa orang yang telah menyebarkan berita itu? Kenapa Niken menutup telponnya ketika Rizal bertanya tentang tersiarnya berita itu? Apa jangan-jangan siNiken yang udah nyebarin berita ini? Rizal terus berpikir tentang kejadian terburuk seumur hidupnya ini. Tanpa terasa mobil kijang Rizal udah nangkring di depan pager rumahnya tercinta. Entah apa yang harus Rizal katakan pada keluarganya jika mereka sampai tahu Ia tidak masuk sekolah hari ini.



Pukul 5 sore Adam masih terpaku di depan televisi 21”nya. Ia bersandar pada kepala tempat tidur kayunya. Matanya terarah pada kunci mobil yang ia letakkan di atas kasur bersprai biru muda. Program berita yang dari tadi disetelnyapun tak dapat mengalihkan perhatiannya pada kunci itu. Sejenak Ia berpikir, apakah benar Rizal yang telah menyiarkan berita tentangnya itu? Bagaimana seandainya jika bukan Rizal yang melakukannya? Jika bukan Rizal siapa lagi? Niken? Keraguan-raguan masih menyelimuti hati Adam. Apakah jalan yang ditempuhnya ini sudah benar? Ditengah-tengah pertanyaannya yang menjadi-jadi sebuah teriakan panjang membuyarkan lamunan Adam. Sang Mami memanggil dengan teriakan kencang sekencang sabuk pengaman. Dengan tanggap Adam keluar dari kamarnya dan menuju ke arah suara.
Sang Mami terduduk manis di ruang tengah. Ayah Adam duduk di samping istrinya dan meletakkan tangan kanannya di pundak kanan belahan hatinya itu. “Ada apa Mi?” Tanya Adam setelah Ia duduk tepat di sebelah Maminya. “Nggak…rencananya nanti malam Mami sama Papi mau pergi ke rumah kerabat Papi. Kamu mau ikut nggak?” Jelas sang Mami dengan suara khasnya yang lembut. “Apa? Ke rumah kerabat Papi? Untuk apa Adam ikut?”
“Ya supaya kamu bisa kenal sama keluarga temen Papi itu? Soalnya dia itu sudah seperti saudara kita sendiri. Kita pernah kumpul bareng waktu masih di Jakarta loh!”
“Heah..Adam nggak bisa ikut. Soalnya masih ada ulangan nih besok. Maaf ya..” Adam menolak ajakan Maminya ini dan kemudian kembali ke kamarnya. “Anak kurang ajar! Kita belum selesai bicara, dia sudah main pergi aja..perlu dikasih pelajaran rupanya!” Melihat kelakuan Adam yang rada nggak sopan itu Ayah Adam jadi darah tinggi. “Sstt..sudah Pi biarin aja! Lagian katanya dia masih ada ulangan tuh! Kita pergi berdua aja.” Bujuk Ibu Adam meredakan kemarahan sang suami.


Rumah Niken yang terletak didekat lapangan golf terasa semakin ramai. Semua anggota keluarganya sedang sibuk merapikan ruang tamu dan ruang makan. Dari Ibu Niken yang masak di dapur dengan di temani Bi’ Wati dan kakak sulungnya Icha. Ayah Niken yang lagi ngganti bohlam ruang tamu ditemani adiknya Joshua. Dan dia sendiri yang sedang asik menata meja makan dengan sibungsu Jenni disampingnya. Niken nggak tahu siapa yang mau datang malam ini, dan dia nggak punya waktu untuk menanyakan hal itu. Teriakan terdengar dari berbagai ruangan di rumah Niken. Dari omelan sang Ibu gara-gara si Icha salah masukin bumbu. Bentakan sang Ayah yang menegur kelakuan Joshua. Bagaimana Ayah tidak marah, joshua memainkan bohlam itu dan maletakkannya tepat di depan bibirnya. Yaa serasa pake mic geto. Mana lagu yang dibawain lagu ‘obok-obok’ lagi. Sudah pasti Ayah marah-marah nanggepin obsesi Joshua ini.
Hal yang sama terjadi pada Niken. Suara Niken terkuras gara-gara memperingatkan sibungsu Jenni yang bukannya bantuin malah main rumah-rumahan di bawah meja makan. Marahnya bukan karena apa-apa. Pasalnya Jenni mindahin semua piring, sendok, dan peralatan makan lain ke bawah meja. Ada acara makan-makan dirumah buatannya katanya, lha emang sukuran rumah baru pake makan-makan segala.
Setelah semua pekerjaan di rumah Niken selesai, semua anggota keluarga + Bi’ Wati berkumpul di ruang tengah. Joshua menyalakan TV 21” dan sibuk mencari program favoritnya. Sedangkan Jenni tengah asyik bermain dengan Bugi, boneka anjing kesayangannya. “Pa, emang siapa sih yang mau bertamu? Kok harus gini banget?” Kakak perempuan Niken mulai penasaran. “Ginian banget gimana? Kali ini yang dateng bukan orang biasa. Beliau ini temen baik Papa waktu di Jakarta, masa kamu nggak ingat?” Jawab sang Mama mencoba mengingatkan Icha. “Teman Papa waktu di Jakarta? Banyak kali Ma! Yang jelas dong kalo ngasih tebakan!” Ujar Icha malah marah-marah. “Masa nggak tahu! Itu loh yang kumisnya tebel, yang suka banget gendong-gendong kamu!”
“Om Kadir!” Icha coba menebak.
“Deng..Dong..anda salah. Yang sukanya minta Mama masakin sayur asem jawa ples tempe goreng.”
“Ohh..pasti Om yang suka makan gratis di rumah kita itukan? Om Kembul!”
“Anda masih salah! Ck..yang waktu itu kamu ompolin itu loh. Yang pernah kamu siram pake susu putih..”
“Apa Ma.. kasih bantuan yang lebih jelas dong..ayo, apa Ma?”
“Yang istrinya kulitnya putih dan cantik. Istrinya sering kamu panggil Tante Uci..”
“Emm..siapa ya…kayaknya aku hampir inget deh! Tante Uci? Haduh sulitnya minta ampun…Om Danu..Iya Om Danukan?”
“Ya..Anda benar..” Mama membenarkan jawaban Icha sambil tepuk tangan dan memeluk tubuh mungil Icha penuh haru. Ichapun meneteskan air mata kebahagiaannya, dan sujud sukur kepada tuhan YME. Akhirnya Ia bisa menjawab pertanyaan sang Bunda yang sulit itu. Alhasil Niken, Papa, dan Joshua memandang aneh kepada siMama dan Icha yang suka berlebihan. Sedangkan Bi’ Wati malah sibuk mendiamkan Jenni yang nangis sembari berteriak-teriak, “Huuu…Mamaku gila…Mama gila…Huuu…Aku nggak mau!”


“ Ada apa say?” Suara Rizal begitu hangat menjawab telpon Niken. “Nggak papa kok. Eum…aku denger dari temenku masalah tadi pagi…”
“Ohh..nggak usah terlalu di pikirin. Kamu tenang aja, aku nggak akan biarin dia nyentuh sehelaipun rambut kamu. Biar aku aja yang nanggung ini semua.”
“Eum..emang kamu ya yang udah nyebarin berita itu?”
“Itu masalahnya..aku nggak tahu siapa yang udah nyebarin berita itu. Tapi Adam ngiranya sih aku…dia nggak punya bukti tapi aku juga nggak bisa buktiin kalo bukan aku yang nyebarin hal itu. Jadi..”
“Aku yakin kok bukan kamu yang ngelakuin hal itu!”
“Thanks Babe! Kamu sendiri gimana? Baik-baik ajakan?”
“Iya. Tapi aku lagi bete nih! Bonyok aku sibuk sendiri sama tamunya. Fuh..”
“Oh ya, aku Cuma mau ngingetin kamu doang. Akhir-akhir ini kamu jauhin aku dulu ya say..aku nggak mau kamu kecipratan kenakalannya Adam cs. Kamu baik-baik aja ya! Belajar yang bener, makan teratur, dan jangan lupa ibadah.”
“Makasih ya sayang…aku nggak bisa bantu apa-apa. Tapi aku harap masalah ini bisa cepat selesai…Dah ya babe! Bye….”


Papa dan Mama Niken tengah berbincang akrab dengan tamunya. Tak ketinggalan Icha dan Joshua yang ikut nimbrung di ruang tamu. “Om…kayaknya dulu Om punya anak cowok deh! Mana sekarang?” Tanya Icha yang udah mulai ingat akan masa lalunya. “Ohh..katanya besok dia ada ulangan jadinya dia nggak bisa ikut. Kamu masih ingat juga ya sama anak Om itu!” Ujar Om Danu sembari tersenyum. “Iya dong Om! Dulu diakan anak yang imut, kulitnya putih, tembem, dan suka banget aku gendong. Lagian dia suka banget mainan sama Niken.” Jelas Icha menampakkan wajah gemasnya. “Oh ya jeng! Mana Niken kok nggak keliatan sih? Lagi belajar ya?” Tanya Tante Lusi teringat pada sosok balita kesayangannya. “Niken? Ada tuh di kamar. Joshua tolong panggilin kakak kamu dong!” Ujar Mama Niken sambil melirik tajam pada Joshua.
Niken memandangi dirinya di cermin. Pikirannya terus melayang mengingat kejadian yang menimpa Rizal. Kalo Rizal kekeuh nggak nyebarin berita tentang Adam, lalu siapa? Apa Niken pernah keceplosan ngomong sama orang lain. Ditengah pertanyaan yang hilir mudik kayak mobil di jalan tol, pintu kamarnya terbuka perlahan dan Joshua menampakkan hidung peseknya. “Kak, dipanggil Mama tuh!” Setengah kesel Niken mengambil sisir pinknya dan merapikan ikatan rambutnya. “Sshh..ganggu aja deh!”


“Zaaaaal…bangun! Udah jam 7 nih! Kamu nggak sekolah?” Suara nyaring sang kakak menggelegar bagai petir disiang bolong. Rizal meluruskan kedua kakinya dan menekuk-nekuk persendian jari tangannya. Perlahan Ia mengambil posisi duduk sambil membersihkan kedua matanya. Dengan cekatan Ia mencomot jam weker berbentuk telur kesayangannya dan mengamati arah jarum jam baik panjang maupun pendek. “Wow jam 7 pagi…apa? Jam 7? Busett Gue telat nih ke sekolah! Nggak ada yang bangunin ya, emang pada resek nih!” Dengan secepat kilat Rizal berlari ke westafel di dekat kamar mandi. Ia membuka keran dan membasuh mukanya serta gosok gigi dengan kecepatan 50 gosokan/menit. Kemudian Rizal buru-buru ke kamarnya dan mengganti pakaiannya, Rizal memajukan bibirnya 5 centi tanda kesebelannya pada anggota keluarganya. Kurang dari 20 menit Rizal keluar kamar dan langsung pergi gitu aja  tanpa pamitan ke sang Mama tercinta.
15 menit emang waktu yang lumayan singkat untuk pergi dari rumah Rizal menuju ke SMA yang berada di tengah kota itu. Dengan bermodalkan taksi tanpa argo, Rizal bisa sampe tepat jam 8 pagi di depan gerbang tanpa kurang suatu apapun. Rizal melewati gerbang sekolah yang terbuka sedikit tanpa rintangan. Sempritan pak satpampun tak bisa menghalangi langkahnya yang super duper cepat itu. Jarak antara pintu gerbang dan kelas Rizal cukup jauh, lumayanlah itung-itung lari pagi. Sesampainya Rizal di depan kelasnya tercinta, Rizal langsung mengetuk pintu dan memberikan senyumannya pada Bu Retno guru bahasa Indonesia. Rizal berani aja tuh nyelonong masuk dalem kelas walaupun telat, pasalnya Bu Retno emang dikenal sebagai guru terbaik yang pernah ada. “Maaf bu, saya terlambat!” Ujar Rizal meminta izin untuk masuk ke dalam kelas. “Kenapa kamu terlambat? Ya udah sana masuk!!” Perintah Bu Retno berusaha berwibawa. “Siap, laksanakan!!” Rizal langsung berjalan menuju ke bangkunya dengan senyuman keramahan terpancar dari bibirnya. Namun, teman-temannya berubah. Mereka semua tertunduk tanpa satu mata memandang Rizal. Rizal terdiam beberapa saat dan celingukan kanan kiri kayak lagi nunggu bus kota di halte. Matanya langsung terhenti pada mata Adam yang memandangnya sinis penuh dendam. Rizal bisa merasakan kegetaran di dalam dirinya, Adam seakan-akan ingin memakannya bulat-bulat.


Rizal terduduk lemas di kursi taman sembari membaca buku biologi mengenai anatomi tubuh manusia. Ia bisa merasakan kesepian yang begitu dalam dan nggak bisa terelakkan. Tiba-tiba Niken datang menghampiri Rizal dan duduk di sebelahnya. “Hai say..lagi baca apa nih?” Niken menyapa kekasihnya itu dengan sangat mesra. Rizal tersentak, Ia tidak menyangka Niken bisa senekat ini. “Ken, akukan udah bilang sama kamu..kalo sekarang kamu jauhin aku dulu. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa gara-gara aku..” Rizal mencoba mengingatkan Niken. “Mau gimana lagi! Aku udah terlanjur sayang sama kamu and aku nggak bisa hidup kalo nggak ada kamu disampingku.” Ujar Niken sambil bergelayut manja dilengan Rizal. “Iya say, aku tahu. Tapi nggak sekarang, kalo mereka sampe berpikir kamu yang udah nyebarin berita itu gimana? Kamu juga yang rugikan? Dan aku juga bakal repot..” Tiba-tiba Niken menghempaskan lengan Rizal dan berdiri menantang di hadapan kekasihnya itu. “Kamu egois banget sih? Jadi menurut kamu aku itu Cuma bisa ngerepotin kamu aja ya? Aku pengennya kamu bisa berbagi kesedihan sama aku..kita ini punya hubungan spesialkan?”
“Ya udah kalo gitu kita putus aja!” Entah apa yang terlintas dalam pikiran Rizal, namun kata-kata ini muncul begitu aja. Niken berusaha menahan tangisnya dan pergi meninggalkan Rizal yang menyesali perkataannya. Kini Rizal terpukul dengan perkataannya sendiri, sebutir air mata menetes dari mata kirinya. Saat ini Rizal sedang labil, Ia tak bisa menahan ini semua, kegalauan hatinya mengalahkan semangatnya untuk bersikap tegar.
Dari kejauhan Adam ditemani Dani dan Dhika mengawasi gerak-gerik Rizal. “Berani banget cewek itu ngedeketin Rizal, bosen hidup ternyata dia.” Dani memanas-manasi Adam. “Apa rencana pembalasan selanjutnya?” Tanya Adam pada kedua sohib barunya itu. “Awalnya sih, Gue berpikiran mau ngerjain mobilnya siRizal, tapi hari ini dia kayaknya nggak bawa deh. Jadi rencana kita berubah..” Dhika mencoba memancing Adam. “Niken? Boleh juga tuh..ini tantangan buat lo. Lo bisa nggak naklukin Niken?” Lanjut Dhika mengutarakan niat jahatnya. “Terang aja bisa! Tapi buat apa? Buang-buang energi…” Adam menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon mangga. “Salah satu cara bales dendam…rebut Niken dari Rizal. Kayaknya ini bakal buat Rizal jera…” Dani menjelaskan maksud Dhika. “Emang nggak salah Gue gabung ama kalian..” Adam mengambil senyum kalicikan menanti kemenangannya.
Rizal masih terduduk di kursi taman, bel tanda masuk sudah berbunyi 15 menit yang lalu. Buku biologi yang sedari tadi dipegangnyapun kini sudah tergeletak tak berdaya di rerumputan taman. Sofi mendekati Rizal yang setengah tertidur. “Zal..Rizaal..udah masuk nih! Lo nggak tidurkan?” suara lembut Sofi membuyarkan kantuk Rizal. “Eh Lo Sof..Lo ngedeketin Gue? Ntar Lo..” “Sssttt..nggak usah nakut-nakutin deh! Gue udah mutusin untuk bantuin Lo ngelawan anak-anak tengil itu.” Sofi mendekatkan diri ke arah Rizal. “Maksud Lo?” Tanya Rizal nggak ngerti. “Rizal..Lo itu nggak bisa diem gini aja dong! Sampe kapan Lo rela jadi bulan-bulanan mereka. Lagian Gue yakin bukan Lo yang nyebarin berita itu..so you must fight boy!”
“Buseet darimana Lo belajar bahasa begituan. Kirain IQ Lo nggak nyampe kalo soal-soal beginian.”
“Enak aja Lo! Lo pinter aja gara-gara Gue ajarin.”
“Najis deh…oke. Mulai saat ini gue bakal survive, Gue harus bisa ngelawan mereka. Semangat! Semangat! Ganbatte kudasai!” Rizal mulai meneriakkan yel-yel pemberi semangat. “Haik, gambarimatsu! Sorak-sorak bergembira…” Sofipun menambahinya dengan lagu sorak-sorak yang nggak nguatin. Alhasil, Rizal dan Sofi menyanyikan lagu nasional ini sambil berdiri di atas kursi taman.      


Pagi ini Rizal bangun lebih pagi dari biasanya. Ia mengambil tas ransel birunya dan memasukkan beberapa buku pelajaran ke dalamnya. Hari ini semangat Rizal tumbuh lagi. Terserah apa yang bakal dilakukan Adam cs, Rizal udah siap menghadapi itu semua. Rizal memulai harinya dengan senyuman diwajahnya, seperti yang tiap hari Ia lakukan. Setelah semuanya siap Ia mencomot handuk berwarna merah yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Sesaat Rizal berpikir, apakah hari ini Adam masih ngerjain dia lagi? Kemaren aja dia bisa hidup tenang tanpa keusilan Adam cs. Tapi nggak ada salahnyakan sedia payung sebelum hujan. Ini udah jadi keputusannya kalo dia nggak bakal nyerah gitu aja.
Rizal masuk melewati pintu gerbang yang masih lengang. Mang Wito tampak masih sibuk menyapu taman sekolah yang kayaknya nggak bakalan bersih. Hanya ada satu dua orang yang seliweran melewati Rizal. Rizal tersenyum puas dan melanjutkan perjalanannya menuju ke kelas XB. Sesampainya Rizal di kelasnya, Ia membuka pintu yang masih tertutup rapat dan sesegera mungkin menjauh dari daun pintu itu. Rizal khawatir kejadian 2 hari lalu bakal terulang kembali. Tapi dewi fortuna berpihak padanya, mungkin Adam cs harus datang lebih pagi untuk nyiapin jebakan buat Rizal. Rizal duduk dengan nyaman di kursinya, suasana tenang kayak gini udah lama nggak Ia rasakan. Satu-persatu teman sekelas Rizal masuk menuju kelas No.2 itu. Dinar, Cicil, Ceri, Rahman, semuanya memandang Rizal dengan tatapan nggak biasa. Puput yang satu bangku sama Adam langsung menghampiri Rizal begitu tahu teman curhatnya itu datang lebih pagi. “Halo Brow! Whats up? Sorry kalo Gue nggak bantuin Lo.” Puput yang rada tomboy menepuk bahu Rizal sampai Rizal terbatuk-batuk. “Nggak papa, Gue ngerti kok. Lo heran ya ngeliat Gue udah berangkat?”
“Terus terang iya, biasanya Lo datengnya pas udah mau bel masuk. Lo kan yang tukang mencet belnya. Eh geser dikit dong..” Puput meyesalkan bokongnya menggusur bokong Rizal yang udah taken kontrak dari tadi. “Heeaah..Gue nggak bisa nalar ini semua. Padahalkan sebelum kedatangan Adam Gue ini cukup dihormati di sekolah ini. Tapi sekarang..”
“Keadaan berubah, padahal pas pertama-tama dia masuk Lo setia banget nemenin dia. Eh sekarang, abis pahit sepah dibuang..”
“Hah? Berarti Gue nggak ada manisnya dong?”
“Ember! Tapi untung aja Lo berangkat cepet hari ini, soalnya Gue lihat tadi Adam cs udah nungguin Lo di gerbang.”
“Menurut Lo, Gue harus gimana?”
“Menurut pengamatan Gue, Adam itu Cuma kena hasutan aja ama cecurut-cecurut sok itu. Jadi musuh Lo bukan Adam, tapi 5 anak most wanted itu.”
“Gue pikir juga kayak gitu..tapi herannya lagi, kenapa coba Adam mau banget dipengaruhi…” Belum sempat Rizal bercerita tentang nasibnya, tiba-tiba Ruci datang dan berlari menghampiri meja Rizal. “Zal, gawat! Lo harus kabur, Adam cs lagi nyariin Lo. Sebentar lagi mereka sampai di kelas ini…”
Rizal tersenyum dan mengambil tas ranselnya. “Kayaknya Gue mau main kucing-kucingan dulu deh! See you later..” Rizal mengambil langkah seribu menuju jendela belakang dan lompat ala maling profesional. Puput hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya ini yang kayaknya bangga banget deh dikejar-kejar.
Setelah jam pelajaran ke-3 usai, Rizal membenarkan celana abu-abunya dan tanpa sengaja melihat wajah tampan Adam. Adam mengawasi Rizal sembari membunyikan persendian jari tangannya, kayak orang ngajak berantem gitu. Rizal berdiri dari bangkunya dan tersenyum meremehkan Adam, “Kenapa? Tangannya keseleo? Perlu diobati?” Adam berdiri memukul meja dan memandang Rizal berapi-api, “Eh anjing, Lo masih punya nyali? Kalo Lo mau ngaku kalo Lo yang udah nyebarin ini semua, mungkin Lo nggak akan tersiksa..” Rizal berjalan mendekati Adam dan bertepuk tangan di depan wajah geram Adam. “Hebat..hebat..denger ya Dam, Gue nggak akan ngakuin kesalahan yang nggak Gue perbuat. Berapa kali Gue harus ngomong ke Lo kalo bukan Gue yang ngelakuin ini. Lo lebih milih percaya sama orang yang baru Lo kenal 15 menit daripada sama Gue yang udah 2 hari nemenin Lo.”
“Omong kosong! Gue..Gue..Gue muak ama Lo. Ini dari Gue..” Sebuah bogem mentah mencoba mendarat di wajah Rizal, namun tangan kurus Rizal menangkapnya tepat pada waktunya. “Dam..ini bukan Lo. Gue akan musnahin setan-setan pengganggu jalan pikiran Lo, demi ngedapetin Adam yang 2 hari Gue kenal.” Tiba-tiba 5 cowok bertampang kece berlari menghampiri Rizal. Namun lagi-lagi Rizal melompat melalui jendela belakang, namun kali ini dengan gaya berbeda. Ia melerusakan kaki dan menekuk kedua tangannya kedepan serta menjulurkan lidahnya, yah persislah kayak Lassie.
Rizal masih bersembunyi disemak-semak saat bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Puluhan orang sedang sibuk mencarinya termasuk Adam. Sofi yang mengetahui nasib buruk temannya ini hanya bisa gigit jari sambil terus memikirkan solusi untuk menyelamatkan Rizal. Tiba –tiba muncul ide konyol untuk ngerjain Bu Ida yang dikenal guru paling seksi dan nakal, nakal banget sih. Sofi mengambil cutter dari dalam tasnya dan berjalan mendekati guru bahasa inggris itu. Saat sang guru sedang tebar pesona dan bermain mata dengan setiap cowok keren yang lewat, Sofi membelah rok mini ibu tersebut sambil mengalihkan perhatian ibu seksi namun tak menarik ini. Alhasil, rok mini ibu ini semakin mini dan begitu mini hingga terlihat tulang paha kecilnya. Tak ayal semua mata tertuju kearahnya, herannya lagi ibu guru ini malah bangga diliatin and digodain sama anak-anak satu sekolahan. Dalam situasi heboh ini Sofi teriak-teriak mengundang semua cowok termasuk anak-anak yang lagi nyariin Rizal. Alhasil, Rizal bisa kabur dari tempat itu ketika semua cowok yang nyariin dia pada berpindah perhatian menuju Bu Ida yang kini mulai kiss bye sana-sini.
“Gila Lo Sof, nekat banget sih?” Ujar Rizal setelah Ia mendengar cerita Sofi. “Gue..eh kayaknya Lo harus ngerubah image Lo dimata anak-anak deh!” Sofi membenarkan ikatan rambutnya kemudian menyisir jari rambutnya yang panjang itu. “Edisud rahmat katolo, maksud Lo…”
“Ya maksud Gue, selama ini Lo kan dikenal sebagai anak yang disiplin and selalu berjalan lempeng dibidang akademik. Tapi Lo belon nyoba jadi cowok beken di sekolah kita.”
“Buat apa?”
“Ya elah! Buat apa! Tahu nggak, kalo Lo jadi cowok beken di sekolah bantuan bakal ngalir deres kayak air hujan.”
“Iya kalo hujan deres, kalo Cuma gerimis?” Rizal celingukan di halte menanti bus kota yang biasanya ngejemput dia pulang sekolah.
“Ihh…lucu! Secara tampang, Lo nggak ancur-ancur amat, bodypun bisa dibanggain. Akan tetapi kayaknya Lo belom nemuin style Lo deh. Lo tahu cowok beken itu bakal punya banyak temen, and temen itulah yang bisa bantuin Lo ngelawan Adam.” Sofi menggenggamkan kedua tangannya dan mengangkatnya setinggi mungkin. “Menurut Lo Gue bisa berjaya di bidang apa?”
“Pertama yang bisa kita coba and didemenin cewek adalah sport. Cowok yang berjaya di bidang sport itu paling didemenin cewek. Kalo ada cowok keren tapi letoy…sorry deh!”
“Jadi..??”
“Yups, jadi besok pagi jam 6 Lo gue tunggu dirumah Gue. Kita ke Mugas…Deal!” Rizal hanya mengangguk dan garuk-garuk nggak ngerti. Kena sindrom jenis apa sih Sofi ini, kok semangatnya menggebu-gebu banget. Cyapey dyeh…!!
Malam minggu kata orang malam yang paling indah. Tapi nggak bagi Rizal, Ia mengenang hubungannya sama Niken yang nggak genap 2 minggu. Saking sayangnya Rizal sama Niken, sampai-sampai Rizal nekat mutusin Niken demi keselamatan Niken. Harusnya malam ini Rizal bisa nge-date sama Niken, tapi itu Cuma kenangan. Rasanya Rizal pengen nelpon Niken and ngajakin dia pergi, tapi nggak mungkin Rizal ngedahuluin ego daripada akal sehat. Secara mereka berdua udah putus, jadi nggak ada ketergantungan dong. Tapi apa Niken juga memikirkan hubungannya sama Rizal ya? Atau malah…


   TING-TONG…bel rumah keluarga Niken berbunyi pelit, kayaknya baterenya abis deh. “Chaa..tolong bukain pintu!” teriak Ibu Niken dari dalam dapur. Icha yang kebetulan lagi nongkrong di ruang tamu langsung menuruti perintah ibunya itu. “Iya tunggu sebentar..” Icha melenggang menuju pintu rumahnya. Pintu terbuka dan seorang cowok putih dan tinggi tersenyum menunjukkan lesung pipit yang tersungging di kedua pipinya. Icha memandang cowok ini dari ujung rambut sampe ujung sepatu. Keren! “Ehm..Tante Siti ada?” Tanya cowok berhidung mancung itu kemudian. “Oh iya..emm..siapa ya?” Icha tersentak saking terpesonanya sama brondong mantap ini. “Saya anaknya Pak Danu.” Cowok itu menyodorkan bungkusan merah yang sedaritadi dibawanya ke arah Icha. “Oh, kamu anaknya Om Danu..ya ampun, pantes aja aku pangling. Secara kamu sekarang udah tumbuh besar dan tampan pula. Ayo masuk!” Icha menarik lengan putera Om Danu dan membawanya menuju dapur. “Ma, lihat siapa yang datang…” Icha memamerkan Adam pada ibunya dengan penuh gaya. “Icha, Mamakan udah bilang. Jangan bawa temen ke dapur! Nggak sopan tauk.” Sang Mama mengomeli Icha sambil menggerak-gerakkan sutilnya ke depan wajah Icha. “Mama..ini anaknya Om Danu. Siapa namamu?” Icha menyenggol lengan cowok itu. “A..Ad..Adam tante. Nama saya Adam!” Adam terbata-bata dan rada malu-malu. “Yaa ampun..Adam? Pantes tante pangling, kamu udah segede ini…cakep lagi. Ayo ke ruang tamu.” “Ini Tante, Mama nitipin ini…kue buatan Mama…” Adam meyodorkan bungkusan itu lagi. Tapi bukannya Tante Siti yang nerima, bungkusan itu disaut gitu aja sama Jenni yang lagi lari-lari.
Kini ruang tamu rumah Niken nggak sepi lagi, Adam disambut dengan ramah di rumah ini. Ayah Niken, ibu Niken, Icha, Joshua, dan Adam tentunya berkumpul di ruang tamu yang bisa dibilang besar itu. Beratus pertanyaan mengalir kayak air sungai dari keluarga besar itu. Adam sampe bingung mau ngejawab pertanyaan yang mana dulu. Didalam penyiksaan batin yang dialami Adam, tiba-tiba seorang cewek berkulit putih dan berambut segi sepunggung masuk melewati pitu rumah yang terbuka. Setengah shock Adam mencoba memastikan apa yang dilihatnya. Niken berjalan lemas melewati semua orang di ruang tamu yang terpaku melihatnya. “Ken!” Panggil Adam membuat Niken menghentikan langkahnya. Niken menoleh dan terdiam sesaat, Adam? Ngapain Adam ke rumah Gue? Ditengah kebisuannya, sang Mama berdiri dan langsung tertawa terbahak-bahak. “Jadi kalian sudah saling kenal? Ya ampun, memang dunia ini tidak selebar daun kelor. Ayo sini Niken, ikut ngobrol.” Ibu Niken menggenggam pergelangan tangan Niken dan langsung menggeretnya menuju kursi yang terbuat dari kayu jati. Dengan malas dan wajah muak Niken mengikuti perintah ibunya. “Kalian kenal dimana?” Tanya Icha mencairkan suasana. “Kebetulan kita satu sekolah. Walaupun beda kelas tapi…yah kita bisa saling kenal. Kebetulan! Pantes saya kok familiar sama pagar rumah tante.” Jelas Adam. Tiba-tiba sang Papa berdiri diikuti Ibu Niken ples Icha. “Kami kedalem dulu ya! Tante mau nyiapin makan malam. Kamu makan disini ya?” Ibu Niken menawari dengan penuh kehangatan. “Boleh tante.” Jawab Adam yang membuat Niken terbelalak kaget.
“Ngapain Lo kesini? Kok, keluarga Gue ramah banget sama Lo?” Niken mengangkat satu alis matanya mencoba menyelidik. “Nggak Gue sangka ternyata kita ini teman sejak kecil. Gue ini Adam anaknya Pak Danu, masa kamu nggak ingat?” Adam memajukan tubuhnya seolah ingin menarik perhatian Niken. “Nggak penting! Apa sih mau Lo? Kenapa Lo terus nyakitin Rizal? Gara-gara Lo Rizal jadi tertekan.” Bentak Niken dengan air muka marah. “Weitz, Lo nggak bisa nglupain anak Mama itu? Gara-gara dia juga Gue jadi kehilangan fans-fans fanatik Gue.” Adam menghilangkan senyum ngegemesinnya. “Eh, apa sih yang lebih penting dari sebuah persahabatan? Apa kepopuleran bisa ngegantiin kesetiaan Rizal selama ini? Lagian Lo nggak punya buktikan?”
“Gue nggak suka sama pengkhianat! Dan Rizal adalah pengkhianat. Pertama aja dia berlaku baik ke Gue, setelah itu dia nusuk Gue dari belakang. Kalo Lo jadi Gue, mungkin Lo bakal ngelakuin hal yang sama.”
“Semudah itu Lo berkesimpulan. Kalo umpamanya bukan Rizal yang ngelakuin hal itu gimana? Lo bisa bilang apa?”
“Sekali Rizal tetep Rizal, Gue nggak bisa salah.”
“Emang Lo dewa! Gue muak sama Lo, liat aja Gue bakal buktiin kalo Rizal nggak salah. Gara-gara Lo dia mutusin Gue!! Puas??” Niken berlari menjauhi ruang tamu dengan berlinangan air mata. Semua matapun tertuju pada Niken dan Adam secara bergantian. Adam shock dengan jeritan kemarahan Niken, apa akibat dari perbuatannya bisa sebesar ini.

No comments:

Post a Comment